On A Journey (Book Review)


on a journey

Judul: On A Journey

Penulis: Desi Puspitasari

Penerbit: Pustaka Populer (Bentang Pustaka)

Terbit : Januari 2013

Rubi Tuesday adalah seorang penulis. Ia bertemu lalu berteman dan akhirnya jatuh cinta dengan Stine. Ia pun dengan berani menyatakan perasaan pada Stine, yang ternyata berujung ditolak. Rubi yang patah hati. Rubi sempat berdiam diri di rumah, dan ketika akhirnya Stine mencarinya dan ingin bertemu, Rubi yang sudah terlanjur sakit hati malah melakukan perjalanan ke banyak tempat, diawali dengan naik sepeda. Dalam perjalanan itu, ia pun bertemu banyak orang dan mengalami berbagai hal. Dalam pelarian itu, Rubi menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya…

Kisah cinta yang ada dalam novel ini meskipun merupakan garis besar cerita, tetapi intinya bukanlah itu. Perjalananlah intinya. Kisah cintanya sendiri hanya berputar-putar di sekitar. Rubi yang suka dengan Stine, menyatakan cinta lalu ditolak. Stine yang balas mengejar tapi Rubi yang tetap tidak mau. Rubi yang bertemu dengan Dave dalam perjalanan dan jadi kawan seperjalanan yang akrab, bahkan Dave jatuh cinta pada Rubi. Tapi kisah cinta Rubi stagnan dan hanya berjalan di tempat. Sahabat Rubi yang hanya dikisahkan sekilas sebelum Rubi memulai perjalanan terasa tidak terlalu penting. karakter-karakter di dalam novel ini terasa yang penting hanya Rubi seorang, sebab inti dari novel ini adalah perjalanan hati Rubi dan berlanjut ke perjalanan yang sesungguhnya.

Novel ini diceritakan dengan bahasa yang gamblang dan blak-blakan, akan tetapi bukan berarti lalu bahasanya mengalir. Bahasanya agak membosankan di depan. Pembukaan awal adalah bayangan-bayangan Rubi terhadap Ernesto Guevara dan imajinasinya terhadap tokoh idolanya itu.

Plot dalam cerita ini sendiri seperti stagnan. Cerita tidak berjalan ke mana-mana. Kisah cinta Rubi dengan lelaki lain, Dave juga tidak ada perkembangan. Karena ini cenderung novel perjalanan, maka orang-orang dan perkembangan cerita hampir tidak ada. Cerita lebih menitikberatkan perjalanan Rubi dan perkembangan karakter Rubi dan upaya Rubi melupakan sakit hati.

Karakter dalam tokoh yang kuat adalah Rubi dan Stine. Stine tipe laki-laki yang lemah dan plin-plan meski dia telah menolak Rubi secara langsung pada awalnya. Pengarang dapat mempertahankan karakter Rubi untuk tidak ikut-ikutan plin-plan dan langsung minggat dan melakukan perjalanan. Bukan berarti setelah perjalanan usai Rubi masih mau dengan Stine. Ia tetap teguh pendirian untuk meninggalkan Stine dan menyadari bahwa kesusahannya bukanlah apa-apa dibanding hidup orang-orang lain yang dia temui selama perjalanan.

Setting tempat dalam novel ini tidak jelas. Nama-nama yang tidak Indonesia, Rubi, Stine, Dave membuat kita berpikir bahwa ini di luar negeri. Tetapi di beberapa bagian kita akan sering melihat watak keindonesiaan dalam tokoh-tokoh yang ditemui Rubi di perjalanan. Selain itu, Rubi pernah salah dengar dan ia mengira orang tersebut bicara “buncis tempe”. Aneh jika Rubi bukan orang Indonesia dan mendengar orang bicara terdengar seperti nama-nama Indonesia. Ibarat orang Jawa mendengar kata bahasa Belanda atau Inggris yang terdengar seperti nama-nama benda dalam bahasa Jawa. Tetapi, sekali lagi, Rubi dan tokoh lainnya di mana dan orang mana? Bahkan kita tidak terlalu tahu ke mana Rubi melakukan perjalanan. Pengarang hanya menyebut Mexico, tapi itu bukanlah tujuan Rubi.

Jika mengenal pengarangnya, maka bisa dipastikan bahwa karakter Rubi persis seperti pengarangnya. Bahkan pengarangnya pun mengakui bahwa ini adalah cerita berdasar kisah nyata. Akan tetapi, meski novel berdasar kisah nyata, kisah ini terlalu nyata, karena belum ada ujungnya dan kurangnya imajinasi. Novel ini terasa seperti catatan perjalanan pengarangnya saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s