Semua Akan Baik-Baik Saja, Asal Jangan Sakit


Sudah merasa lama saya tinggal di Gorontalo, dan saya rasa, semuanya akan baik-baik saja, asal jangan sakit.

Itu adalah yang dikatakan temanku, pada saya, yang mana dia sendiri adalah seorang dokter kontrak di sebuah Rumah Sakit di Kabupaten Gorontalo.

Baiklah, ada beberapa kejadian mengenai kesehatan yang mana saya alami sendiri, lihat dan dengar selama di Gorontalo…

Kejadian 1: Baru Datang Udah Langsung Sakit

Saya datang ke Gorontalo awal tahun lalu, kemudian saya langsung terserang penyakit gatal-gatal, bentol dan merah-merah yang mengerikan, dan bentuknya seperti luka bakar. Itu terjadi tidak sampai seminggu setelah saya datang, mungkin baru hari ketiga. Kata orang-orang sih karena berhubungan dengan yang mistis-mistis, ada yang bilang dicium wewe, lah, diganggu hantu (karena saya pendatang), atau bahkan disenangi makhluk halus. Ah entahlah. Yang jelas penyakit kulit seperti ini baru pertama kali seumur hidup, dan mengerikan, karena tiba-tiba di pagi hari waktu bangun muncul merah-merah mengerikan. (Saya lupa simpan fotonya di mana, nanti kalau ingat saya upload ).

Lalu saya yang belum pindah domisili untuk BPJS (awalnya domisili Jakarta), segera urus BPJS ke RSUD terdekat yaitu RSUD Dunda, yang katanya harus pakai SK pindah, lalu surat keterangan domisili dari kelurahan, lalu KTP. Baiklah, karena saya bilang baru datang, dan belum dikenal di kelurahan lagi, akhirnya dari kantor BPJS Kabupaten memberikan jaminan 24 jam yang hanya bisa dipakai satu kali. Lalu, berobatlah saya ke dokter kulit di RSUD Dunda tersebut. Tapi untuk kontrol selanjutnya, saya harus mengulangi proses dari awal, ke puskesmas dulu, lalu minta rujukan, lalu baru ke RSUD Dunda ketemu dokter kulit yang kemarin. Melelahkan? Panjang? Yah begitulah. Karena harus ke puskesmas dulu, maka pertama-tama harus urus pindah domisili. Lalu ke BPJS lagi saya di RSUD Ainun Habibie (saya lupa tepatnya kenapa dari kantor BPJS RSUD Dunda harus urus ke kantor BPJS RSUD Ainun Habibie), intinya proses pengurusan berjalan beberapa hari (saya urus setelah berobat pertama pada dokter kulit di RSUD Dunda), lalu waktu ke puskesmas, petugas puskesmas yang melihat mengatakan bahwa belum pindah domisili, jadi masih terdaftar di domisili Jakarta, apalagi, kartu BPJS kan tidak ganti ketika ganti domisili. Akhirnya cek lah saya ke kantor BPJS (entah di BPJS RSUD dunda atau  BPJS RSUD Ainun, saya lupa), intinya mereka harus urus ke BPJS kota Gorontalo untuk pindah domisili. Saya juga tidak mengerti kenapa demikian adanya. Lalu barulah saat itu saya tunggu lagi beberapa hari. Setelah pengurusan domisili selesai, barulah ke puskesmas, dan minta rujukan. Untunglah rujukan bisa dipakai selama sebulan jadi selama control ke RSUD Dunda tidak perlu lagi balik ke puskesmas asal jangka waktunya masih.

Hari-hari control bukannya tanpa masalah dan lancer saja. Saya sering kali tidak dapat obat, lalu harus beli di luar, dan nebus ke RSUD lagi untuk dapat uangnya, padahal harga obatnya berapa, yang diganti nggak full, alias Cuma setengah, padahal obat generic loh. Nggak tahu saya kenapa gitu.

Waktu itu masih punya temen yang kerja di RSUD dan dia sih cerita katanya beberapa stok obat memang habis, karena tergantung stok dari Manado, dan bahkan ada beberapa obat yang stoknya sengaja dikosongkan (enggak tahu maksudnya apa), katanya lagi sih si pengelola apotek di RSUD itu punya apotek, jadi entah lah mungkin saja stok RSUD dipakai untuk apotek pribadinya. Nggak ngerti saya.  Itu kan Cuma berdasarkan kata dia, toh saya gimana mau meriksanya untuk mengetahui kebenaran beritanya?

Intinya, coba deh lihat deh saya yang perantauan ini, ribet amat sih mau berobat aja..  coba bayangkan kalau orang yang sakitnya parah? Hmm,..

Oh ya , ada kejadian dekat-dekat itu juga. Jadi ceritanya ada makan-makan, dan dua menu, ayam dan ikan. Yang makan ikan pada keracunan, hanya saja tingkat keracunan tiap orang berbeda-beda, dan beberapa orang belum makan ikan (karena lihat temannya keracunan) dan itu juga menu nasi kotak. Beberapa orang langsung mengatasi secara cepat dengan minum susu murni bear brand (bukan iklan J) atau minum air kelapa , untuk menetralisir racun. Nah, tiga orang dilarikan ke RSUD Dunda, ke UGD, yang satu disuntik, lalu lansgung baikan, yang dua diberi penanganan oksigen, dan akhirya dirawat inap di RSUD Ainun.

Kata seorang temen, sempet dianggurin 2 orang temen ini di RSUD Dunda, intinya dicuekin, sampai akhirnya temen yang ada kenalan di RSUD itu minta dicariin kamar, dan akhirnya ditangani dan dapat kamar di RSUD Ainun, walaupun keadaan kamar di RSUD Ainun, sungguh sangat buruk, kotor, jorok, sampai-sampai temen saya bawa sprei sendiri dan tempat sampah besar-besar terletak di lorong-lorong RSUD Ainun bikin ilfeel.  Psst, tapi katanya itu pas tahun lalu, tahun sekarang mendingan, sih. Udah lebih bersih.

Ya sebenernya keadaan RSUD Dunda malah lebih jorok juga, banyak kucing berkeliaran, dan nggak Cuma kucing tapi tikus. Ini nih dari tahun 2015 sampai tahun ini nggak banyak perubahannya. Banyak lantai becek karena beberapa bagian bocor,dan waktu saya cek lab terkait penyakit kulit saya, petugas labnya ngerokok!!! Damn ini RSUD apaan sih petugasnya ngerokok dengan santainya di dalam ruang administrasi lab, waktu saya mau ambil hasil lab. Dan memang di RSUD Dunda banyak ditemui orangorang yang merokok, nggak Cuma pengunjung, tapi juga yang bekerja di sana.

Kejadian 2: Udah Persiapan Mau Operasi, Eh Nggak Jadi

Jadi ini kejadian adalah saat saya sudah pindah ke Kota Gorontalo, dan mau operasi bedah mulut, karena gigi geraham yang belakang tumbuh semua (gigi dewasa) dan salah satunya udah jelek , karena tumbuh tidak sempurna maka harus dicabut.

Proses pindah domisili diulangi lagi (meskipun Cuma dari kabupaten ke Kota Gorontalo) tetap saja harus ke BPJS Kota, lalu urus pindah. Ets, sebelum ke BPJS harus minta surat keterangan domisili dulu dari kelurahan. Mintalah ke kelurahan, bilang kos di situ, mau urus BPJS. Setelah itu sudah pindah domisili, sehari jadi. Heran nggak, di BPJS kota langsung jadi, eh di BPJS Kabupaten nunggu dulu petugasnya pergi ke BPJS kota untuk ngurus pindah domisili (heran, kenapa nggak disamain sih sistemnya).

Setelah itu pergilah saya ke klinik terdekat yang jadi faskes pertama saya (saya mendaftarkan faskes pertama saya pokoknya yang terdekat ajalah dan ada dokter giginya), diperiksa, lalu ya sudah minta rujukan ke RSUD Aloei Saboe (kota Gorontalo), katanya Cuma ada dokter bedah mulut di RSUD ALoei Saboe dan di klinik gigi dokter swasta (dokter DC dan katanya mahal sih sampai 2 juta kalau mau operasi bedah mulut, dan mana bisa pakai BPJS). Ya sudah urus-urus segala macam ke RSUD ALoei SAboe, foto gigi dan segala macam. Dan waktu itu Cuma foto gigi samping kiri dan kanan, sudah kan. Sudah, persiapan nih mau hari H operasi. Nggak tahunya dokternya katanya mau coba dulu. Saya bingung coba apa, ternyata dia mau coba cabut gigi geraham belakang pakai tang. Sakitnya luar biasa. Bayangin gigi dalem (tumbuhnya akarnya dalam maksudnya), mau dicabut doank pakai tang, sementara biasanya kalau bedah mulut kan dibedah dibuka gusinya dulu. Sakit luar biasa, perawat giginya lagi yang ongkag-ongkag gigi dengan tang (dokternya nyuruh perawat giginya) dan akhirnya nggak bisa kecabut (ya iya lah. Lagian ngapain pakai dicoba sih.. kesel. Pulang Cuma sakit doank!)

Akhirnya uruslah untuk operasi, disuruh pesan kamar di ruang bedah. Udah pesan kamar. Nah, menjelang hari operasi, temenku, Fani yang sudah pernah operasi bedah mulut di RSUD  yang sama tahun lalu bercerita tentang kengeriannya operasi. Jadi dia operasi itu operasi dengan bius total di ruangan operasi (padahal di dokter DC yang swasta itu paling Cuma 2 jam-an), dan dia nggak sadar sampai 5 jam lebih, dan waktu sadar ngilu banget dan sakit banget. Saya Cuma mencelos denger ceritanya. Kata temen saya, mendingan operasi di kampong halaman, daripada di sini. Mana kamarnya jorok banget, dan itu harus nginep (harus rawat inap ) minimal sehari.

Mengenai joroknya kamar, saya aja kalau jalan ke arah lab itu bau. Bau tikus. Hhh. Dan waktu nunggu di kursi tunggu depan loket lab, juga bau tikus.

Akhirnya mengurungkan niat untuk operasi di RSUD itu. Saya pun pulang kampong dan berniat operasi di RSUD di Jogja saja. Yah hitung-hitung sekalian lebaran, jadi tiketnya satu kali. Kalau pulang kampong Cuma buat operasi ya sama aja biayanaya dengan operasi di dokter gigi swasta non-BPJS itu…

Tibalah saya di kampong halaman, harus urus dari awal dulu mengenai pindah lokasi (lagi), karena ke RSUD dan bedah mulut harus pakai rujukan puskesmas, rujukan puskesmas bisa keluar kalau BPJS nya sesuai domisili. Saya pun nggak bisa pulang cepet-cepet karena kan cuti saya dikit. Dan saat itu menjelang hari H lebaran, yang mana RSUD bentar lagi ikut libur cuti bersama, dan puskesmas demikian halnya, nggak usah ditanya lagi BPJS nya juga sabtu libur. Jadi saat itu tuh lebarannya hari pertengahan minggu, Rabu dan Kamis, ditambah cuti bersama itu jadinya seminggu full, cuti bersama Senin, Selasa dan Jumat. (kalau nggak salah), apa cuman Selasa Jumat ya? Pokoknya itu lah.

Saya pun mengurus BPJS itu hari jumat, yang mana ternyata kantor BPJS kota itu tutup pada pukul 13.00 (demi apa karena puasa Ramadhan tutupnya cepet banget. Pns aja selesai jadi jam 15.00, ini kebangetan banget dah jam 13.00 dah kelar), yaudahlah karena Sabtu toh tutup dan senin sudah mulai nggak buka lagi sampai minggu depannya lagi (sampai cuti bersama habis), ya mana bisa saya nunggu selama itu. Paling tidak senin setelah lebaran (setelah cuti bersama selesai) , saya itu harus sudah operasi karena saya itu nggak punya waktu lama di kampong halaman karna harus balik ke Gorontalo. Akhirnya saya harus putar otak. Saya ngebut ke kantor BPJS Sleman, yang ternyata jam tutupnya agak lebih baik yaitu jam 14.00, sempet dihadang-hadang sama satpam juga soalnya saya tiba lebih dari jam 14.00. intinya saya disuruh langsung ke RSUD Sleman dan langsung ke UGD, kata si satpam H-7 dan H+7 Lebaran boleh langsung ke UGD Rumah sakit, sekalipun bukan sakit yang darurat. saya yakin nih yang bikin akal-akalan cuman BPJS karena mereka kan nggak buka! Mana bisa masyarakat minta rujukan kalau nggak darurat banget. Yaudah , dari kantor BPJS Sleman, saya ke RSUD Sleman, ke UGD nya dan nanya-nnanya sama dokter di sana,dibilang bahwa tidak bisa karena tidak urgent, intinya harus pakai prosedur biasa (yang pakai rujukan puskesmas), dan cuman ada RS tertentu yang melayani H-7 dan H+7 tanpa rujukan dan boleh langsung UGD, dan dari beberapa list RS yang disebutkan dokter, tidak ada RS yang ada dokter gigi bedah mulutnya.

Baiklah saya pun balik lagi ke BPJS hendak marah-marah ke satpam BPJS. Eh pas sampai di sana satpamnya ganti lhoh. Dia dengan baik hati mempersilakan saya ketemu staff BPJS untuk minta surat keterangan yang dibawa ke puskesmas untuk berobat satu kali (dalam rangka mudik, tidak menetap), dan staff tersebut baik sekali karena dia memberikannya dengan cepat, dan padahal di luar jam layanan (sudah lebih dari jam 15.00).

Alhamdulillah.

Perjuangan belum selesai, sabtu saya harus ke puskesmas, untuk minta rujukan. Berbekal surat dari BPJS menerangkan saya rantau dan Cuma hendak berobat sekali, maka saya ke puskesmas Mlati 1. Proses berjalan sebagaimana mestinya, dan puskesmasnya ramai banget. Antrinya panjang, dan setelah selesai saya di puskesmas, saya hendak kejar waktu ke RSUD eh ternyata jam pelayanan dah habis, sekitar siang jam 12.00 waktu itu, jam pelayanan berakhir hari sabtu sekitar jam 11.00.

Baiklah akhirnya pergi ke RSUD lagi hari senin. Dan senin itu intinya udah full dan nggak bisa dioperasi hari itu dan senin Cuma bisa saya cek lab (foto rontgen untuk gigi) aja.  Padahal saya udah bawa foto rontgen waktu di RSUD Aloei Saboe loh, tapi karena fotonya sisi kiri dan sisi kanan, itu nggak guna katanya dokternya, dan difoto ulang dengan foto memutar (kameranya bergerak mengelilingi kepala , posisi kepala diam).

Lalu saya  disuruh hari selasa minnggu depannya untuk operasinya. Karena selasanya besok udah H-1 Lebaran dan udah libur kalo nggak salah.

Senin saya coba ke RSUD walaupun jadwal saya selasa, tapi pagi-pagi sekali saya udah ditanyain sama temen di kantor Gorontalo, kalau saya nggak ada ijinnya untuk belum masuk hari itu. Kalau mau pakai sakit, ya harus ada surat sakitnya. Karena saya dalam rangka operasi, maka surat sakit akan diberikan oleh dokter gigi setelah proses operasi (lhah masak belum operasi mau istirahat dulu, kan enggak). Akhirnya saya pun pagi-pagi ke RSUD dan sayalah pasien pertama di klinik gigi di RSUD pada hari pertama setelah lebaran itu. Dokter bilang sebenernya sudah ada jadwal operasi 3 orang, tapi mereka semua belum datang, jadi itulah kenapa awalnya saya dijadwalkan hari selasa.

Saya pun ambil hasil lab foto rontgen saya dan segera melakukan proses operasi bedah mulut di klinik gigi itu. Tidak ada pesan-pesan segala ke kamar bedah. Langsung dilakukan di situ juga. Dan prosesnya cuman 1,5 jam, setelah itu saya pun bisa pulang lagi dari RSUD naik motor. Karena Cuma bius local, saya pun baik-baik saja masih bisa bawa motor. Beda sekali keadaannya kalau saya jadi operasi bedah mulut di RSUD di GOrontalo, saya bisa-bisa pingsan setengah hari, nggak bisa ngapa-ngapain.

Padahal waktu itu orangtua khawatir banget lhoh mau jemput, saya bilang nggak usah lah ,pergi bawa motor ya pulang bawa motor aja.

Di lain waktu, saya tahu alasannya kenapa di RSUD sebelumnya (yang batal operasi) kalau operasi bedah mulut harus di kamar bedah dan di kamar rawat inap, sedangkan di RSUD Sleman, cukup di klinik giginya saja. Padahal kan kalau punya alat operasi bedah mulut, bisa saja dilakukan operasinya di kursi gigi yang biasa ada di klinik gigi itu. Usut punya usut, kenalan saya yang dokter di RSUD Dunda, berkata bahwa itu dilakukan RSUD untuk memperbesar klaim ke BPJS makanya pakai rawat inap. Di RSUD tempat dia bekerja pun pernah katanya dokter matanya mengakali untuk seperti itu, untuk operasi katarak dia suruh rawat inap pasiennya, sehingga klaim ke BPJS besar, dan katanya sudah ketahuan, dan kena.

Keadaan RSUD Sleman dan RSUD di GOrontalo (semua RSUD Gorontalo ya, saya pernahnya ke RSUD ALoei Saboe, RSUD Ainun Habibie, RSUD Dunda, RSUD Toto Kabila), jauh lebih baik RSUD Sleman. Tempatnya bersih, rapi, pelayanannnya ramah, cepat, dan top pokoknya.

Dengar-dengar dan Lihat-lihat….

Nggak cuman itu sebenernya untuk kejadian kesehatan yang miris di Gorontalo ini. Tapi juga saya lihat dan dengar…

Pernah suatu ketika, anak teman saya (teman saya ibu-ibu, namanya Bu Ram dan anaknya mungkin usianya 10 tahun), anaknya sakit kuning. Dibawalah ke RSUD ALoei Saboe, dan bahkan sampai tiga hari kemudian, masih belum diketahui penyakitnya apa. Berceritalah saya pada teman saya yang dokter, dia bilang, kalau di Gorontalo susah untuk deteksi hepatitis A, B, atau C, dan hanya bisa deteksi hepatitis B. oleh Karena itu harus cek lab di Prodia (lab swasta dan ini nggak bisa diklaim ke BPJS untuk biaya cek lab pasien). Entah gimana, kayaknya nggak disuruh cek lab di Prodia, pada hari ketiga anak itu di RS (tepat hari itu saat saya jenguk, saya jenguk hari Kamis kalau nggak salah), malamnya, anak itu meninggal dunia. Gimana nggak meninggal dunia, saat saya jenguk, matanya udah ke atas-atas, mengawang-awang, dan kesakitan, sementara diasupi minuman teh kotak. Dan di ruang PICCU lho itu, nggak ada gitu kek perawat yang standby berjaga. Mana itu keluarga anak itu juga kok pasrah aja… huft. Miris.

Pernah juga, saya punya teman, dia punya saudara, teman saya namanya Pak Dar. Pak Dar ini punya saudara yang kecelakaan motor, dan entah gimana kepalanya terbentur (mungkin helmnya terlepas), lalu butuh operasi otak (atau operasi kepala, saya tidak tahu). Saya ketemu Pak Dar di RSUD ALoei Saboe, dan itu sudah hari ketiga sejak saudaranya kecelakaan.  Sudah tiga hari tapi baru mau dioperasi????

Aduh, saya nggak habis pikir, ya kenapa bisa kayak gitu? Itu kan opeasi yang perlu penanganan cepat. Dua orang temen saya, satu temen SMP dan satu temen kuliah, pernah kecelakaan dan operasi kepala juga, tapi bedanya kejadiannya di Klaten dan Jogja. Temen SMP saya, namanya Ima, langsung dioperasi di RSUD Klaten dan butuh masa penyembuhan mungkin 6 bulan, dan sekarang sudah bisa pulih dengan normal, bekerja dengan baik. Temen di Jogja, temen kuliah saya, namanya Meri, juga jatuh dari motor helm terpental, kepalanya terbentur dan dioperasi di RSUP Sardijto, dan sempat cuti kuliah satu semester, tapi sekarang pulih seperti sedia kala. Operasi-operasi macam itu butuh penanganan cepat, kan? Saya heran ini di Gorontalo lambat sekali penanganannya, masak setelah tiga hari baru mau dioperasi. Dan ya , keadiannya kedua teman saya ini juga helmnya terpental/terlepas sehingga kepala terbentur. Sama seperti saudara Pak Dar. Kata Pak Dar, ketika saya Tanya kenapa baru dioperasi, katanya menunggu persetujuan keluarga, karena operasi kepala. Saya heran?! Heran banget… entah dokterya ada atau enggak, entah dokternya nggak bisa, entahlah.. saya kok merasa dibuat-buat alasan RSUD nya. Miris banget.

Ada juga pengalaman teman saya, dia ada sakit, sehingga harus diangkat rahimnya, dan entah karena suatu kejadian (jatuh atau apa, saya lupa ceritanya, agak tidak ngeh waktu teman saya cerita karena waktu itu sibuk makan. LOL.) lalu dia harus mengalami kejadian gawat, dan dia langsung pergi ke RS di Singapura. Kalau orang kaya langsung ya larinya ke RS luar negeri. Kalau di GOrontalo mungkin nyawanya nggak tertolong. Alhamdulillah saat ini teman saya, masih sehat, dia tidak boleh makan klorofil dan asupan klorofilnya dari obat. Jadi deh dia tidak bisa makan sayur. Rata-rata rupanya kalau di sini, orang berada, nggak mau berobat di RS daerah, dan paling ya Manado, Makassar, atau ke Jawa, Jakarta dan bahkan luar negeri.

Ada juga pengalaman isterinya teman saya, dia operasi di RSUP Sardjito di Yogya. Intinya kalau punya uang, mereka malas berobat di sini.

Berdasarkan cerita teman saya yang dokter juga (teman saya dokter kontrak di salah satu RSUD di Gorontalo), banyak alat yang tidak tersedia di sini, dan kadang harus cek laboraturium di lab swasta macam Prodia. Banyak juga alat yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga tidak bisa membantu banyak saat (misalnya ) pasien sedang dioperasi , sehingga pasien teman saya ada yang Cuma bertahan semalam karena alat itu tidak fungsi dengan baik (saya lupa nama alatnya. Nanti saya tanyakan lagi). Ada juga alat yang mahal, yang butuh listrik dengan daya besar tapi akhirnya tidak pernah dipakai alatnya dan jadi rusak (karena ketika alat itu dihidupkan, listrik seluruh RSUD mati, karena tidak kuat), akhirnya alat tersebut malah rusak karena tidak pernah digunakan, dan akhirnya pasien harus cek lab ke Prodia. Alat ini entah namanya apa, tapi untuk periksa tiroid. Maka, pasien pun harus cek ke Lab Prodia. Padahal pun, letak Lab Prodia bukan dekat juga dengan RSUD. Bayangkan waktu dan tenaga yang habis duluan karena capek ke sana, belum lagi pasien kan harus nalangin sendiri untuk cek lab di Prodia, sebelum diklaim ke BPJS. Belum lagi cek seperti itu harus rutin sebulan sekali. Pasien mengeluh. Belum lagi masalah listrik byar pet, yang mana RSUD tidak menganggarkan untuk genset seluruh bangunan atau instalasi listrik, tapi cuma beberapa. Bahkan pernah di Limboto (Lokasi RSUD Dunda) tidak mati listrik tapi cuma RSUD Dunda yang mati listriknya. Saya tidak tahu kenapa?! Permasalahan listrik di RSUD tersebut tidak jelas kenapa, intinya masalah terjadi sebelum saya datang ke Gorontalo, jadi tidak tahu menahu, dan cuma dengar-dengar ada gardu listrik bodong, yang nggak ada listriknya, dan pernah menyeret pimpinan RSnya.

Hal lain lagi adalah masalah lab pada RSUD yang alat labnya bermasalah sehingga membuat dokter salah diagnosa. Salah seorang teman saya pernah cek lab dan hasil cek rontgen dengan darah hasilnya senada, bahwa ada tumor. Teman saya yang kaget dan shock, seakan tidak percaya, langsung pulang ke Jawa, dan cek lab di salah satu RS swasta di Jawa Timur. Hasilnya? Tidak ada tumor dan teman saya hanya sakit ringan. Maka, karena hal ini, teman saya yang bekerja di RSUD tersebut melaporkan kepada pihak Wakil Direktur RSUD, akan tetapi tidak ditanggapi sampai sekarang. Dan kejadian ini baru kira-kira sebulan lalu. Coba, kebayang nggak, kalau pasien lain gimana nasibnya salah diagnosa begitu?

Intinya, kata teman saya yang dokter, banyak sarana dan prasarana kesehatan yang kurang, yang akibatnya banyak orang mati sia-sia. Belum lagi masalah kebersihan dan masih banyak orang merokok di lingkungan RS. RS nya jorok banget, banyak tikus dan kucing (ini saya temui di RSUD Dunda dan RSUD Aloei Saboe) dan nggak nyaman kalau rawat inap di situ. Mana kata  temen, orang-orang RS suka banget jual beli kamar, jadi kalau ada orang butuh suka dibilang full. Ini saya kurang tahu sih karena belum meneliti lebih lanjut, tapi katanya di RSUD, ini praktik yang lazim.

Heran deh, dengan orang RS yang mau mengembangkan ini itu, tapi lihat pelayanan dasarnya aja masih acak adut. Belum masalah obat yang sering habis. Atau kurangnya dokter-dokter. Di sini kebanyakan dokter praktek yang setahun itu, dan jarang yang mau balik. Dokter-dokter yang disekolahkan pihak RSUD saya nggak tahu tuh pada balik nggak di Gorontalo?

Duh yah semoga aja layanan kesehatan di negeri pelosok yang masih Indonesia ini lebih baik, pemerintah daerahnya menganggarkan lebih banyak untuk kesehatan masyarakatnya.

Sekian dulu berbagi pengalaman kesehatan di negeri rantau. Intinya jaga kesehatan dan jangan sampai sakit,kalau sakit nelangsa.

Saya sempat mengambil foto keadaan salah satu RSUD, lain kali saya upload ya. Saya perlu memindahkan foto-foto dari HP saya ke laptop (ngetik blog lebih enak di laptop soalnya).

Oh ya dan kesimpulan atas permasalahan dan uneg-uneg yang pernah saya alami, rasakan antara lain:

  1. Sarana dan prasarana kesehatan kurang (meliputi RS sendiri, alat-alat yang tidak berfungsi dengan baik, alat-alat yang tidak bisa digunakan, listrik yang tidak cukup dalam mensuplai kebutuhan).
  2. Tenaga medis yang kurang (kurang dalam artian jumlahnya, dalam menangani pasien, kurang jumlah spesialisnya, kurang cekatan, kurang tanggap, kurang perhatian terhadap pasien).
  3. Birokratis rumit untuk pasien menengah ke bawah (terutama pasien BPJS, termasuk pasien pindah domisili)
  4. Sarana dan Prasarana FKTP (fasilitas kesehatan tingkat pertama) yang sangat kurang dan tidak bisa dibandingkan dengan beberapa puskesmas di Jawa. Sebab bahkan teman saya yang dokter di Jawa mengatakan lebih baik di puskesmas daripada di RSUD.
  5. Manajemen RSUD yang tidak seragam, menjadikan gaji dokter antar kabupaten juga berbeda-beda, dan juga pelayanan dan penghargaan kepada para dokter dan tenaga medis tergantung bagaimana manajemen memperlakukan mereka.

Saran yang tercetus berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman:

  1. BPJS itu ribet, rumit, dan tidak praktis. Bisa tidak sih dibikin satu kartu, bisa dipakai di RS yang kerjasama dengan BPJS di mana saja, tidak harus tiap pindah urus lagi surat keterangan domisili, lalu harus ke puskesmas dulu dan lainnya? Ya seperti di luar negeri, gitu, asal udah ada asuransi kesehatan, juga langsung ditindak cepat penanganannya. Tidak perlu lagi minta surat jaminan BPJS (jadi tiap RS tidak perlu bikin kantor BPJS dan kita harus antri minta surat jaminan BPJS).
  2. BPJS itu kan harus ke faskes pertama, seperti puskesmas, nah padahal kualitas puskesmas di tiap tempat berbeda, bahkan kualitas RSUD tiap kabupaten berbeda. Ya mungkin memang untuk penyakit ringan yang ditangani puskesmas, puskesmas juga siap sedia, ada tenaga medisnya, dokter dan perawat ada, obat ada, alat ada, jadi orang ya nggak usah susah-susah ke RSUD. Temen saya pernah tuh ke puskesmas daerah terpencil, masih di Gorontalo, tapi entah di mana saya lupa, semacam puskesmas pembantu pokoknya, keadaannya mengerikan (dalam artian tidak ada pelayanan yang baik dari segi bangunan, alat kesehatan, etos kerja tenaga medisnya), yah harusnya ada standarisasi untuk faskes pertama dan pemerataan fasilitas kesehatan serta tenaga medisnya.
  3. Mengenai dokter-dokter di pedalaman, saya bisa mengerti kenapa mereka malas ke daerah. Udah penghargaan nggak sebanding, mana alat yang dibutuhkan nggak ada, staf yang diajak kerjasama kerjanya lelet, lamban. Mereka pun yang kerja di sini juga miris kalau melihat pasien yang banyak mati sia-sia karena alat tidak ada atau obat yang tidak ada. Mestinya Pemerintah kasih solusi dan imbalan yang tidak kalah dengan dokter-dokter di RS swasta dan RSUD di Jakarta dan rata-rata di daerah Jawa. Dokter setelah mengabdi setahun di sini, rata-rata malas balik ke pedalaman. Mereka berpikir lebih baik berkarya di kota-kota besar dan kampung halaman.
  4. Kemampuan tenaga medis dan kesiap-siagaan dalam bertindak. Rata-rata tenaga medis di sini bergeraknya lamban, seolah-olah tidak siap untuk kasus-kasus yang butuh penanganan cepat, sehingga pasien banyak yang harusnya bisa tertolong tapi lalu mati. Semestinya dilatih, dikasih lah pelatihan apa gitu yang biar cak-cek siap siaga dan cekatan tenaga medisnya, jangan kerja slow motion lambat kayak gitu, keburu mati pasiennya, belum lagi urusan alat pemeriksaan yang kurang (sehingga pasien yang harus ke lab swasta seperti Prodia).
  5. Banyak orang masih merokok di lingkungan kesehatan. Nah ini rasanya perlu dibantu ketegasan oleh Peraturan Pusat, mengeluarkan PP atau apa dari Kementerian Kesehatan, karena saat ini kesannya jadi seperti angin lalu, ya tergantung orang-orang di RSUD masing-masing dan Pemerintah Daerahnya, bahkan petugas lab pun merokok! Tidak cuma pengunjung, atau pasien.
  6. Saya rasa Pemerintah Daerah harus dihimbau untuk mengalokasikan kesehatan sekian persen, sebagaimana alokasi pendidikan 20%. Kalau tidak begitu, ya terus saja pejabat-pejabat itu kalau berobat ke luar daerah. Coba deh saya penasaran gitu pejabat itu berobat di Gorontalo. Saya pernah ngobrol dengan salah seorang manajemen RSUD dan dia bilang dia pernah survei kepada pasien, dan hasil survei mengatakan RSUD tersebut jorok, dan orang manajemen RSUD itu bingung, dia bilang jorok dari mana? Dalam hati saya, haduh pak apa ya tidak pernah keliling RS? Saya aja yang sekedar jalan aja kecium bau apek, bau tikus, dan bau tak sedap lainnya.
  7. Masih seputar kebersihan RSUD, saya rasa harusnya ada ya standar kebersihan yang layak. Apa ya RSUD itu tiap tahun tidak pernah diperiksa? Kok tiap tahun begitu-begitu aja? Nambah bersih nggak, nambah kucing dan tikus iya! Bahkan di RSUD Dunda itu sekarang ada sayembara yang bisa menangkap kucing diserahkan ke manajemen dan dapat uang. Yah mana ada yang mau melaksanakan… Kerjaaan banyak masih disuruh nangkap kucing?Harusnya tiap RS itu ada kesadaran, dan juga dari pusat menetapkan standar kebersihan RSUD di daerah. Saya pengen deh sekali-sekali pejabat pusat datang dan rasakan seperti apa pelayanan di RSUD, tanpa dikawal (jadi belum dibagus-bagusin sama staffnya pelayanannya). Biar tahu seperti apa di daerah.
  8. Perlunya sosialisasi kesehatan ke masyarakat lebih masif. Banyak masyarakat itu tidak tahu kesehatan, cuek, dan malas, sehingga ketika sakit, ditanya asuransi tidak punya. Kalau di sini, banyak masyarakat yang sakit kena ginjalnya karena konsumsi oplosan. Nah, ini kan berarti mereka cuek atau tidak tahu bahaya menenggak oplosan? Selain itu, masyarakat yang masih percaya mistis-mistis, dan takut berobat ke dokter. Pernah ada kejadian, seorang ibu (ini cerita dari teman saya di Papua), yang akan melahirkan dan melahirkan di dukun anak, dan perutnya diinjak karena bayinya tak kunjung keluar! Sehingga bayinya meninggal. Haduh, coba deh sejak awal dibawa ke tenaga medis yang kompeten, mungkin bayinya diinduksi dan masih hidup! Tidak hanya itu saja, mengenai patah tulang yang banyak kejadian, pergi ke tukang urut, bukannya ke dokter tulang, yang akibatnya malah makin membusuk itu tulang karena patah. Saat datang ke dokter, malah harus diamputasi, padahal awalnya cuma sepele dan masih bisa disambungkan.
  9. Saya rasa perlunya beasiswa pendidikan kedokteran dan manajemen RS yang baik di luar daerah (kalau perlu sekalian ke luar negeri) supaya setelah lulus mereka mengabdi ke kampung halamannya. Kalau sekarang kan orang-orang (dokter pada umumnya) yang mengabdi di daerah pedalaman, setelah ambil spesialis, mana mau balik lagi ke pedalaman.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s