Jejak Islam di Negri Sekuler (Book Review)


Buku ini sudah lama terbit, dan baru terdengar gaungnya di telingaku baru pas sudah agak lama.. dan yah akhirnya tertarik sangat beli buku ini! Memang tidak mengecewakan! Two thumbs up!

Berbicara tentang buku ini, tentulah tidak lepas dari pengarangnya, sebab buku ini adalah catatan perjalanan pengarangnya dalam perjalanan di Eropa dan menemukan cahaya Islam di sana serta mendapatkan hidayah. Subhanallah! Saya hanya tahu sekilas mengenai pengarangya karena ia adalah kakak dari teman saya, dan saya pernah melihat pengarang buku ini ketika masih menjadi anchor Trans TV. Waktu itu beliau belum berjilbab dan saat meluncurkan buku pertamanya tentang ayahnya pun saya belum tertarik untuk membelinya. Ah apaan sih ini paling nebeng tenar ayahnya, jadi bisa menerbitkan buku. Pikir saya berprasangka buruk waktu itu. Tapi ternyata saya salah. Pengarang betul-betul mampu menuliskan kisah perjalanannya dengan indah…

cover buku 99 cahaya di langit eropaSo, let’s begin here...

Judul buku: 99 Cahaya di Langit Eropa : Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Prolog pada buku ini bukanlah tentang perjalanan Eropa itu sendiri, tapi tentang suatu kisah pada masa lampau yang diceritakan bak dongeng. Mungkin pmbeca akan sedikit bingung. Tapi itulah, sepenggal kisah yang akan membawa pembaca memahami tentang sebuah peradaban Islam yang pernah berjaya di daratan Eropa.

Hanum, dikisahkan baru tiba di Wina, mengikuti kelas bahasa Jerman dan memiliki kenalan seorang muslimah bernama Fatma. Fatma yang seorang Turki mengajarkan banyak hal pada Hanum. Contohnya adalah ketika Hanum dan Fatma datang di sebuah kafe di Kahlenberg dan mereka mendengar ada tamu yang sedang menjelekkan Islam. Hanum saat itu sudah mau naik pitam dan ingin memperingatkan turis tersebut, tapi Fatma bersikpa lain. Ia membayari makanan turis yang telah menghina Islam itu. Dan ternyata, hal itu malah berbuah manis di kemudian hari.Sungguh rencana Allah sungguh indah! Tapi yang jadi pikiran isengku adalah.. masa sih Fatma membayar untuk pesanan bir turis-turis itu? Bukankah membayari bir termasuk dosa….?

Hanum dan Fatma memiliki kesamaan, yaitu sama-sama Muslim dan sama-sama sudah menikah. Bedanya, Fatma telah berhijab, yang menjadikannya terasing dan sulit mencari pekerjaan dan juga sudah memiliki anak bernama Ayse. Fatma dan Hanum pun berjanji utnuk keliling Eropa bersama-sama. Tapi, ternayta perjalanan tidak mengijinkan. Fatma tiba-tiba menghilang. Di tengah kursus kelas bahasa Jerman, setelah ujian, dia menghilang. Bahkan sertifikat sebagai murid yang mendapatkan nilai tertinggi pun tak diambilnya. Ke manakah Fatma?

Jujur saja, bagian Fatma menghilang ini begitu menyesakkan. Kita semua pasti pernah merasakan yang namanya perpisahan. Tapi perpisahan yang tiba-tiba dan mendadak seperti ini? Sungguh mengagetkan, dan bikin… speechless. Kita punya teman akrab yang selalu bersama, sudah punya rencana bersama, tapi tiba-tiba dia menghilang dari peredaran. tapit ernayta Allah memang sutradara kehidupan kita yang terbaik. Segala sesuatu ada hikmahnya. Kisah tentang Fatma ternyata tak berhenti sampai di situ. Ada kejutan yang menarik dan juga hikmah dalam setiap peristiwa.

Hal yang menarik lainnay adalah, bagiamana budaya kejujuran itu begitu melekat di masayrakat di Austria. Pernah dengar kantin kejujuran? Kantin yang marak digalakkan beberapa waktu lalu di sekolah-sekolah untuk membentuk budaya jujur sejak dini. Dulu, di sekolahku juga ada kantin model ini. Bahkan beberapa kantin kejujuran di sekolah-sekolah juga dimuat di media cetak. Kenyataannya, kantin kejujuran ini ada yang suka hutang juga. Bahkan di kampusku dulu, kantong tempat meletakkan uang pembayaran pun pernah diambil oleh orang. Bahkan, sampai-sampai di depan kantin kejujuran pakai kamera CCTV dan yah akhirnya si maling tertangkap. Itu cerita kantin kejujuran di Indonesia. Bagaimana di Eropa?

Di Wina, ada koran bernama Oesterreich yang dicetak dalam dua veris: dibagikan gratis dan ada yang tidak. Koran yang tidak dibagikan gratis ini digantung di tempat tiang listrik dan di sebelahnya ada tempat untuk meletakkan uang. Hanum sendiri pernah tidak membawa uang kecil dan mengambil koran versi berbayar tanpa membayar. Ketika Fatma dan Hanum sama-sama menyaksikan seorang yang juga melakukan hal serupa, Fatma mengkritiknya dan mengatakan bahwa sebagai Muslim tidak seharusnya melakukan hal semacam itu. Betul-betul pengalaman yang berharga bagi Hanum: utang senilai 1 Euro harus dibayar! Yah namanya hutang tetap hutang sih.

Selain koran yang dijual model seperti itu, ada juga restoran model serupa: Makan sepuasnya, bayar seikhlasnya. Lhoh, kok?! Restoran tersebut adalah Der Wiener Deewan, restoran ala Pakistan yang mana pengunjung boleh makan sedikit atau banyak, akan tetapi bayarnya boleh sedikit atau banyak juga, dan bahkan boleh tidak bayar. Heran, kan? Tapi kenyataannya restoran ini tetap laris, lho, dikarenakan adanya orang-orang yang datang menghargai pelayanan restoran dan membayarnya. Tentu saja bagian yang paling lucu adalah komentar Rangga, suami Hanum, yang menyatakan pesimisnya kalau restoran macam ini bakal bangkrut jika di Indonesia. Bahkan, restoran ini seperti memutarbalikkan konsep untung-rugi dalam dunia bisnis  yang telah jamak dipelajari di sekolah bisnis. Ya, ya, orang yang belajar sekolah bisnis pasti terhenyak. Kalau ingat-ingat kata dosenku, “kalau ada orang kesusahan, apakah kita akan membantunya atau malah menginjaknya sekalian?” kemudian dosenku akan mencontohkan orang yang kesulitan keuangan dan menjual rumahnya. lalu, apakah kita akan membelinya sesuai harga pasar karena kasihan, atau malah minta diskonan tambah lagi karena tahu dia sangat butuh uang? Ada lagi selentingan dosenku, “di dunia ini tidak ada orang baik, yang ada orang yang bodoh,” maksudnya adalah orang tidak mungkin berbaik-baik dalam bisnis, kecuali dia itu tidak bisa hitung-hitungan bisnis. Tapi, tentu saja, konsep ‘seikhlasnya’ ini pernah kutemui, yakni dijalankan oleh sopir eh salah, tukang ojek langganan temanku. Tukang ojek ini tidak pernah menetapkan tarif, dia selalu bilang seikhlasnya. Kalau si penumpang merasa pantasnya Rp 10.000 ya maka diterima dengan senang hati oleh tukang ojek tersebut. Kalau tukang ojek tersebut ditanya berapa tarif biasa atau sepantasnya, tukang ojek akan jawab tidak tahu. Tukang ojek ini laris dan mudah dihubungi, lho. Sampai-sampai dia kewalahan menangani penumpangnya, sampai-sampai mengoper-oper penumpang pada tukang ojek lainnya. Nah, ternyata terbukti kan, ada juga orang-orang yang menghargai kerja keras orang lain.. Tidak serta merta yang seikhlasnya itu lalu jadi bangkrut.

Buku ini memang beda daripada buku travelling biasa, yah memang judulnya bukan buku travelling, sih. Kalau buku lain menawarkan sekedar hura-hura, buku ini menawarkan hal yang lebih: sebuah perjalana yang bermakna, bagaimana kita ternyata tidak masih kurang pengetahuan akan apa-apa di balik sesuatu museum atau sejarah, bagiamana kita harus bersikap dan menyesuaikan diri menjadi agen Muslim yang baik, dan bagiamana tiap kejadian ada hikmahnya. Kisah tentang paris dan segudang museumnya ternyat amemiliki filosofinya sendiri, bagiamana Napoleon Bonaparte yang sangat menghargai Islam, bahkan tangan kanan Napoleon diketahui masuk Islam meskipun entah dengan Napoleonnya sendiri. Selain itu, bagiamana kita melihat fakta sejarah bahwa ternyata ketika Islam berkuasa sangat menghargai pemeluk agama lainnya, hal itu tampak dari Hagia Sophia dan juga tempat-tempat lain di Turki, yang mana tempat tersebut telah beralih fungsi menjadi ‘sekedar’ museum.

Pesan-pesan dalam buku ini sangat jelas dan bernas: bagaimana kita jalan-jalan tak sekedar hura-hura, tapi juga menyelami makna, dan belajar banyak hal melalui sejarah dan juga orang-orang di sekitarnya.

 

Iklan

2 thoughts on “Jejak Islam di Negri Sekuler (Book Review)

  1. (masa sih Fatma membayar untuk pesanan bir turis-turis itu? Bukankah membayari bir termasuk dosa….?) pikiran iseng yang bagus. Melihat profil penulis novel ini, rasanya tidak mengherankan bila mentraktir bir justru disebut baik dalam islam.begitulah akibatnya ketika melihat Islam sepotong-sepotong. Keliling luar negeri bukan jaminan untuk menjadi muslim kaafah,bukan? salut buat pemikiran isengnya suararaa!

    • Meskipun niatnya berdakwah Islam, tetapi jk dilakukan dg cara yg melanggar syari’at maka ttp tdk dapat dibenarkan…

      Meskipun nantinya si turis tersebut jd tertarik pd Islam dan respek pada Islam karena ditraktrir seorang Muslim, tp pada saat ia telah menjadi Muslim, maka ia suatu hari akan bertanya mengapa dia dibayari bir oleh seorang Muslim pdhl Islam mengajarkan mengharamkan bir, termasuk membayarinya ( ada 7 orang yg terkena dosa bir ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s