Mengelola Perasaan Cinta


Rasanya, perasan cinta itu tumbuh begitu saja. Tapi sesunguhnya tidak demikian. Perasaan itu ada kalanya ada dari ketertarikan yang bersifat kelihatan. Misalnya fisik, entah seseorang cantik atau ganteng atau tinggi atau mungil atau imut atau gagah, itulah selera orang yang kita sukai. Seiring berjalannya waktu, semakin kita mengenal orang yang kita anggap menarik itu, maka kita akan semakin tertarik dan semakin mengagumi, semakin menginginkan dan begitulah perasaan akan jatuh semakin dalam, semakin rela berkorban, semakin rela memberi ini-itu, semakin takut kehilangan, semakin takut kalau dia tidak ada, dan lainnya. Itulah kenapa orang tua bilang witing tresno jalaran seko kulina, orang mencintai karena terbiasa. Iya, terbiasa melihat, terbiasa berinteraksi, maka perasaan itu akan tumbuh.

Hal-hal semacam itu terkadang tidak bisa kita kontrol. Tapi, sesunguhnya hal itu bisa-bisa saja. Sebagai contoh, ketertarikan yang ada, adalah awal, tapi selanjutnya? Mungkin kita melihat orang yang kita kagumi, cara bicaranya, caranya berinteraksi, pilihan hidup, ataupun sikap hidupnya, bagaimana ia bereaksi, tidak semuanya kita sukai, tidak semuanya cocok, dan ada hal-hal yang membuat hilang feeling.

Sebagai contoh, kita tertarik dengan fisiknya. Lalu kita tahu pekerjaannya. Dari pekerjaannya, kita bisa memutuskan untuk tetap lanjutkan untuk menyukai atau stop. Contoh pekerjaan yang membuat sebagai istrinya harus ikut ke manapun dia pergi dengan penuh segala resikonya. Mau hidup seperti itu? Sebelum jatuh ke perasaan yang lebih dalam, hal-hal semacam ini perlu dipertimbangkan.

Contoh lainnya selain pekerjaan adalah prinsip hidup. Prinsip hidup yang berbeda itu sungguh merepotkan kalau nanti kita hidup berumah tangga. Pikirkan apakah mau hidup bersama dengan orang yang berbeda prinsip? Jangan pikir prinsip itu mudah, karena hal-hal remeh temeh yang bisa diubah saja belum tentu bisa berubah. Hal remeh temeh macam apa yang bisa diubah? Contoh, irit bicara, ini bisa berubah seiring jalannya waktu. Contoh lagi, kurang sabar, ini juga bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tapi kalau prinsip? Ini termasuk kalau mau jatuh cinta sama orang yang beda agama. Lihat dari awal, apakah kira-kira akan berubah? Kalau tidak, ya lebih baik tidak usah bermain-main perasaan dengan orang yang beda agama. Kecuali memang niat pindah agama, kecuali memang kita sendiri yang niat mengubah prinsip hidup kita.

Selain prinsip hidup, ada lagi, yang membuat kita mengontrol perasaan itu. Dari fisik, apakah kita tertarik itu betul-betl dari fisiknya yang seperti itu sesuai selera kita? Ataukah memang karena hanya dia yang di depan mata, maka kita memaksakan diri untuk berusaha menyukainya? Contoh, kita suka struktur wajah yang eksotis, ketika di depan mata ada orang yang wajahnya plain, apa betul kita akan tertarik dengannya? Ataukah karena badannya yang bagus kita jadi tertarik?

Kalau kita memang berniat jatuh cinta, mencintai dia seperti itu, dan menerima apa-apa yang ada di dirinya seperti itu, silakan fokus ke hal-hal yang kita suka dari dirinya. Misal fisiknya tidak kita sukai semuanya, ya udah fokuslah di hal-hal bagian tubuhnya yang memang sesuai seleranya. Fokuslah sikap-sikap positif yang kita sukai. Kalau memang berencana tidak mencintai, silakan kontrol diri kita untuk fokus ke hal-hal yang kita tidak sukai darinya: wajahnya yang tidak sesuai selera kita, pekerjaan yang mungkin akan menghambat pengembangan diri kita, sikapnya dia yang kurang kita senangi, prinsip hidupnya yang berbeda. Dan lainnya.

Jadi, kalau kita hendak move on pun, silakan lupakan semua sikap positifnya. Fokuslah ke hal-hal yang tidak kita sukai. Karena sesungguhnya ruh itu akan bersama dengan yang sejenis. Kalau ada pribadi yang tidak cocok, tidak kita suka, ya itulah dia, itulah kita dengan dirinya: tidak terhubung, disconnected, ruh kita beda tipe. Selesai. Masih ada 7 miliar manusia di bumi yang bisa kita jadikan pilihan. Perluas pergaulan, perluas pertemanan, perluas koneksi, tingkatkan kemampuan soft skill dan hard skill, upgrade terus diri kita.

Ada seseorang yang pantas kita cintai terus menerus selamanya. Yaitu diri kita sendiri. Karena diri kita sendirilah kita akan bersamanya sampai mati. Jangan sia-siakan diri sendiri untuk orang yang tidak pernah memikirkan kita.

2 thoughts on “Mengelola Perasaan Cinta

  1. Bener banget itu cinta timbul karena terbiasa baik ketemu, komunikasi, dll. Tapi memang sih awal perasaan suka pasti dilihat dari fisik, kemudian profil, dan terakhir hati.

    • betul.. karena orang berkomunikasi pasti lihat fisiknya dulu. kalau fisik udah nggak suka pasti udah males. terus kalau profil dan hati itu biasanya ursan belakangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s