Tempat Yang Ditakdirkan


Tahun lalu, aku mencari pekerjaan baru, dan entahlah pengumuman itu tiba dan yang tercepat yang saya ambil, layaknya oportunis sejati. Yah biarlah. Saya sebagai perempuan memang pengennya mandiri, walaupun ketika menikah tidak wajib kerja, tapi ketika belum menikah, maka saya wajib menghidupi diri sendiri. Baiklah. Maka, demikianlah saya hijrah ke kota besar, kota yang dulu saya benci, kota yang saya tidak pernah mau lama-lama sampai lebih dari seminggu, tapi akhirnya saya harus bermukim di sini. Kota sejuta impian, di mana apa saja ada. Dan, di sini lah saya.

Di sini adalah kelurahan di mana tempat terpadat se Indonesia. Saat  aku menyusuri tempat-tempat ini untuk pertama kalinya menginap di rumah kakek dan nenekku, aku ternganga dengan tempat ini. Lebih-lebih ketika mendengar cerita-cerita nenekku tentang kelurahan ini.

Kelurahan ini terletak di daerah Senen, dekat dengan stasiun, kalau memasuki daerah sini nanti pasti akan ada rel-rel kereta api yang mengarah ke stasiun Senen. Dulunya daerah ini adalah pemekaran dari Cempaka Putih dan dulunya lagi adalah pemekaran dari Senen. Oleh karena itu, kakek dan nenekku serta saudara lain menyebut tempat ini tetap dengan Senen.

Nah, mengapa aku sangat takjub dengan lingkungan sini? Pernah membayangkan tidak kalau di lingkungan tempat tinggal adalah daerah dengan peredaran narkoba yang tinggi, dan disebut-sebut daerah kriminalitas tinggi, dengan kepadatan penduduk yang termasuk padat se INdonesia bahkan se ASEAN, dan juga daerah kumuh dengan selokan yang tentu saja kotor dan bau. Tinggal di kota yang paling aku benci dulunya adalah sudah Wow banget, ditambah ternyata aku berada di seburuk-buruk lingkungan yang pernah aku temui. Saking mepetnya rumah, bahkan tetangga sedang menggoreng, sedang berbicara, aku mendengarnya. Bahkan kalau mendongakkan kepala ke atas, akan terlihat tetangga di lantai 2 sedang menjemur pakaian. Bener-bener padat. Tak berapa jauh dari situ, ada sebuah laundry, dan aku pernah mau masukin laundry ke sana, walaupun aku sempat curiga kok tidak pernah kelihatan baju-baju kering, jemuran, atau cucian. Tetapi, suatu hari aku pun tahu bahwa laundry itu bukanlah laundry. Itu adalah sebuah  tempat berkumpulnya pria-pria berotot, tempat memuaskan nafsu birahi. Jeng… Jeng…. *menelan ludah*

Lingkungan di daerah sini, memang mungkin kurang dari segalanya, yang bisa dibilang lingkungan yang tidak sehat sama sekali. Karena beberapa lama aku tinggal di tempat ini, beberapa cerita mengalir dari nenekku. Salah satunya adalah kisah bahwa satu Rukun Warga pernah dipimpin oleh Non-Muslim. Apa masalahnya memang kalau dipimpin mereka? Ya sebenarnya tidak ada masalah kalau merekanya tidak macam-macam dan baik. Tapi nyatanya dia punya agenda. Dalam periode kepemimpinan dia, dia mendirikan 4 buah gereja. Padahal, mayoritas masyarakat adalah Muslim, tapi tempat ibadah saja hanya ada musholah kecil, itupun sumbangan dari juragan Bajaj. LEtaknya makanya di dekat rumah juragan, yang tidak jauh dari rumah kakekku. Coba pikirkan, mengapa umat Muslim sedemikian tidak dipedulikannya jika ketua RW memang orang baik? Lalu, jika ada undangan-undangan pengajian, yang ditujukan kepada warga RW, maka tidak akan disampaikan oleh isteri ketua RW tersebut. Setelah gereja berdiri 4 buah, memangnya apalagi kalau bukan mengajak warga untuk jadi jemaat gereja? Yang begini ini mudah sekali terbaca kan? Warga diberi ini-itu, yah memang modusnya mudah ya kalau warga miskin diberi kebutuhan pokok lalu diajak ikut masuk. Saya bukannya berprasangka buruk ya, tapi memang saya punya kakek yang juga misionaris, yang meamng ada dapat kucuran dana tiap berhasil memasukkan orang untuk ke agamanya. Baiklah, keluarga saya memagn warna warni, tapi kami pun sebenarnya enggak masalah kalau mereka nggak macam-macam. Tapi ya masalahnya kakek saya yang misionaris berusaha mengKristenkan keluarga kami yang Muslim. Nah, lhoh apa bukan pemaksaan? Dan ketua RW tersebut, mungkin bisa jadi masih mengincar jabatan ketua RW untuk periode ke depan. Dan, dari Ketua RW tersebut sama sekali berantakan administrasinya, ketika serah terima cuma diserahin apa gitu, yang jelas pelaporan dana, dan lain-lainnya tidak jelas.

Sekarang pun, setelah kakekku lengser, karena capek dan juga sudah tua, maka ketua RW di sini non-Muslim lagi. Kenapa kakekku lengser? Ya walaupun kakekku sudah diminta warga untuk jadi ketua RW lagi, tapi kakekku menyatakan tak sanggup, karena capek, malam-malam bisa digedor pintu rumah untuk melerai tawuran warga. Lalu belum lagi tentang pencurian, dan juga tak henti-hentinya warga berdatangan ke rumah, entah ada saja urusannya. Yah maklum karena pemukiman padat, penduduknya banyak, masalah juga banyak.

Waktu akhirnya kakekku jadi ketua RW, nenekku pun otomatis jadi ketua ibu2 PKK. beliau bersama2 mendirikan PAUD untuk anak-anak. Tapi setelah kakekku lengser, entah bagaimana PAUD ini perlahan tidak terawat, entah kurang dana atau apa. Karena udah bubar, maka anak-anak ekcil ini mau ke mana? Nah lhoh pihak gereja membikin acara untuk anak-anak ya semacam PAUD dan diajari macem-macem. Ya awalnya ilmu-ilmu umum, masak sih beramal baik enggak boleh? Tapi masalahnya tidak cuma itu, tapi juga mereka menyisipkan ajaran-ajaran mereka, ke anak-anak yang masih kecil itu. Saya tidak tahu ya itu anak-anaknya Muslim atau memang sesuai agama, tapi melihat proporsi masyarakatnya pun, semestinya anak-anak Muslim, apalagi PAUD yang umum juga sudah bubar.

Oh yah, dalam masa-masa awal untuk ikut pengajian ibu-ibu di kelurahan (atau kecamatan, aku lupa), nenekku pun harus memancing ibu-ibu dengan pemberian jilbab gratis bagi yang datang pengajian, dan juga menyediakan mobil untuk datang. Betapa butuh perjuangan besar untuk sekedar mengajak pengajian.

Aku pernah bertanya pada nenekku, kenapa orang-orang Muslim banyak yang tidak peduli? Yah katanya emrak lebih cenderung cuek, apatis. Sedih ya? Tapi aku pun seperti bisa memahami. Waktu yang sempit,dan juga urusan tetek bengek dan hidup di lingkungan seperti ini membuat kita menjadi cuek, tidak peduli dan masa bodoh.

Aku pun, awalnya tidak peduli. Karena aku Senin-Jumat kerja, lalu Sabtu-Minggu keluyuran entah ke mana, pasti aku pergi. Smeentara ketika pulang kerja aku pun selalu langsung sholat, mandi, makan, dan plek tergeletak di kasur dan bangun pada subuh paginya. Memang kesannya aku tidak sopan, ya? Udah numpang pula, kelakukan kayak anak kos. Maafkan aku nenek dan kakek! Ngobrol-ngobrol dengan kakek nenekku jarang dilakukan juga. Dan akhirnya alhamdulillah suatu hari, dan sedikit demi sedikit bisa meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol dan bercengrakama bersama keluarga. Dari situlah cerita-cerita mengenai linkungan tempat aku tinggal bermula.

Sekarang aku hendak cerita tentan masjid.

Beberapa petak dari rumah yang aku tempati, ada sebuah gang kecil, dan itu ada mesjid yang juga kecil. Betul-betul bukan tampak seperti masjid. Aku pikir bahkan itu rumah, kalau tidak ada plang papan namanya. Bahkan tidak ada kubahnya. Masjid ini, sepeti aku kisahkna di atas adalah awalnya mushola. Sumbangan dari juragan bajaj. Kisah akhirnya mushola ini bisa menjadi mesjid barulah pada masa periode kakekku menjadi ketua RW. Ceritanya begini, saat masa pemilihan gubernur jakarta, ada pertemuan dengan camat dan lurah dan juga RW, intinya konsolidasi untuk memenangkan salah satu calon. Nah, tetapi, nenekku bilang begini, “Maaf, bu, tapi Pak A tersebut aja enggak pernah ke sini. Otomatis warga lebih tertarik pada Pak B. Bahkan Pak B saja udah pernah sholat di mushola di RW kami.” Yah, bayangkan! Calon gubernur sholat di mesjid di RW itu, bukan RW lain, padahal RW lain mugnkin ada masjid lebih yang bagusan, atau gedean. Akhirnya Camat tersebut tertohok dan mulailah dikucurkan dana bantuan untuk pembangunan mushola tersebut, dan jadilah masjid dua lantai. Alhamdulillah.

Tapi, belum cukup sampai di situ. Karena renovasi masih berjalan. Masjid itu sekarang diusahakan ada kubahnya. Dan untuk pembangunan kubah, kakekku telah meminta tolong pada omku utnuk mendisainkan, dan ternyata dibutuhkan dana Rp 20 juta. Beberapa hari yang lalu, ada warga mengantarkan ke rumah kakekku senilai sejumlah uang untuk pembangunan kubah. Alhamdulillah. Akan tetapi, masih kurang. Sehingga masih dibutuhkan dana. Nenekku bilang padaku untuk mengumpulkan dana, siapa tahu bisa tercukupi, berapapun supaya cepat dibangun. AKu pun gerilya mencari-cari siapa yang mau, alhamdulillah sudah ada dua orang yang berpartisipasi, dan lainnya insya Allah semoga Allah mudahkan bersedakah, Allah ringankan tangannya bersedekah, Allah mudahkan urusannnya dan teman-teman dapat turut membantu.

Dengan postingan ini, saya turut berharap, agar teman-teman yang membaca terketuk hatinya. Bahwa ternyata di luaran sana masih banyak orang yang hidupnya jauh dari kata layak, nyaman, dan sudah sepatutnya kita peduli pada mereka, bukan? Mereka juga saudara kita, membutuhkan bimbingan, dukungan moral dan juga materiil.

Saat ini juga aku pun sedang berupaya untuk mengajukan proposal pembangunan masjid ke lembaga amil zakat, supaya bisa dibantu. Tapi untuk proposalnya masih dalam proses dimintakan ke pengurus mesjidnya.

 

Baiklah, akhir kata, jika ada yang hendak membantu, hubungi saya yah di nomor saya, atau tinggalkan komentar di bawah sini, bisa mention saya via twitter @suararaa ya!. Saya on kok!

Iklan

2 thoughts on “Tempat Yang Ditakdirkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s