Mengajar yang Tak Sekedar Mengajar (3)


Mengajar, bagi sebagian orang, barangkali yang memang bukan profesinya mengajar, mungkin akan sangat sulit, ya. Terlebih lagi kalau mengajar saja butuh perjuangan menuju tempat muridnya berada. Belum lagi kalau ada perbedaan bahasa, perbedaan budaya.

Sekarang, jadi tahu kan gimana perasaan anak-anak itu kalau belajar saja harus dibikinkan kelas jauh di dusun mereka, belum lagi kalau ulangan, ujian kenaikan kelas, mereka harus turun dari bukit menuju SD induknya? Ternyata perjuangan mereka seperti itu, bagi kami yang hidup di kota serba berkecukupan, maka melihat keadaan seperti ini menjadi membuka mata, bahwa untuk menuntut ilmu tak semudah itu.

Dikarenakan lokasi TNT 7 Gorontalo ini adalah dusun baru, dusun yang mungkin baru berusia sekitar 8-9 bulan, karena kedatangan para transmigran pada sekitar akhir tahun 2016 datang ke dusun tersebut setelah terombang-ambing di lautan lepas sebelumnya, maka kebanyakan anak-anak adalah anak kecil. Paling banyak usia pra TK dan TK.

Setelah tim TNT 7 Gorontalo (tim 1000 Guru Gorontalo dan relawan) tiba di desa, lalu upacara, tidak serta merta langsung mengajar. Karena kelelahan yang amat sangat, maka kami pun break dulu sebentar makan siang baru lanjut lagi. Tapi sebelum sesi mengajar, anak-anak itu tampil dulu menunjukkan kebolehannya di hadapan kakak-kakak. Ternyata mereka sudah lama berlatih tari, dan pertjunjukan lainnya untuk ditampilkan. Karena waktu yang amat terbatas, maka tidak semuanya bisa tampil. Akibatnya ada aja anak-anak yang kecewa karena tidak dapat kesempatan. Ya sudahlah… Maaf ya adik-adik…

Ini adalah beberapa foto penampilan mereka. Anak laki-laki itu pura-puranya bawa pedang dan tameng, kurang paham juga tarian apa, semacam tarian perang dari suku Sasak (Lombok) karena mayoritas transmigran dari Pulau Lombok. Sedangkan anak perempuan di situ dia sedang menari, dan lagunya banyak banget dari lagu daerah, mungkin lagu daerah suku Sasak?

Bayangkan orang yang sehari-harinya berkutat dengan orang dewasa, dan terakhir mengajar pun waktu KKN semasa kuliah, tiba-tiba dapat jatah anak-anak TK. Anak TK saking banyaknya sampai dibagi menjadi 2 grup. Grupku terdiri dari 4 orang, mengajar 7 orang anak TK.

Mengajar anak TK? Ngapain sih? Kayaknya seru gitu ngajar anak TK cuma nyanyi-nyanyi, tepuk tangan. Iya memang betul seperti itu kok. Tapi kalau mengajarnya sendirian mungkin krik-krik juga. Untung alhamdulillah ada teman-teman satu tim relawan yang membawa alat peraga tentang transportasi. Sesederhana transportasi, anak-anak banyak lho yang belum pernah melihat.

Selain itu, juga ada kegiatan prakarya, mewarnai, juga mengisi pohon impian. Kegiatan prakarya yang disediakan oleh tim kelompok kami adalah membuat kalung sederhana dari sedotan. Alhamdulillah anak-anak excited sekali dan mereka pakai donk kalung-kalungan itu sampai acara selesai. Hahaha.

Mewarnai juga adalah kegiatan yang membutuhkan konsentrasi dan kreativitas. Anak-anak ada gitu yang mewarnainya sampai mikir lama banget. Ada yang mewarnainya sesukanya, muka biru lah, atau apa saja. Ada juga yang mewarnai pelan-pelan, betul-betul memikirkan warna apa yang terbaik. Wah-wah sampai kakak-kakak pengajarnya nggak sabar nungguin mereka selesai.

Kegiatan mengisi pohon impian juga menarik, karena aku dan teman-teman sebagai relawan harus menggali apa keinginan mereka, apa cita-cita mereka, kalau besar mau jadi apa. Sungguh lucu-lucu impian mereka, sebab apapun yang mereka katakan itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada yang impiannya pengen jual es teh, pengen jadi supir truk, pengen jadi supir travel, pengen jual sepatu. Karena itulah yang mereka lihat sehari-hari di sekitar mereka. Tapi, haruslah diarahkan, bahwa berjualan tidak sekedar jualan di depan rumah. Aku bilang, kalau jualan es teh harus semua orang minum es teh adek, kalau jualan sepatu, harus semua orang nanti pakai sepatu buatan adek. Selain itu, kadang cita-cita itu sekedar ikut-ikutan, pengen jadi dokter, polisi, tentara, bidan, guru. Sebagai pengajar, harus menanyai mereka, kenapa pengen jadi itu, itu pekerjaannya apa, ngapain, di mana, jadi mereka akan terbuka pikirannya, bahwa pekerjaan itu nanti begini dan begitu, nggak asal ikut-ikutan saja.

Setelah sesi brainstorming tentang cita-cita, maka saatnya anak-anak menempel daun cita-cita itu di pohon impian yang telah ditempel. Karena tadi membicarakan tentang alat transportasi, maka jalan menuju dinding depan aula balai dusun pun kami main kereta-keretaan.

_MG_0121.JPG

Lucu ya melihat ekspresi anak-anak itu main kereta-keretaan. Ada juga lho yang masih ingat Jawa di mana (untuk transmigran yang berasal dari Jawa) dan anak itu bermimpi bisa ke sana lagi…

Masih ada satu bagian lagi yang ingin aku tuliskan, tentang setelah sesi mengajar, tentang keseruan lainnya, tentang penduduk desa….

 

(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s