What People Dream, What People Reach, What People Leave


Kemarin hari saya menulis tentang apa-apa yang menghambat jodoh, ya termasuk menghambat rezeki. Salah satunya adalah visi misi hidup. Nah berhubung saya kebanyakan galau, saya sendiri sebetulnya belum menemukan visi misi hidup saya mau dibawa ke mana. 

Keadaan sekarang, ya saya bekerja. Ya, saya di kota besar, dengan gaji lumayan yang bisa ditabung. Tapi ngomong-ngomong saya mikir lagi, ditabung untuk apa ya? Untuk biaya kesehatan? Untuk biaya kecantikan? Untuk jalan-jalan? Untuk orangtua? Untuk disumbangkan (misal wakaf, atau lainnya? Untuk haji? Yang menjadi pikiran adalah kalau, kalau, kalau saya menikah, kira-kira hidup saya mau dibawa ke mana ya? Apa saya akan keluar dari pekerjaan sekarang dan ikut suami? Sebab pekerjaan saya yang mengharuskan pindah-pindah? Apakah saya akan jadi fulltime mother and wife, dan sebagai house maker (catat ya bukan housewife yang kerjaannya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sebab housemaker tugasnya mendidik anak, membuat rumah merasa aman bagi keluarga, tempat berpulang bagi keluarga)? apakah saya mampu ya tidak kebosanan? Apakah saya rela meninggalkan karir?

Dan,,, semuanya banyak apakah, dan apakah. Intinya saya tidak tahu mau dibawa ke mana. Saat ini yang saya lakukan adalah melakukan yang apa saya bisa saat ini. Mencari jawaban atas kehidupan dengan mencari ilmu, pergi dari suatu majelis ilmu ke majelis ilmu lain, bersilaturahim dengan saudara-saudara yang telah terpisah maupun yang dekat, menjalin hubungan pertemanan dengan orang-orang baru, meningkatkan kapasitas dalam ilmu agama, dan juga memperkuat fisik.

Kadang-kadang, dalam satu minggu dengan jadwal yang padat, saya pun berlari-larian dari satu tempat ke yang lain, pagi ke A, siang ke B, sore ke C. Sampai nenekku berkata, “Kamu nggak ada capeknya ya?” Haha. Padahal saya pun kadang bertanya, kenapa saya begini? APa yang saya cari? Saya lari dari apa?

Tapi, saya pun punya banyak keinginan. Pengin haji, iya. Pengin nikah iya, punya anak dan mendidiknya jadi ahli surga supaya bisa ikut ke surga juga iya. Mempunyai karir yang bagus juga iya. Bisa merasakan berbagai tempat di dunia, bergaul dengan berbagai manusia, juga iya. Belajar juga iya, karena belajar salah satu kegemaran saya. Pengen lanjut, S2, S3, dan seterusnya setinggi-tingginya.

Sesungguhnya bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah? Saya pun tidak tahu bagiamana mencapainya, saya hanya berusaha dan berdoa, yang saya bisa. Di saat orang lain, jalan-jalan ke mall, atau berbelanja, saya memilih kegiatan yang lain. Di saat orang lain menghabiskan waktu dengan nongkrong berjam-jam, saya memilih yang lain. Saya mempertimbangkan yang mana bermanfaat, lebih berguna untuk masa depan, maksudnya. Oleh karena itu memang tidak heran saya semenjak dulu selalu mencoba berbagai macam hal, mulai kegiatan tulis menulis, menjadi reporter, belajar masak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga (misal belanja, masak, bersih-bersih, setrika, cuci), melakukan kegiatan yang menantang, semisal arung jeram, paralayang, susur gua, naik gunung, sampai belajar make-up (menjelang wisuda baru mulai belajar sih sebenernya), belajar pakai high heels, bahkan berlari dengan hak tinggi seperti sudah jadi hal yang lumrah, belajar berbagai macam bahasa (ini kesalahan karena kok belum ada yang expert, semuanya serba nanggung.

Ya mungkin karena tidak jelas mau ke mana, saya kebanyakan coba banyak hal, dan ya misalnya berhenti tiba-tiba. Misalnya lagi kerja di suatu kota A, sambil belajar bahasa Arab. Tapi tiba-tiba disambi cari kerja lagi, dan ternyata pindah ke kota B. Pengen lanjutin belajar bahasa Arab di kota B, tapi kok ya sepertinya belum ya? Kalau kata seorang teman, ya itu sih tergantung niat, kalau niat mau bagiamanapun tetap dijalani. Ya memang betul sih itu juga. Saya sering soalnya mengajak atau diajak orang yang nggak niat, dan alasannya aja ada, sehingga terpaksa saya seringnya pergi sendirian pada akhirnya. Itulah repotnya karena hidup tidak jelas ke mana.

Makanya momentum Ramadhan ini menjadi ajang saya utnuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia. Tapi ya kok saya ngerasanya ada yang kurang dengan Ramadhan. Sholat taraweh dan sholat malam tidak maksimal. Tilawah tidak maksimal. Bahkan menghadiri majelis ilmu tidak maksimal. Bahkan pola makan tidak teratur, sering makan berbuka hanya cemilan, maghrib, lalu isya tarawih lalu tidur. Sepertinya terlalu banyak tidur pada Ramadhan kemarin. Apalagi ketika Ramadhan berakhir. Sepertinya keadaan jiwa saya merosot drastis. Apakah terlalu banyak makan, minum, mengobrol, atau tertawa, atau membicarakan kejelekan orang lain? Entah ya tapi Lebaran itu kan moment ketemu dengan banyak orang, dan banyak ngobrol, dan banyak ngomongin orang. Walau sebenernya tidak ada niat untuk itu, tapi kalau ikut denger apa yang orang omongin tentang orang lain juga… ya endingnya sama ikutan dosa, kan ya?

Bulan Syawal adalah bulan peningkatan, kan ya? Seharusnya saya tetap mempertahankan apa yang telah saya tanam selama Ramadhan. Dan tetap meminta petunjuk Allah, apa yang harus saya lakukan? APa yang sebenernya saya impikan? Apa yang harus saya tinggalkan/korbankan? Karena saya belum bisa mendefinisikan semua itu, maka kriteria calon suami yang saya impikan belum bisa saya gambarkan di benak. Dan ke mana hidup saya berjalan, saya juga belum bisa mendefinisikan. Impian saya hanya satu, bisa selamat di akhirat, beserta keluarga saya, dan meninggal khusnul khotimah.

Iklan

4 thoughts on “What People Dream, What People Reach, What People Leave

  1. Subhannallah. Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Alhamdulilllah beberapa pesan yang disampaikan dalam tulisan kamu seakan mengingatkan saya. Alhamdulillah meski ga sengaja bertukar pesan bahkan belum bertemu tapi ada suatu manfaat atau hikmah yang bisa saya ambil.

    Semoga Allah membukakan jalan, membuat kamu lebih fokus, dan memberikan kamu apa yang kamu inginkan, jodoh misalnya.

    Saat ini saya sendiri seakan-akan kembali menemukan jalan, tapi benarkah jalan tsb, Wallahu alam bis shawab.

    Saya mulai menggali passion saya, saya mulai merintis bisnis saya, saya mulai membangun mimpi saya, dan terus berharap Allah menolong saya dan kadang kuatir, namun terus berusaha dan berserah diri.

    May Allah be with you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s