Mengapa Jodoh Belum Bertemu?


Yang namanya jodoh, tidak hanya dalam urusan berumah tangga. Kita papasan di jalan dengan orang itu namanya jodoh. Kita ketemu lagi di suatu tempat dengan teman semasa dulu, itu juga jodoh. Kita satu tempat kerja dengan orang yang pernah kita kenal, itu juga jodoh. Tinggal berapa lama kita akan berjodoh? Dengan teman kuliah, kita berjodoh mungkin selama 4 tahun kuliah bersama, tapi tempat kerja? Mungkin sudah tidak berjodoh lagi dengan teman yang itu. Di tempat kerja, mungkin kita berjodoh bertemu dengan rekan kerja yang baik, tapi seberapa lama, jodohnya hanya berapa waktu? Kita tidak tahu. Bahkan orang menikah, pun, bisa jadi berjodoh sampai dipisahkan maut, atau bisa jadi berjodoh pun hanya beberapa waktu, lalu tidak berjodoh lagi, lalu bisa jadi ganti jodoh. Contoh gampangnya, ya bisa jadi orang menikah, lalu cerai, lalu nikah dengan orang lain, lalu bisa jadi sama yang dulu rujuk lagi. Jodoh siapa yang tahu?

Sama halnya seperti kematian. Siapa yang tahu? Kakak teman, temannya teman, atau bahkan saudara teman, ada yang meninggal usia 26, 27, 28, ada yang meninggal dalam keadaan masih lajang, ada yang dalam keadaan sudah punya ada anak, ada yang meninggal dalam usia masih setahun pernikahan. Bahkan teman pun ada yang meninggal tak berapa lama setelah lulus kuliah, atau bahkan ketika masih di sekolah. Maka dari itu, rasanya tidak etis jika banyak yang bertanya menuntut menikah cepat-cepat. Seolah menikah itu akhir perjalanan kehidupan, dan isinya hanya indah-indah saja. Padahal, setelah menikah kan hidup terus berjalan, sesuai sunatullah, ada naik, turun, ada sakit, sehat, ada lapang dan sempit, dll. Bukan berarti nikah itu tujuan, lalu akhir perjalanan.

Saya sendiri pun telah melihat, banyak bahkan beberapa orang melajang hingga usia 40. Entah karena memang tidak diberi jodoh di dunia, ataukah alasan lain? Kita tak berhak menghakimi, bukan? Ada pula yang di usia itu masih menginginkan menikah, tapi belum bertemu dengan jodoh? Ada wanita, yang sampai usia 50 juga melajang, mencintai seorang lelaki tapi tidak direstui, sehingga ketika akan dipertemukan orang lain, selalu menolak. Ada pula, yang mencintai beda agama, lalu tidak diizinkan menikah dengan pasangannya, sampai akhirnya melajang. Dan hal-hal seperti ini belum tentu yang tidak cantik atau tidak ganteng yang masih melajang. Ada pria yang sering dikejar banyak wanita, tapi toh ia tetap tak tertarik. Entah apa alasannya. Begitu pula wanita, ada yang dikejar banyak pria, sampai santet segala macam, tapi semua ilmu gaib itu mental dan ia tetap melajang.

Saya tak hendak menggurui, ini adalah hasil perenungan saya selama beberapa waktu, yang belum sempat saya tuliskan. Ini adalah hasil diskusi, perenungan yang mendalam, pemikiran, dan pengamatan. Mengapa jodoh (untuk menikah yah) belum kunjung tiba?

1. Tidak siap nikah, baru kepengen nikah.

Alasan pertama ini simpel, karena masih membayangkan nikah itu enak, selalu berdua kemana-mana, ada temen, tidak kesepian. Ini berarti belum memikirkan konsekuensi menikah. Menikah itu tidak melulu enak, ada perbedaan pikiran, cara pandang, bicara, sikap antara dua orang yang berbeda, pasti akan ada konflik, dan tidak semuanya melulu romantis, lempeng-lempeng, seolah pernikahan adalah ending dari cerita sebuah drama. Jika masih sekedar pengen dan belum tahu konsekuensi besar di balik pernikahan, sebaiknya belajar dulu, perdalami ilmu. Mungkin karena belum siap itulah maka Allah belum mempercayakan pasangan.

2. Memilih standar yang tinggi.

Orang dalam memilih pasangan tentu yang terbaik. Tapi, kebanyakan orang menginginkan yang benar-benar sempurna. Ketahuilah bahwa jika meninginkan yang sempurna tidak akan pernah ada. Selalu ada kekurangan setiap orang. Jika ingin memilih, prioritaskan agama, mengenai fisik,keturunan, harta, itu adalah bonus. Beberapa orang, menginginkan orang yang berfisik rupawan, dengan agama yang baik dan mumpuni, serta sikap dan tingkah laku baik, pergaulan dan keturunan orang baik-baik, dan juga harta melimpah. Standar dunia itu tidak membuat kita bahagia setelah pernikahan, karena yang kita nikahi adalah ruhnya, yang mana karakter orang tersebut. Kita berinteraksi, dan membangun rumah tangga bukan dengan fisiknya, hartanya, atau leluhurnya yang terhormat, tapi dengan apa yang ada di dalam diri orang tersebut. Saya pun dulu juga menilai dengan tinggi, maunya yang serba sempurna. Tapi saya pun sadar, bahwa itu berarti menandakan saya belum siap nikah, saya tidak siap menerima kekurangan seseorang jika saya menginginkan orang yang sempurna. Yang artinya belum dewasa. Jika ingin memilih standar, standarkan pada agamanya, misalnya pada sholatnya yang tepat waktu, atau pada tilawahnya, atau hapalan Al Quran, atau pengetahuan ilmu agamanya.

3. Pasrah kepada Allah.

Kita tidak tahu akan ditakdirkan lahir di mana, oleh siapa, dan keluarga macam apa. Sama juga kita tidak tahu ditakdirkan dengan jodoh seperti apa. Pernah membaca, bahwa jika ingin jodoh yang baik, maka harus perbaiki diri. Benar, secara logika. Tapi, bukankah jodoh di tangan Allah? Yang kita anggap baik, belum tentu baik, bukan? Jika kita berusaha memperbaiki diri, menjadi orang baik-baik, ternyata diberi jodoh yang menurut kita tidak baik, bukankah itu menurut pandangan manusia yang terbatas? Bisa jadi dia memang orang terbaik menurut versi Allah. Kadangkala manusia, belum-belum menolak, padahal belum tahu. Sebagai contohnya adalah sebuah kisah, seorang wanita menolak mentah-mentah seorang pria miskin, dan memilih yang kaya. Padahal belum tentu kan yang miskin itu lebih buruk? Bisa jadi keimanannnya lebih tinggi? Nah, kadangkala ketakutan-ketakutan seperti ini menyebabkan hati belum ikhlas menerima takdir jodoh yang datang kepada manusia. Misalnya pernah dendam dengan seseorang, lalu menjadi anti dan takut jika Allah menjodohkan dengannya. Padahal, semestinya pasrah saja, Allah tahu yang terbaik buat kita.

4. Dosa menjadi Penghalang.

Jika kita pernah membuat dosa di masa lalu, bisa jadi itu adalah penghalang, bagi rezeki kita, termasuk jodoh. Bertaubat kepada Allah menjadi jalan yang terbaik. Bisa jadi ada dosa-dosa kepada sesama manusia, dan juga maksiat kepada Allah membuat Allah menahan rezeki, termasuk jodoh.

5. Bersabarlah, dan jangan maksiat.

Ketika keinginan menikah sudah membuncah, dan ternyata jodoh belum tiba, ada kalanya setan menggoda, dengan perasaan kadang ingin menyerempet maksiat, contoh pacaran, atau misalnya bergenit ria dengan lawan jenis, jalan-jalan berduaan, dan aktivitas sejenisnya. Janganlah mencoba-coba hal seperti ini,karena meskipun nanti jadi menikah, bukankah bisa jadi pernikahannya nanti tidak barokah, karena dilalui dengan cara yang dibenci oleh Allah? Pernikahan tidak barokah, bisa jadi misalnya suami istri saling merasa tidak nyaman, atau anak jadi nakal, atau sulit punya anak, atau malah menjauh dari Allah. Jika tidak ingin maksiat, carilah jodoh dengan cara yang dirihoi, tidak dengan berduaan, tidak dengan komunikasi mesra dua orang lawan jenis, intinya jangan mendekati zina. Karena zina ada zina mata, hati, pendengaran, dan semua itu akan dibenarkan dengan zina kemaluan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Berusaha menjadi hamba yang baik.

Menjadi hamba Allah yang taat dan taqwa tidak hanya dalam rangka menikah, tapi betul-betul niat untuk jadi orang yang lebih baik lagi. Mempersiapkan diri terbaik, supaya bisa membangun rumah tangga yang baik. Belajar ilmu tentang rumah tangga, dan juga tentang anak, juga ilmu-ilmu agama, semacam fiqih, hadist, dan Al Quran. Karena ilmu apa pun itu berguna nanti setelah menikah. Sebagai contoh, jika ada keluarga yang meninggal, lalu bagaimana langkah pertamanya, memandikannya bagaimana, mengkafankannya, mensholatinya? Atau jika malam pertama, sholat sunnahnya bagaimana, lalu mandi besar bagaimana, lalu tata cara menggauli pasangan sesuai syari’at Islam bagaimana, apa yang boleh dan tidak, lalu bagaimana mendidik anak, pola asuh anak sesuai usianya, apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak, dan sebagainya, termasuk hidup bertetangga, dan juga adab-adab dengan mertua, ipar, dan keluarga besar. Banyak, kan?

7. Memiliki visi misi hidup yang jelas.

Hidup mau apa, jadi apa, tinggal di mana, dan lainnya ini perlu dipikirkan. Apakah mau kerja yang berpindah-pindah,atau menetap? Apa mau kerja yang benar-benar menjadi ahli atau praktisi? Ataukah mau kerja atau mau sekolah tinggi-tinggi dulu? Bukannya apa-apa, tapi jika masih bingung mau dibawa ke mana hidupnya, lalu nanti bagaimana setelah menikah? Apakah menikah sekedar punya anak, lalu supaya anak itu sukses? Sukses dalam ukuran apa? Bisa jadi Allah masih menahan jodoh kita karena kita sendiri masih bingung dengan diri sendiri. Jika masih bermasalah dengan diri sendiri, bagaimana malah dikasih jodoh, apa bukan tambah masalah? Misalnya masih bingung antara mau kuliah dan mau kerja, jika dikasih jodoh, lalu pasangannya mau kuliah, bagaimana, apa terpaksa kerja untuk menghidupi keluarga ataukah ikutan kuliah juga? Nah lho…. Pikirkan visi misi hidup pribadi dulu, termasuk visi misi berumah tangga.

Mungkin ini dulu, kalau ada yang inget lagi, mungkiin nanti akan ditambahkan lain waktu. Lha saya yang nulis aja belum bertemu jodoh… dan itu semua yang saya tuliskan adalah yang berusaha saya lakukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s