Perjuangan: Masih Tentang Kontempelasi (2)


Masih tentang TnT 7 Gorontalo bersama Komunitas 1000 Guru Gorontalo, memang kalau kita ada kesibukan, kalau ada tantangan depan mata, segalanya akan terlupakan. Galau? Coba, deh,  menempuh perjalanan Kota Gorontalo-Marisa-Taluditi-Desa Panca Karsa I-Dusun Sandalan. Pasti yang dikangenin cuma kasur, tidur, dan pulang! Lah! Belum nyampe udah kangen kasur di rumah. Nangis? Ya nggak mungkin lah segitu doank masa nangis? Bertahanlah! 

Perjalanan menuju dusun Sandalan betul-betul penuh perjuangan. Setelah badan tidak bisa istirahat selama perjalanan, sampai di kantor desa Panca Karsa I, kami pun turun dari truk Basarnas dan tidur di ruang-ruang di dalam kantor desa. Keadaan sana sangat amat gelap karena kami tiba dini hari pukul 02.00 WITA.

Dengan segala keterbatasan kantor desa, dengan kamar mandi yang.. sampai teman-teman amazed, dan ogah-ogahan ke kamar mandi bahkan pada cuma pakai tisu basah. Dan karena aku ini pengalaman pertama kali, aku sama sekali tidak bawa tisu basah, malah cuma tisu kering, itu pun tinggal sedikit. Yah sudahlah terima aja seperti apapun, akhirnya tetap aja ke kamar mandi kan, kamar mandi masjid tapi. Masjid sebelah kantor desa.

Tapi yang paling wow adalah ada wifinya lho di kantor desa Panca Karsa I. Sempet heran lho, kok bisa-bisanya ada wifi, padahal jaringan internet provider paling support di pelosok negeri (Telkomsel) aja sinyalnya menyedihkan. Ternyata setelah ditanyakan ke kepala desa, yang dipanggil ayahanda, memang pemasangan internet dan juga termasuk wifi adalah program Kementerian Kominfo. Bahwa ada tiga desa yang dipasang internet di balai desa di Gorontalo ini dan hanya satu yaitu desa Panca Karsa di Pohuwato. Katanya sih untuk memantau keadaan langsung di desa tersebut.

Langsung donk, update status, mumpung ada sinyal. Sebelum benar-benar tidak ada sinyal nanti di dusun Sandalan. Baiklah update status udah, cuci kaki, sikat gigi, udah. Tidur! Karena besok paginya harus banget pagi-pagi berjalan karena dusun tujuan itu jauh, sekitar 1,5 jam jalan kaki.

Sempet senang karena pagi-pagi truk Basarnas sudah di depan kantor desa, dan itu artinya naik kendaraan menuju dusun Sandalan. Tapi ternyata tidak demikian, karena bus hanya berjalan 15 menit selanjutnya harus berjalan kaki. Nah, truk Basarnas berhenti tepat di depan jembatan ini. DSC03138.JPG

Kebayang kan, nggak mungkin truk bisa naik jembatan ini. Tapi sesungguhnya ada lho jalan memutar lainnya yang truk bisa lewat. Karena daerah sana adalah daerah tambang, jadi banyak truk tambang pasir dan batu lalu lalang. Bulan lalu sempat ada truk terjungkir (truk atau exavator ya?) dan jatuh ke jurang, sampai  sopirnya perutnya terburai. Ngeri… DSC03227

Beginilah keadaan jalannya. Menanjak, berliku, dan becek tentu saja, karena waktu kedatangan kami ke sana gerimis rintik-rintik mengundang. Dengan muka pucat kelelahan dan amat sangat, hingga sampailah tim TNT 7 Gorontalo ke balai dusun Sandalan. Di sana sudah banyak sekali anak-anak dan orangtua yang menunggu kedatangan kami. Wah, speechless, ternyata kedatangan kami segitu dinantikannya. Dengan muka pucat, berpeluh, dan berkeringat, akhirnya kami duduk dulu, minum air, sebelum melaksanakan upacara 17an.

Upacara 17an yang dilaksanakan pada tanggal 20an Agustus memang agaknya tidak nyambung, tapi di dusun ini, anak-anaknya kelas jauh semua, sehingga belum pernah sekalipun ada upacara.

Gimana sih rasanya di tempat terpencil, belum pernah upacara, sampai akhirnya upacara pas kedatangan kakak-kakak dari berbagai penjuru Indonesia? Syahdu, gimana gitu. FYI aja untuk peserta relawan TNT 7 ini, ada 3 orang terbang jauh-jauh dari Jakarta dan 2 orang dari Bali. Salut sama orang yang nggak cuma berkorban harta, tapi juga tenaga dan waktu. Itu sungguh-sungguh amat berharga. Penduduk desa adalah ibarat orang-orang yang terisolasi, bisa dihitung jari berapa kali mereka turun ke bukit menuju pusat desa, apalagi menuju pusat kota Kabupaten Pohuwato di Marisa, apalagi menuju pusat provinsi Gorontalo di Kota Gorontalo. Mungkin mereka belum pada pernah, ketemu manusia di luar desa mereka pun mungkin hanya beberapa yang pernah. Jadi, kebayang kan betapa senangnya mereka?

Setelah upacara, baru deh kita akan mengajar anak-anak yang sudah menunggu dari tadi….

 

(bersambung)

One thought on “Perjuangan: Masih Tentang Kontempelasi (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s