Hijrah Kedua


Andai waktu bisa berputar kembali…. Aku betul-betul kangen masa itu. Ini adalah masa hijrah yang kedua. Yang pertama tentu adalah tahun lalu, saat aku meninggalkan kampong halaman dan hijrah ke ibukota. Tidak ada hal yang dikhawatirkan meski sebelumnya aku selalu tidak pernah bermimpi menjejakkan kaki ke sana dalam jangka waktu yang lama.
Tapi, justru di ibukota itu, aku merasa seperti di kampong halaman. Awal mulanya mungkin memang frustasi dan sedikit pusing, karena tiap weekend bingung mau apa, sedikit-sedikit pergi ke kota sebelah, ke Bandung, dan juga kadang nonton tivi seharian di rumah. Tapi, seiring berjalannya waktu, tentu dengan bantuan internet aku menemukan tempat-tempat yang layak dikunjungi, juga bergabung ke komunitas-komunitas. Di situlah mulai menemukan kehangatan, surga, dan juga teman-teman. Singkatnya, di ibukota aku merasa menemukan kampong halamanku, di mana ada teman, saudara, dan kegiatan-kegiatan rutin yang kuikuti. Jarang sekali aku pulang ke kampong halaman, karena saking betahnya berada di ibukota.
Sampai suatu hari, aku harus meninggalkan ibukota tercinta. Di saat itu, entah perasaan berkecamuk di dalam dada. Ah, kenapa aku harus meninggalkan kota ini. Ingin sekali rasanya menjelajah kota ini lebih puas lagi. Sampai-sampai rasanya ingin pindah kerjaan saja supaya bisa tetap di kota itu. Tapi, hidup harus memilih. Ya, dan aku pun rasanya harus galau lagi untuk keluar dengan membayar denda sekian juta, lalu mencari pekerjaan lagi. Ahhhhhhh… menuliskan ini sungguh membuat hatiku tercabik-cabik karena kangen ibukota.
Kotanya. Suasana kehangatannya. Orang-orangnya.
Bisa dibilang di kota itu, semua orang dari seluruh Indonesia tumpah jadi satu. Jadi rasa kekeluargaan kami erat. Kami dekat, saling membantu, saling menolong, walau di sisi lain, memang untuk beberapa hal saling cuek dan tidak peduli. Yah begitulah sekelumit kehidupan ibukota. Kami akan saling menolong dalam hal tertentu, dan kami pun akan saling cuek dengan kehidupan pribadi masing-masing.
Hari menjelang aku meninggalkan ibukota, betul-betul aku merasa hampa. Aku tidak kunjung mengepak barangku. Biarkan berantakan tak keruan. Hatiku belum siap meninggalkan kota itu. Kalau bisa mundur, pasti aku mundur. Ah,,,, bagaimana ini.
Masih banyak impianku yang belum tercapai, kalau aku mundur di sini apakah itu pilihan terbaik? Entahlah. Aku sangat kangen ibukota.
Kisah yang manis, pahit, dan juga kisah cinta yang belum sempat dimulai.
Dulu, sempat terbersit di pikiran, ah apakah jalanku ke ibukota akan bertemu jodoh? Tapi mungkin bukan, mungkin juga belum. Entahlah. Aku pun telah telanjur meninggalkan ibukota.
Dulu, ingin rasanya menginjakkan kaki ke semua penjuru negeri. Menginjakkan kaki ke pulau-pulau di Indonesia, menetap untuk tidak sekedar travelling, tapi juga merasakan hidup dan nafas di tempat-tempat itu. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk kesibukan ibukota. Tempat yang jauh dan damai, tenang, aman, sepi.
Dan kini…. Sekarang aku tinggal di tempat seperti itu, sepi, orang sedikit, ya walau orang-orangnya baik-baik, tapi tidak ada apa-apa juga di sini. Keadaan yang berbeda, hawa yang berbeda. Dingin dan menusuk.
Mencoba mencari celah kehangatan, di mana ad ataman-taman surga, dan teman-teman sholeh sholehah. Sungguh indahnya. Ya Allah.
Berikanlah aku ganti yang lebih baik.
Di sini,aku seperti belajar ikhlas. Belajar sabar. Menerima semua dengan hati penuh syukur. Menerima takdir ini dengan penuh keikhlasan, menerima dengan tanpa mengeluh.
Keadaan di kantor, ya kalau mau dibilang, teman-temannya cakep-cakep. Tapi lalu apa? Sudah kan begitu saja. Tidak ada apa-apa. Yang aku butuhkan adalah teman-teman yang bisa menjadi sahabat di perantauan, bukan teman yang tidak mau dimintai bantuan, bukan teman yang egois, bukan teman yang cuek, bukan teman yang hura-hura saja.

Awal-awal datang ke daerah baru, tentu saja shocked… Shock dengan keadaanku sendiri lebih tepatnya. Karena jetlag mungkin, jadi sakit-sakitan. Kemudian, pindah tempat tinggal, menyesuaikan diri lagi dengan keadaan kosan, dan kosan campur.

Tapi, alhamdulillah seiring berjalannya waktu bisa menikmati kosan ini, dengan teman tetangga kos yang baik, Dan menikmati hari-hari yang nano-nano bersama teman kosan. Haha..

Alhamdulillah.

Kunci semua itu adalah sabar dan ikhlas, dan harus selalu selalu, dilatih terus.

Menjawab Surat Terbuka Komunitas CONQ #LGBT


Iwan Yuliyanto

Bismillah …

Di bulan Agustus ini, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan adanya 2 komik edukasi anak berjudul “Why? – Puberty” dan “My Wondering Body” terbitan Elex Media Komputindo, yang dinilai bisa merusak keyakinan beragama dan budaya bangsa kita, karena secara provokatif dan terang-terangan menyebarkan propaganda LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Visualisasinya secara vulgar menyampaikan pesan: [1] mengajarkan bahwa sesama jenis juga bisa saling mencintai; [2] ajakan untuk menjadi homoseksual; [3] visual lesbian berciuman; [4] visual ajakan melakukan maksiat (disertai ekspresi tubuh). *klik link tersebut untuk melihat visualisasinya*

Lihat pos aslinya 3.183 kata lagi

Tempat Yang Ditakdirkan


Tahun lalu, aku mencari pekerjaan baru, dan entahlah pengumuman itu tiba dan yang tercepat yang saya ambil, layaknya oportunis sejati. Yah biarlah. Saya sebagai perempuan memang pengennya mandiri, walaupun ketika menikah tidak wajib kerja, tapi ketika belum menikah, maka saya wajib menghidupi diri sendiri. Baiklah. Maka, demikianlah saya hijrah ke kota besar, kota yang dulu saya benci, kota yang saya tidak pernah mau lama-lama sampai lebih dari seminggu, tapi akhirnya saya harus bermukim di sini. Kota sejuta impian, di mana apa saja ada. Dan, di sini lah saya.

Baca lebih lanjut