Hijrah Kedua


Andai waktu bisa berputar kembali…. Aku betul-betul kangen masa itu. Ini adalah masa hijrah yang kedua. Yang pertama tentu adalah tahun lalu, saat aku meninggalkan kampong halaman dan hijrah ke ibukota. Tidak ada hal yang dikhawatirkan meski sebelumnya aku selalu tidak pernah bermimpi menjejakkan kaki ke sana dalam jangka waktu yang lama.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tempat Yang Ditakdirkan


Tahun lalu, aku mencari pekerjaan baru, dan entahlah pengumuman itu tiba dan yang tercepat yang saya ambil, layaknya oportunis sejati. Yah biarlah. Saya sebagai perempuan memang pengennya mandiri, walaupun ketika menikah tidak wajib kerja, tapi ketika belum menikah, maka saya wajib menghidupi diri sendiri. Baiklah. Maka, demikianlah saya hijrah ke kota besar, kota yang dulu saya benci, kota yang saya tidak pernah mau lama-lama sampai lebih dari seminggu, tapi akhirnya saya harus bermukim di sini. Kota sejuta impian, di mana apa saja ada. Dan, di sini lah saya.

Baca lebih lanjut

Protektif


Saya sebenarnya selalu heran, dengan teman-teman saya yang ternyata banyak sekali pantangan dan larangan oleh orangtuanya. Heran saya seribu heran. Apa mungkin karena orang tua saya saja yang terlalu bebas? Ya, orangtua saya memang membebaskan apapun yang saya lakukan, oleh karena itu mungkin saya yang jadi agak terheran-heran melihat beberapa orang teman yang terlalu ‘dilindungi’ oleh orangtuanya.
Baca lebih lanjut

Tips memilih….?


Ehem, sebelumnya mungkin biarkan aku tertawa geli sejenak.. Begini, beberapa waktu lalu ada seorang temanku yang menulis di blognya mengenai tips memilih pasangan hidup (karena temanku laki-laki, maka dia sepemahamanku, sih, judulnya jadi , “tips memilih istri”). Ya judulnya sih tips memilih pasangan hidup baik istri maupun suami. Tapi… tetep aja kok lebih mengarahnya ke ‘istri’. Kenapa? Karena Baca lebih lanjut