Sudahkah Kita Toleransi?


Saya terkadang gagal paham apa yang dimaksud dengan toleransi. Karena seringkali toleransi itu kebablasan dan sampai menginjak hak-hak orang lain. Bukankah kita memang masing-masing punya hak asasi manusia dan jangan sampai hak kita bersinggungan dengan hak orang lain?
Saya hanya heran dengan orang-orang yang meneriakkan toleransi. Sudahkah mereka menerapkannya dalam kehidupan mereka? Saya tak hendak menunjuk atau menuduh, tapi karena saya datang dari keluarga bermacam-macam dan juga berdasarkan pengalaman beberapa teman, maka makna toleransi agak-agak sedikit berbeda, maksud saya, tidak seperti yang biasa didengungkan oleh para aktivis yang mengaku membela pluralitas kehidupan bernegara di Indonesia.
Berikut ini adalah kisah-kisah di sekitar saya, dan kesemuanya adalah nyata. Saya tak hendak mengatakan nama atau agama mereka, biarlah orang-orang bisa menilai secara jernih dan tidak ada kecenderungan.

Keluarga saya ada yang beragama A, tapi ada juga yang beragama B. Ada salah seorang keluarga yang beragama A, sebut saja Mawar, yang menikah dengan orang beragama B. Kami udah cukup toleransi dengan tidak mengutak-atik keluarga kecil mereka. Tapi apa balasannya? Si pendatang tidak cukup mengajak Mawar masuk agama B,tapi pendatang dalam keluarga besar kami ini hendak menjadikan anggota keluarga yang lain (yaitu saudara kandung si Mawar dan orangtua Mawar) agar beragama sama sepertinya, yaitu beragama B. Lalu ketika anak-anak mereka beranjak dewasa dan mau menikah dengan orang beragama A, si orangtua yang beragama B melarang menikah. Mawar dan suami punya kalau tidak salah 6 orang anak, semua anaknya mau menikah dengan orang beragama A, akan tetapi semua dilarang, entah bagaimana akhirnya, apakah menikah beda agama atau tidak, tapi ada 1 orang anak dari mereka yang tidak menikah hingga sekarang, karena mungkin anak mereka dilarang pindah agama ke agama A.
Lalu, ada pula keluarga kami, sebut saja Melati, beragama A, menikah dengan orang beragama B tapi suami Melati mau pindah agama jadi A. Nah tapi suami Mawar tadi berusaha mengembalikan suami Melati jadi agama B. Betapa tidak tolerannya dia? Mengapa mau mengutak-atik keluarga inti orang lain? Bahkan sampai-sampai ketika suami Melati sakit keras dan hampir menjelang ajal, suami Mawar mendatangkan sepasukan orang khusus utk bacakan doa ala agama B untuk suami Melati. Padahal kan suami Melati bukan beragama B? Sehingga Melati yang merasa tidak aman dari orang-orang ini sampai menyembunyikan informasi di mana RS tempat suaminya dirawat. Keluarga besar pun sampai tidak tahu keberadaan suami Melati. Yah mau gimana lagi, kalau ada pihak keluarga besar tahu, sangat gampang bagi suami Mawar yang masih keluarga untuk tahu juga. Maka sampai meninggalnya suami Melati, kami baru tahu. Dan, masih saja pihak-pihak pembela dari suami Mawar menganggap Melati jahat sekali karena memaksa suaminya untuk masuk agama A, dan menguburkan suaminya dengan cara agama A. melati sangat sedih dikatakan demikian, karena notabene menjelang akhir hayatnya, suami Melati itu memang sudah kembali lagi ke agama A, setelah beberapa tahun lamanya dirongrong melulu oleh pihak-pihak agama B dari pihak suami Mawar.
Ada juga keluarga, sebut saja Anggrek. Dia beragama B, menikah dengan orang beragama A. Tapi suami Anggrek antara mau tidak mau masuk agama B sebab perekonomian keluarga mereka dipegang Anggrek. Anggrek yang seorang PNS seolah lebih memegang kendali dalam keluarga mereka. Pada awalnya pun, Anggrek pura-pura mau masuk agama A. Dia pun sempat mengatakan akan masuk agama A mengikuti calon suaminya ketika menikah. Tapi ternyata itu hanya akal-akalan Anggrek. Nyatanya dia menikah dengan dua cara agama, yang mana entah diakui sebagai agama apa catatan pernikahan mereka. Nah,  Anggrek ini punya adik, sebut saja Jati. Jati ini agamanya B tapi menikah dengan wanita beragama A. Lalu Jati masuk agama A. Oh ya, Jati ini menikah lebih dulu daripada Anggrek. Tapi entah bagaimana Anggrek menpengaruhi keluarga adiknya dan menyuruh Jati pindah agama ke B lagi. Jadi, sebenarnya di mana batas toleransi ini? Saat Jati sudah memutuskan akan menikah dengan orang beragama A dan saat ia memutuskan pindah agama A, mengapa kakaknya masih mengganggunya? Anggrek ini seperti memanfaatkan kuasanya lagi, secara ekonomi, karena kehidupan keluarga Jati tidak begitu bagus dan banyak dibantu oleh Anggrek. Istri Jati akhirnya untuk sembahnyang pun harus sembunyi-sembunyi. Ah entahlah bagaimana dengan anak mereka?
Kalau ini kisah terjadi di lingkungan saya. Di tempat ini, banyak warga yang beragama A, tapi entah bagaimana, dalam dua kali periode ketua RW dipegang oleh orang beragama B. Nah, kurang toleransi apa coba? Tapi, ketua RW ini tidak toleransi pada warganya. Ketika ada acara-acara keagamaan di tingkat kelurahan, dia tidak memberitahukannya kepada warganya. Bahkan, dia bisa-bisanya mendirikan 4 tempat ibadah agama B di tempat yang tidak ada tempat ibadah agama A. Tempat ibadah agama A pun disumbangkan oleh seorang juragan di kelurahan tersebut, sehingga kecil dan tidak memadai. Lalu bagaimana nasib tempat ibadah agama B yang ada banyak tersebut? Kosong, atau kalau tidak, malah orang-orang yang datang beribadah di sana adalah orang luar warga RW sini, terbukti mereka datang ke tempat ibadah tersebut dengan mobil. Suatu waktu, sudah ada bantuan dana sebesar 1 M untuk membeli tanah di pojokan desa untuk dibangun tempat ibadah agama A. Tapi orang-orang agama B menghalangi dan malah dibeli mereka dan didirikanlah sebuah tempat ibadah agama B baru. Lalu warga pun gerah dengan perlakuan ketua RW, sehingga warga ramai-ramai mencalonkan ketua RW baru yang beragama A, sehingga dapat lebih berempati kepada mereka. Saat pemilihan pun, ketua RW lama tersebut melakukan akal-akalan. Setelah 18 ketua RT kondolidasi, 12 ketua RT menyatakan mendukung ketua RW baru yang mereka calonkan, dan sisanya masih mendukung ketua RW lama. Akan tetapi ketua RW lama ini menyuap 3 orang ketua RT, sehingga perolehan suara sama. Warga pun marah, karena tahu ketua RT bisa disuap. Maka, warga pun mengusulkan tiap ketua RT mengajak 7 orang warganya untuk mewakilkan memilih. Lalu, ketua RW menang telak. Dan baru lah pada periode ini, tempat ibadah agama A bisa diajukan untuk renovasi sehingga menjadi besar dan bisa dipakai menampung lebih banyak warga. Sekarang, para orang-orang agama B, tidak henti-hentinya bersikap intoleran. Mereka mengadakan PAUD untuk anak-anak yang mana anak-anak diberi pelajaran, dan juga hadiah-hadiah, harapannya agar menyeret mereka dan orangtua anak-anak untuk masuk agama B. Padahal kan warga di sana itu ya beragama A kebanyakan. Sekarang ini, orang-orang beragama B, yang sudah punya tempat ibadah 4 tadi, menggunakan rumah warga sebanyak 2 buah untuk tempat beribadah mereka. Tempat ibadah tidak resmi namanya dan melanggar aturan pemerintah, bukan? Proporsi warga dan tempat ibadah tidak berimbang sama sekali.
Yang ini, kisah sebuah keluarga juga, dan ini tetangga. Tetangga, nikah beda agama, aku tidak tahu yang mana yang agama A dan yang mana yang B. Tapi anak mereka ingin ikut agama A. Tapi dilarang-larang oleh ibu/bapaknya yang beragama B. Padahal hak seorang anak, kan memilih agama apa, karena orang tuanya beda agama. Bahkan kalau orang tuanya sama agamanya, seharusnya orang tuanya membebaskan anaknya milih agama apa karena itu adalah hak asasi. Orangtua yang beragama B ini melarang-larang anaknya untuk ikut peribadatan agama A.
Ini ada kisah lagi, temannya teman. Teman terlahir dari orangtua beda agama juga. Anak lelaki ikut agama ayah, anak perempuan ikut agama ibu. Nah, ini kan pemaksaan orangtua secara sepihak, kan, karena ya, kembali lagi bahwa anak punya hak masing-masing untuk memilih agama sesuai hati nuraninya?
Kisah berikutnya adalah temannya adik saya. Temannya adik terlahir juga dari orang tua beda agama. Dan posisinya juga dibagi-bagi, anak nomor berapa sampai berapa ikut ayah, anak nomer berapa ikut ibu. Intinya temannya adik saya kebagian jatah agama B, sedangkan kedua kakaknya dapat jatah agama A. Akan tetapi teman adik saya ini mau masuk agama A. Dia pun minta temannya untuk minjam buku-buku agama A. Pertanyaannya, kenapa dia tidak nanya aja ke orangtua atau kakaknya yang beragama A, kenapa malah nanya ke temannya? Ini menimbulkan pertanyaan, sehingga jangan-jangan dia sudah dijatah agama B, jadi tidak boleh pindah agama A?
Kisah lain lagi adalah kisah seorang teman. Awalnya aku tidak tau dia terlahir dari orang tua beda agama. Ibunya agama A, ayahnya B. Tapi teman saya dan adiknya beragama ikut ibu, yaitu beragama A. Dan ternyata ya, keluarga besar teman saya ini juga terdiri dari orang beragama A dan B. Kakak ayahnya (ayahnya kalau tidak salah bersepuluh bersodara) ada yang beragama A, karena kakak ayahnya menikah dengan wanita beragama A. dulunya, kakak ayahnya menikah dengan orang beragama B juga, tapi cerai. Lalu kakak ayahnya ini menikah lagi dengan wanita beragama A dan pindah agama A. Adik ayahnya ada yang tetap beragama B. Sampai saat ini, kondisi keluarga teman saya masih demikian. Yaitu ayahnya masih beragama B, sementara dia, ibu, dan adiknya beragama A. Ibunya bahkan telah berangkat haji dan juga telah mengenakan hijab. Mungkin ini adalah contoh toleransi yang baik? Saya kurang tahu bagaimana kehidupan mereka dengan kondisi yang berbeda seperti itu.
Ini juga cerita tentang teman. Dia beragama B, ibunya B, dan ayahnya A. Lalu, entah bagaimana mereka semua sepakat pindah agama A. Apakah ada sikap tidak toleransi karena akhirnya semua pindah satu agama? Saya rasa tidak, karena saya pernah bertanya, dan teman saya bilang bahwa dengan seiring berjalannya waktu, mereka memutuskan demikian.
Saat orang sudah menghormati dan tidak mengganggu hak orang lain, justru orang yang lain yang memanfaatkan dan malah merongrong dengan menuntut ‘toleransi’ dan dibumbui pakai kecap bahwa mereka pihak yang tidak diberi toleransi. Makanya,jika ada berita-berita miring tentang ketidak-toleransi, lihat dulu, akar masalahnya bagaimana. Kadang-kadang banyak hal yang diputarbalikkan. Lihat-lihatlah sekeliling, orang-orang tertentu melakukan perbuatan tertentu.

Iklan

3 thoughts on “Sudahkah Kita Toleransi?

  1. Agama B yg anda maksud menurut pengamatan saya selama ini memang agama yg pandai menghasut, memutar balik fakta, agama yang dapat bersilat lidah dengan kata2, agama yg penuh kemunafikan. Mereka berdalih dengan cinta kasih untuk mengelabui umatnya. Ajaran agama hanya doktrin semata yg tidak pernah benar2 diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    • saya tidak menyebutkan nama agamanya, tapi jika anda melihat ada agama seperti itu di sekitar anda, mungkin memang yang dimaksud adalah sama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s