Menyelami Keindahan Bawah Laut Indonesia


Indonesia adalah termasuk top destinasi diving di dunia. Bagaimana tidak? Indonesia yang merupakan negara kepulauan, terdiri dari ribuan pulau dan atol-atol, yang, bawahnya atol-atol itu kalau di bawah laut berupa batu-batu karang yang indah. Juga, wilayah Indonesia yang luas, menjadikan beragam keanekaragaman jenis biota laut (jenis ikan dan juga jenis karang) yang beraneka ragam. Oleh karena itu tak heran jika banyak peneliti kelautan (marine scientist atau marine biologist) datang setiap tahun untuk meneliti, contohnya organisasi International Wallacea dari Inggris, yang tiap pertengahan tahun mendatangkan sekitar 200 peneliti ke Wakatobi, bahkan mereka membuat basecamp (semacam pondokan) di Pulau Hoga, Bagian dari Pulau Kaledupa, Wakatobi.

Berikut ini peta diving di Indonesia (sumber dari sini)

Dari peta tersebut tampak bahwa dari Sabang sampai Merauke banyak dive spot yang bisa diselami oleh para scuba diver.

  • Sumatera: Pulau Weh (Aceh), Sumbar, Anambas (Kepulauan Riau), Lampung
  • Jawa : Karimun Jawa (Jawa Tengah), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Pasir Putih (Situbondo, Jawa Timur)
  • Kalimantan: Derawan, Sangalaki, Maratua
  • Bali: Taman Laut Nasional Menjangan, Tulamben,
  • LTB: Kawasan Gili (Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno), Lombok Utara, Lombok Barat
  • NTT: Pulau Komodo, Maumere (Kabupaten Sikka), Alor
  • Sulawesi Selatan: Tanjung Bira, Kepulauan Selayar, Kappoposang
  • Sulawesi Tenggara: Taman laut nasional Wakatobi, Kepulauan Labengki, Buton Tengah, Buton Selatan
  • Sulawesi Tengah: Togean, Donggala,
  • Sulawesi Utara: Malalayang, Lembeh (Minahasa Utara), Taman Laut Nasional Bunaken, Sangihe (Minahasa Utara)
  • Gorontalo
  • Maluku Utara: Morotai, Ternate
  • Maluku: Banda, Halmahera Utara, Halmahera Selatan
  • Papua: Raja Ampat

Dengan kekayaan laut dan keindahan terumbu karang, serta bervariasinya ikan, menjadikan Indonesia menjadi tujuan wisata favorit bawah laut. Selain itu, industri pariwisata adalah industri yang jika digarap dengan serius, memiliki multipier effect yang signifikan terhadap masyarakat sekitar. Mengapa? Sebab, wisatawan butuh makan, butuh tempat tinggal, juga beli suvenir, beli oleh-oleh, memberikan tip kepada pelayan, dan lainnya.

Kita bisa melihat bahwa negara-negara lain yang menjual pariwisatanya memiliki branding yang kuat. Contohnya negara Italia sebagai destinasi wisata kuliner Eropa, Perancis sebagai destinasi fashion dunia, Jepang yang terkenal akan J-pop culture nya berupa drama, manga, dan anime, kemudian Korea dengan K-pop dan K-dramanya. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Berikut ini paparan Bu Menteri Mari Elka Pangestu dalam kongres ISEI XVIII di Gorontalo, dengan judul Pengembangan Pariwisata: Peran &Strategi Pengembangan:

paparan-bu-mari-elka-visi-parisiwasa

paparan-bu-mari-portofolio-strategi-pariwisawta

Dari paparan dua slide power point di atas, bahwa Indonesia mencanangkan akan terus meningkatkan pemasukan dari sektor pariwisata. Selain itu, berdasarkan portofolio produk, Indonesia memiliki porsi wisata alam sebesar 35% yang 35% berupa wisata bahari.

Dibandingkan negara-negara tetangga (ASEAN), peringkat Indonesia dalam hal pariwisata masih kalah… (Sumber : paparan Menteri Parekraf Mari Elka Pangestu dalam kongres ISEI XVIII di Gorontalo)indeks-daya-saing-pariwisata-indonesia

Indonesia adalah negara bahari, yang kekayaan alam bawah lautnya tidak kalah indah dengan daratannya. Mengapa tidak menjadikan wisata bawah laut sebagai wisata utama di Indonesia? Kita bisa melihat negara lain seperti Maldives dan juga Republik Palau yang menjadikan wisata laut sebagai andalan perekonomian negaranya. Juga, wisata bawah laut memiliki efek domino dengan wisata kuliner dan juga wisata budaya. Para penyelam yang berwisata baik dengan metode LOB (Live on board) maupun landbase pasti tidak melulu menyelam, tapi juga melihat adat setempat misalnya jika sedang ada atraksi tari adat, mencicipi kuliner lokal, serta membeli suvenir daerah (semisal kain khas atau kerajinan khas), juga berkunjung ke tempat-tempat wisata budaya di sela-sela kegiatan penyelaman.

Akan tetapi sayangnya masih banyak hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah, para diver, dan juga orang-orang yang bergerak di industri ini.

  1. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam merawat ekosistem laut, misalnya masih banyak nelayan yang masih menangkap ikan dengan peralatan yang dilarang, semisal racun, bius (potas), dan bom (pukat harimau). Juga masih banyak masyarakat menangkap ikan-ikan yang dilarang, semisal memburu hiu dan ikan napoleon. Serta masih banyaknya sampah-sampah plasik di laut, sehingga mengurangi kenyamanan dan mengganggu ekosistem karena lama terurai. Selama saya diving di Gorontalo, amat sangat sering dalam periode satu kali menyelam yang hanya 1 jam itu mendengar sampai dua kali ledakan bom. Selain itu saat saya pergi ke Wakatobi, akhir Mei 2016 kemarin, setelah saya kembali ke Gorontalo, tidak berapa lama dive guide saya di Pulau Hoga memberi kabar kepada saya, bahwa ketika dia menemani tamu penyelam, banyak ikan mati di terdampar di antara karang-karang. Aduh, sedih sekali rasanya. Tempat yang notabene Taman Laut Nasional itu saja pengawasannya masih kurang, juga nelayannya belum punya pemikiran jangka panjang akan ekosistem laut tempat dia mencari kehidupan. Foro di bawah ini adalah foto yang diambil dua diver tamu yang datang ke Wakatobi setelah saya, Jack Yap dan Halim Kasalim. Saya pernah posting di facebook saya. Foto ini saya dapat dari dive guide saya selama di Wakatobi.

    ikan-mati

    Foto ikan-ikan mati di Wakatobi, Mei 2016

  2. Ketersediaan sarana dan prasarana untuk scuba diver. Memang penyediaan sarana dan prasarana ini bukan masalah jika memang suatu tempat itu sudah terkenal banyak orang yang diving di sana. Seperti di Bali, Gili Air, Wakatobi, Manado. AKan tetapi, bagaimana jika spot diving itu memang sudah lama ada, tapi industr diving yang tidak ada? Sebagai contoh kecil adalah di Gorontalo, yang mana sampai awal 2016 pun penyedia tabung selam hanyalah dari Dishub Provinsi (yang letaknya pun lumayan jauh dari pusat kota) dan juga Miguel Diving (pemiliknya Rantje, salah seorang pelopor diving di Gorontalo), serta Aqua Diving. Itupun, ketersediaan tabung sangat amat terbatas. Sekarang, sudah lumayan ada dua dive center yang telah hadir di Gorontalo, Go Scuba yang berlokasi di belakang mall Gorontalo (satu bangunan dengan JNE) dan juga SADIS (Salvador Diving  Suport System) yang berlokasi di dekat RRI, satu bangunan dengan QQ Laundry. Kehadiran dua DC ini sangat membantu untuk suplai tabung selam karena dulu pun saya sering sekali batal diving di Gorontalo, hanya gara-gara tidak ada tabung jika sedang ada banyak tamu. Bahkan sampai-sampai saat itu, ada long weekend bulan Mei 2016, salah satu Divemaster (saat itu masih belum terbentuk dive center) impor tabung dari Manado (saking tidak ada stok tabung). Juga saat saya diving di Pulau Cinta bulan Juni, saya bawa tabung dari Go Scuba (di kota Gorontalo) menuju Pulau Cinta. Kalau ketersediaan tabung di Pulau Cinta sampai saat ini kemungkinan masih belum ada, dengan kata lain, masih bawa tabung dari kota Gorontalo ke Pulau Cinta. Sebab masih sangat sedikit sekali orang ke Pulau Cinta untuk diving. Sekarang, ketersediaan tabung sudah bukan kekhawatran lagi. Akan tetapi, untuk daerah-daerah lain yang belum terkenal bahkan termasuk desa terpencil seperti di Pulau Batuata, Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, boro-boro masyarakatnya mengerti diving…tentu saja penyedia tabung tidak ada! Atau di Kepulauan Selayar, Pulau Tunda, yang mana masyarakatnya masih menyelam menggunakan kompresor nyala, lalu selang dibawa sampai kedalaman 60 m untuk mencari teripang.
  3. Ketersediaan sarana dan prasarana untuk wisatawan. Sederhananya, warung dan kamar mandi (dan air bersih), itu yang utama. Tapi, di banyak tempat yang mengandalkan trip diving landbase (berdasarkan daratan, tidak menginap di kapal), otomatis harus berpindah dengan kapal kecil atau bahkan dengan kendaraan darat (mobil), tetapi sangat jarang adanya kamar mandi atau lebih lagi warung. Sebagai contoh lagi adalah ketika diving di Gorontalo, hanya beberapa tempat tertentu yang ada kamar mandi untuk bilas atau ganti (sehingga kalau mau ganti, ya harus yang kilat saja, dan tidak terlalu terbuka atau kalau bilas ya tunggu nanti di rumah atau di hotel bagi turis luar daerah). Yang namanya sarana dan prasarana juga tidak lepas dari yang namanya kebersihan. Sudah ada kamar mandi, belum tentu bagus dan bersih seperti harapan.
  4. SDM yang mumpuni dan profesional. Semestinya di negeri sendiri, yang menjadi dive guide adalah orang-orang lokalnya. Bukannya bagaimana ya, tapi ya supaya kesejahteraan masyarakat sekitar lebih meningkat lagi. Di Gorontalo saja, sampai dengan 2015 hanya ada 1 orang instruktur asli orang Gorontalo. Baru di taun 2016, jumlah diver lokal Gorontalo dan juga instruktur meningkat. Banyak divemaster yang menjadi guide adalah awalnya wisatawan asing yang datang ke Indonesia. Mereka datang ke Indonesia dengan visa wisata, kemudian mereka memperpanjangnya terus, bahkan sampai membuat KITAS dan bekerja sebagai dive guide di beberapa dive center di Indonesia. Bahkan tidak hanya itu, banyak instruktur yang warna negara asing, atau divemaster yang WNA datang ke Indonesia dengan tujuan wisata bawah air, tapi kemudian menjadi guide untuk kapal atau untuk resort. Padahal, kan mereka datang ke Indonesia bukan visa kerja, tapi visa wisata. Selain itu mereka tidak membayar pajak ke negara karena itu harga untuk mengambil lisensi dari mereka juga lebih murah. Dive guide orang lokal sendiri, seharusnya bisa bahasa Inggris supaya orang-orang penyelam dari mancanegara dapat berkomunikasi dengan baik.
  5. Peralatan scuba diving yang mahal. Tarif bea cukai untuk peralatan diving termasuk sangat mahal, oleh karena itu, beberapa teman yang punya teman atau kenalan di luar negeri lebih memilih nitip ke teman yang di sana dan diambil nanti kalau si teman pulang ke Indonesia. Kalau lihat-lihat harga alat diving di toko online luar negeri dengan di Indonesia, hampir semua alat selisih harganya cukup signifikan. Di Indonesia bahkan bisa sampai 130%. Alat selam termasuk kategori peralatan olahraga bahari yang belum diklasifikasikan, sehingga masuk kategori barang mewah. Dalam buku tarif 2012, perhitungan alat selam yaitu sebagai berikut: Pajak Bea Masuk (PBM) sampai 100%, PPN impor 10%, PPN Barang Mewah  10%, dan lain-lain yang dijumlahkan sampai 130%. Bahkan sampai saat ini saya kira masih mengacu pada tarif tersebut, sebab saat saya beli alat-alat selam tahun ini, penjualnya masih curhat tentang peralatan diving itu mahal karena termasuk barang mewah.
  6. Transportasi yang mahal, terutama untuk transportasi ke daerah Indonesia Timur. Indonesia Timur ini termasuk yang paling banyak spot diving karena merupakan coral triangle, jantung coral dunia selain great barrier reef. Terdiri atas kepulauan kecil-kecil dan akses untuk ke sana bukannya tidak mudah juga. Transportasi udara dari dan antar Sulawesi saja bisa mahal, bagaimana orang Indonesia sendiri mau pergi? Sebagai contoh, saya tinggal di Gorontalo, mau ke Wakatobi saja harus memutar ke Makassar dulu, padahal kalau dilihat di peta tentu lebih cepat langsung ke Wakatobi dari Gorontalo. Saya mau ke Palu, harus mutar juga ke Makassar dulu. Saya mau ke Kendari, harus lewat Makassar juga. Akibatnya apa? Harga tiket saya dari Gorontao ke tempat-tempat yang masih di Makassar saja lebih mahal bahkan sama, jika dibandingkan penerbangan ke Jakarta, Jogja, atau bahkan Singapura, atau Kuala Lumpur. Gorontalo-Wakatobi bisa mencapai Rp1.800.000,00 sedangkan Gorontalo-Singapura saja Rp1.500.000,00. Kebayangkan kan kenapa rakyat Indonesia sendiri lebih suka ke luar negeri? Selain kesannya lebih keren karena ke luar negeri, juga harga tiketnya saja lebih murah. Contoh lagi, saya pergi ke Labuan Bajo dari Gorontalo juga senilai Rp1.800.000,00 padahal masih sama-sama Indonesia Timur, kalau dilihat di peta tinggal turun ke bawah aja. Tapi toh harus lewat Makassar dulu, lalu Bali. Bahkan penerbangan langsung dari Makassar ke Labuan Bajo tidak ada. Pesawat ke Wakatobi juga hanya satu, itupun satu kali sehari, yang mana hanya bisa memuat 10 kg bagasi (Padahal alat diving itu berat dan biasanya lebih dari 10 kg!) Belum lagi pesawat-pesawat yang jadwalnya cuma seminggu dua kali atau seminggu tiga kali. Pesawat ke Selayar cuma dua kali dalam seminggu. Pesawat ke Luwuk juga cuma dua atau tiga kali seminggu (saya lupa). Pesawat ke Sitaro juga belum ada, dan masih harus naik kapal. Belum lagi untuk di Kepulauan Selayar yang masih banyak pulau-pulau besar dan kapal yang ke Makassar saja jarang.
  7. Masih ada kaitannya dengan transportasi, yaitu infrastruktur. Infrastruktur di sini adalah jalanan menuju dive spot tertentu yang jalannya masih jelek, berliku, dan jika naik kapal memerlukan biaya lebih. Contohnya di Gorontalo sendiri, namanya spot Biluhu, terletak di Gorontalo Utara dan akses menuju ke sana sangat buruk, dan disarankan sewa kapal. Akibatnya, lokasi ini sering dilewatkan orang-orang yang pergi menyelam ke Gorontalo. Lokasi Sitaro, yang terletak di ujung terluar Indonesia, tidak ada pesawat ke sana, maka harus naik kapal dari Manado.
  8. Docking kapal atau biaya parkir kapal yang mahal. Rata-rata untuk diving yang berbasis live a board (disebut juga LOB yang makan, minum, tidur di kapal, lalu menggunakan boat kecil untuk menuju spot diving) memerlukan biaya parkir kapal atau docking kapal dan saat ini untuk paket wisata diving masih hanya di Raja Ampat dan Pulau Komodo. Saat ini sudah mulai ada LOB di Banda. Tapi bahkan tidak ada LOB ke Wakatobi padahal Wakatobi itu banyak pulau-pulaunya.

Mungkin itulah pengalaman dan hal-hal yang aku ketahui, dan sampai saat ini kalau melihat perkembangan yang sudah ada adalah :

  1. Telah diadakan rutin acara bertema wisata bahari dengan tajuk Sail, yang pertama kali digelar di Bunaken pada 2009, Sail Banda pada 2010, Sail Wakatobi-Belitung pada 2011, Sail Morotai pada 2012, Sail Komodo pada 2013 (sempat ikut seleksi tapi tidak lolos) dan Sail Raja Ampat pada 2014, Sail Tomini pada 2015 (pernah mau ikutan tapi tidak jadi )dan Sail Karimata 2016. Hal ini tentu berdampak pada lingkungan sekitar, walaupun diving bukan kegiatan utama pada sail-sail tersebut.
  2. Saat ini mulai diatur untuk sertifikasi pemandu turis (baik turis daratan maupun turis bawah laut), yang diakomodir oleh Dinas Pariwisata daerah setempat. Hal ini dapat menstandarisasikan kemampuan serta keahlian para penyedia wisata dalam pelayanan hospitality. Hal ini tentunya diharapkan akan meningkatkan pelayanan wisata terhadap turis, baik mancanegara maupun lokal.
  3. Maraknya festival photo underwater, yang saya tahu beberapa di antaranya adalah : Festival Teluk Maumere (NTT), Fesival Sitaro (Sulawesi Utara) , Festival Way Mansusu (Papua). Festival ini tentu saja akan menarik minat pada diver biasa, para underwater photographer diver, akan menularkan kecintaaannya akan dunia bawah laut melalui foto-fotonya.
  4. Sudah banyak dibuka bandara di daerah Indonesia Timur. Bandara Matahora Wakatobi dan Bandara Jalaludin Gorontalo memang dua bandara yang baru diresmikan, meskipun sebelumnya juga sudah beroperasi (ada bandara lamanya). Juga Bandara Dominic Eduard Osok Papua Barat. Serta Bandara Labuan Bajo. Bandara Gorontalo menambah penerbangan satu lagi ke Gorontalo. Bandara Labuan Bajo, tak tanggung-tanggung 4 kali penerbangan dalam sehari  dan ditambah ada Garuda direct langsung ke Labuan Bajo dari Jakarta. Selain itu Citilink mulai banyak membuka rute penerbangan ke Indonesia Timur yang mana peralatan olahraga diving digratiskan. Ini juga suatu perkembangan bagus agar tidak cuma Lion Air Grup yang menguasai penerbangan wilayah Indonesia Timur.
  5. Meningkatnya anak muda yang berwisata ke dalam negeri. Beberapa tahun silam mungkin wisata luar negeri sangat keren dan wisata dalam negeri kesannya cuma di situ-situ saja. Mungkin karena maraknya arus informasi juga, anak muda saat ini banyak melihat banyak tempat-tempat wisata yang ternyata oh-ada-di-Indonesia-lho. Tayangan-tayangan televisi dengan tema petualangan mengeksplor keindahan Indonesia seperti My Trip My Adventure juga Para Petualang Cantik serta Si Bolang menggugah pemirsa untuk turut serta mengeksplor daerah wisata baru, juga menarik minat untuk belajar menyelam. Anak muda pun membentuk grup-grup di daerah mereka yang sama-sama menyukai travelling untuk menemukan daerah wisata baru.

Hal-hal yang menurutku masih perlu dilakukan perbaikan untuk ke depan supaya menyelam bisa menjadi industri pariwisata yang menopang Indonesia, antara lain adalah:

  1. Terus menerus melakukan pembinaan kepada masyarakat untuk memahami pentingnya menjaga ekosistem laut, termasuk tidak buang sampah di laut, tidak buang limbah ke laut, tidak menangkap ikan dengan cara-cara yang membahayakan, seperti bom, bius, dan racun. Juga memahamkan masyarakat ikan jenis apa saja yang dilarang untuk ditangkap, serta memahamkan masyarakat agar tidak percaya mitos-mitos ikan hiu siripnya punya khasiat, atau ikan kuda laut berkhasiat, juga memberi tahu jenis ikan apa yang beracun dan berbahaya sehingga jangan disentuh atau dimakan. Serta menanamkan kesadaran bahwa menyelam tanpa alat selam yang memadai membahayakan nyawa. Hal ini sekiranya dilakukan kerjasama lintas sektoral dari pemerintah daerah semisal dinas kelautan, dinas pariwisata, juga dinas kesehatan.
  2. Untuk mendirikan dive center yang baik, membutuhkan biaya besar, biaya perawatan kompressor, biaya perawatan tabung, juga biaya perawatan alat selam. Jika pemerintah bisa, dianggarkan untuk pinjaman lunak atau suntikan dana. Ya saya tahu pemerintah sedang ada kebijakan pengetatan anggaran, sehingga saran ini agak tidak mungkin, akan tetapi, bukankah daripada Indonesia terus menerus berhutang, maka akan lebih baik jika menginvestasikan sesuatu agar ada hasilnya nanti di masa yang akan datang.
  3. Sarana dan prasarana seperti kamar mandi dan air bersih ini sudah bukan lagi cuma masalah wisatawan, tapi juga masih menjadi masalah masyarakat Indonesia sebagian besar, yang mana masyarakat masih  banyak mandi cuci kakus di sungai, tidak punya bilik kamar mandi. Saya bisa bilang begini karena di hampir semua tempat walaupun bukan di tempat spot penyelaman, kamar mandi itu sesuatu yang amat langka. Jikapun ada, ya adanya seadanya. Tidak ada klosetnya (yang otomatis tidak ada septic tank). Saya rasa selain masyarakat perlu disadarkan hidup bersih, juga diberi bantuan untuk mendirikan kamar mandi dan toilet. Masalah seperti urusan makanan, bisa diusahakan oleh warga setempat membuat tempat makan yang bercita rasa lokal dengan tempat yang bersih dan penyajiannya indah.
  4. SDM ini lagi-lagi sepertinya harus turun tangan pemerintah. Atau, orang dermawan yang mau mengembangkan daerahnya, mendidik putra-putra lokal untuk menekuni dunia selam dan menjadi guide serta instruktur. Kalau di Gorontalo sendiri, ada seseorang yang dengan getol mengembangkan industri diving ini, dia memberi modal untuk anak-anak muda yang mau serius menekuni dunia diving sebagai industri. Tidak cuma di Gorontalo, ada di Indonesia ini, tepatnya di Jakarta yang memberikan jalan agar anak mudanya bisa mengambil sertifikasi dengan pinjaman lunak atau gratis, atau sebagai gantinya harus kerja), tapi itu juga tidak banyak. Maka itu harus lebih banyak lagi ada dukungan dari pemerintah.
  5. Alat selam yang masih termasuk barang mewah ini rasanya perlu diturunkan sehingga tidak semahal sekarang. Kementerian Keuangan membutuhkan masukan dari Kementerian Parekraf sehingga bea masuknya menjadi lebih rendah. Akan tetapi untuk meyakinkan Kementerian Keuangan, mestinya Kementerian Parekraf bisa mendata jumlah diver di seluruh wilayah Indonesia, dan jumlah kunjungan diver di spot-spot diving di Indonesia. Datanya bisa diambil di tiap lembaga pemberi lisensi diving, seperti POSSI/CMAS, PADI, NAUI, SSI, SDI, dan data kunjungan penyelam bisa dilihat di dive center yang ada, juga di kapal-kapal phinisi yang berlayar di tahun tersebut mengangkut berapa penyelam.
  6. Tarif transportasi udara agaknya perlu ditinjau ulang oleh Kementerian Perhubungan terutama untuk daerah Indonesia Timur, yang mana untuk terbang ke sesama daerah Sulawesi saja saat ini harga tiketnya sama dengan pergi ke luar negeri. Hal ini juga untuk memicu pertumbuhan ekonomi antar daerah, karena mempercepat arus transportasi dengan biaya pesawat yang murah. Kementerian Perhubungan juga perlu mengatur agar tidak ada monopoli suatu maskapai untuk daerah tertentu. Seperti Wakatobi dan Luwuk, yang saat ini masih hanya satu maskapai yang melayani. Kalau masih seperti ini jadi tidak punya pilihan.
  7. Infrastruktur jalan dan jembatan, serta irigasi ini secara umum saja, karena ini tidak hanya menyangkut industri pariwisata di Indonesia. Tapi juga kesejahteraaan masyarakat secara umum. Infrastruktur jalan yang masih jelek, berlubang, dan masih tanah, mestinya dianggarkan lagi untuk membuat jalan, supaya mempercepat perputaran ekonomi, tidak hanya memudahkan wisatawan mencapai lokasi wisata. Ada beberapa spot diving di Gorontalo yang lautnya terhubung dengan saluran air, sehingga ketika malamnya hujan, maka air di laut menjadi kotor kena selokan. Ini mestinya perlu manajemen yang baik dalam mengelola spot diving sehingga tetap terjaga keindahannya. Untuk memperbaiki infrastruktur spot diving, pemerintah perlu mengetahui di mana saja spot tersebut, sehinga bisa lebih memperhatikan wisatawan. Sebagai contoh saja di Gorontalo ada Taman Laut Nasional Olele, yang mana jalan menuju ke sana sangat amat jelek. Saat ini sudah lumayan sedang dilaksanakan pembangunan jalan rabat beton.
  8. Biaya parkir kapal yang murah terutama untuk kapal-kapal phinisi yang akan melaksanakan LOB. LOB ini bukan berarti tidak membawa dampak kepada masyarakat tapi juga ketika mereka mendarat, mereka akan berbelanja, dan juga makan. Ada beberapa yang cerita pada saya untuk LOB di Banda itu mahal biaya parkir kapalnya, juga untuk LOB di Wakatobi itu birokrasinya sulit dan berbelit (sehingga orang tersebut berkesimpulan bahwa lebih baik tidak usah LOB di sana).
  9. Semua penyedia jasa wisata sudah sebaiknya online, baik hotel/penginapan maupun restoran, resort, dan juga dive center. Digital lifestyle saat ini, yang apapun semua serba online, membuat orang cenderung mencari informasi melalui internet. Dari pelayanan yang baik, hingga pelayanan yang buruk, sehingga orang akan cenderung menghindari yang memiliki reputasi buruk. Jika punya website saja tidak, bagaimana wisatawan akan datang? Saat ini di era global, banyak calon turis yang sebelum berangkat sudah kontak dan booking dulu untuk paket-paket trip via online. Jika tidak mengiklankan diri di internet, maka dipastikan akan kalah dengan yang lainnya.

peringkat-penentu-daya-saing

Dalam paparan Menteri Parekraf pada saat Kongres ISEI XVIII, dapat dilihat bahwa peringkat pilar penentu daya saing pariwisata Indonesia 2013 dan 2015 dalam hal infrastuktur, kesehatan dan kebersihan serta keberlangsungan lingkungan masih ditandai merah. Yang mana hal-hal tersebut masih perlu adanya dukungan pemerintah juga pemda, dan masyarakat setempat. Selain itu ada beberapa pilar penentu yang perlu digaris bawahi yakni kesiapan internet dan teknologi (dalam hal ini Indonesia boleh berbangga karena melek teknologi dan sangat update, walaupun dalam beberapa daerah pelosok masih saja tidak ada sinyal, apalagi HP), keberlangsungan lingkungan menurun hingga -9 yang artinya kepedulian terhadap lingkungan masih sangat kurang, juga sumber daya alam yang makin berkurang (hal ini nampaknya ada kaitannya antara kepedulian lingkungan dengan sumber alam yang menjadi rusak).

Dalam hal mengembangkan pariwisata, tentu saja tidak hanya Kementerian Parekraf yang kerja keras, akan tetapi memerlukan kerjasama dengan Kementerian lain, semisal Kementerian Perhubungan (mengenai kebijakan transportasi), Kementerian Koperasi dan UMKM (untuk pengembangan industri kecil semisal restoran, warung dan juga kerajinan), Kementerian Keuangan (terkait bea cukai), Imigrasi (perizinan visa turis mancanegara), Kementerian PU (terkait sarana dan prasarana infrastruktur), juga TNI dan Polri terkait keamanan dan ketertiban agar jangan sampai ada kapal-kapal asing yang berlayar di perairan Indonesia.

Sebagai penutup, saya sajikan beberapa gambar selama saya trip, semoga menjadi tertarik menyelami keindahan bawah laut Indonesia.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s