Hemat Ala Saya


Dari kecil saya terbiasa hidup hemat. Sangat hemat sampai keterlaluan dan orang-orang sekitar saya biasa mengeluhkan hal ini. Ah saya sih nggak peduli dan tetap mempertahankan gaya hidup hemat saya. Berikut ini cara-cara hemat ala saya. Tidak penting, tapi siapa tau ada yang mau mempraktekkan kala keadaan sedang krisis? 😛

Makan
Saya terbiasa makan di rumah. Bagi saya, makanan terenak adalah di rumah (dan juga bersih, serta lebih hemat). Apabila terpaksa tidak pulang, biasanya bawa bekal. Menurut saya, bekal lebih enak, bergizi, dan juga murah. Kalau terpaksanya lagi lupa bawa bekal, beli di kantin atau di luar, tentu saya cari yang murah.
Berarti tidak pernah makan di luar?
Ya, saya memang bukan orang yang gemar keliling kuliner dalam kehidupan sehari-hari. Maksudnya, bukan tipe yang suka jajan dan pindah-pindah untuk mencicipi menu-menu tempat lain. Kalau sedang wisata kuliner, saya milih menyediakan waktu khusus dan anggaran khusus.
Kembali ke pertanyaan makan di luar. Saya jarang jajan, kalau makan di luar jika hanya jika ditraktir. Terlebih untuk tempat-tempat yang makanannya spesial atau istimewa, saya lebih milih traktiran daripada harus beli sendiri. Selain itu, untuk menu makan di luar rumah, saya pilih menu yang tidak bisa masak sendiri. Nasi goreng, tempe penyet, sayur lodeh, ikan goreng, telur dadar atau ceplok, adalah sederet menu yang saya hindari ketika makan di luar. Malas banget kalau makan menu yang biasa dan saya sendiri bisa masak. Masak sendiri lebih murah jadi kenapa harus jajan? Selain itu, kalau pas makan di luar, kadang saya membawa minumnya sendiri, atau membawa nasinya sendiri, atau sepiring berdua dengan teman saya. 😀
Tapi, kadang-kadang kalau sedang ingin makan sesuatu, saya tak segan jajan sendirian di warung atau tempat makan lainnya. Mie atau siomay adalah makanan yang saya tak segan makan sendirian dan menghabiskan duit (tetapi tetap saja saya menghemat dengan tidak membeli minuman).

Parkir
Saya adalah orang anti parkir. Benci sekali yang namanya parkir. Mungkin ini dibilang sentimen atau aneh. Orang-orang rumah saya pun heran melihat salah satu kebiasaan hemat saya yang ini. Tetapi saya punya alasan untuk menjadi orang anti parkir. Parkir yang ada sekarang ini dikuasai oleh mafia parkir. Yang mana uang-uang parkir itu biasanya dikelola oleh sekelompok orang yang berada di balik layar, dan tidak disetor sehingga tidak menjadi pendapatan daerah. Apalagi parkir kebanyakan sekarang adalah parkir liar. Tiap berhenti bayar parkir. Itu pun ditambah lagi tarif semena-mena jika tempat itu ramai atau sedang ada acara besar. Jangan bayangkan kalau menolak bayar. Mereka galak galak. Ditambah lagi, kadang-kadang kalau kesulitan mengeluarkan kendaraan, atau hendak menyebrang, para tukang parkir tidak membantu sama sekali. Ugh!
Cara saya menghindari bayar parkir adalah dengan parkir agak jauh dari tempat yang dituju. Parkir yang agak jauh ini harus dipastikan aman dan tidak ada petugas parkirnya. Cara lain yang agak jahat adalah dengan buru-buru melarikan diri (memacu kendaraan dengan cepat) ketika mau pergi dari tempat tersebut sebelum ditarik biaya parkir. Alternatif lain adalah naik sepeda atau jalan kaki saja jika jaraknya dekat.
Tapi, kadang malah bisa bayar parkir dobel, gara-gara saya tak teliti memilih tempat parkir yang agak jauh. Rupanya tempat parkir yang agak jauh dan disangka tidak ada biaya parkir, ternyata juga bayar!

Masak
Saya biasanya mengiris tipis-tipis buah-buahan. Ini mengherankan bagi sebagian teman saya. Tetapi ini adalah ajaran ibu saya. Sebab, sangat disayangkan kalau mengiris terlalu tebal sehingga dagingnya sebagian dibuang.
Ketika menggoreng, minyak yang digunakan sedikit tapi pas, sehingga tidak boros dan jika tidak banyak sisanya. Kalau minyak sisa, disaring dan digunakan lagi. Tapi minyak bekas menggoreng kedua ini sudah tidak bagus. Sehingga sebaiknya hemat dalam menggunakan minyak goreng.
Kalau untuk urusan bumbu, saya malah cenderung boros, karna saya suka yang bumbunya banyak supaya terasa legit 😀

Menulis
Tanpa saya sadari, saya menulis dengan tanpa kekuatan. Maksudnya, goresan tinta saya biasanya tipis. Setelah saya pikir-pikir, itu dilandasi karna ingin menghemat tinta bolpoin. Betul-betul! Mau diubah sepertinya susah karna menulis kan kebiasaan.

Bensin
Karena motor saya sudah boros bensinnya, maka saya sendiri harus menyiasati penggunaannya supaya lebih hemat. Motor saya pernah dipasangi suatu alat oleh Bapak saya sehingga pengeluaran bensinnya bisa ditekan. Tapi, saya tidak tahu apakah ini masih atau tidak di motor saya.
Demi menghemat beberapa tetes bensin, saya selalu mematikan mesin ketika lampu merah. Bahkan kadang-kadang sudah saya matikan sebelum benar-benar berhenti. Sebab, roda masih menggelinding, jadi motor masih bisa jalan beberapa meter ke depan. Menghidupkan mesin motor tunggu sampai kurang sekitar 2 atau 3 detik lagi lampu hijau.
Untuk beli bensin, pilih di tempat yang dapatnya banyak. Kadang-kadang ada pom bensin yang suka curang sehingga mengurangi takaran. Kalau saran dosen saya, lebih baik beli bensin malam hari, sebab kalau siang hari bensin lebih cepat menguap. Karena saya tak pernah beli bensin malam-malam, maka saya selalu membuka dan menutup tangki bensin tepat sebelum petugasnya mengisi atau setelah selesai mengisi. Demi menghemat beberapa tetes, harus cepat-cepat ditutup tangki bensin sebelum bensin menguap.
Gara-gara kebiasaan hemat ini, saya sudah 2 kali kehabisan bensin di jalan karna saking menghematnya. Karena saya selalu mengisi bensin nanti jika sudah mepet mau habis. Akibatnya saya harus menuntun motor sampai pom bensin terdekat. Tak jarang, agak jauh dan malah jadi beli di pom bensin yang pelit.

Sabun
Saya menghemat pemakaian sabun dengan cara mengirisnya menjadi 4. Lalu memakainya sedikit-sedikit. Nanti kalau sudah mau habis, yang bagian 1 bisa ditempel di bagian selanjutnya yang akan dipakai.

Baju
Saya biasanya selalu tahan tidak beli baju beberapa lama. Saya suka pakai baju bagus. Tapi saya kadang tak merasa perlu mengikuti mode, sehingga wajar jika baju saya selama beberapa tahun sama terus. Saya tak terlalu tertarik untuk mengoleksi banyak model. Bagi saya yang penting praktis dan nyaman.
Tapi jika membeli baju, biasanya saya survei harga dulu. Selisih 5 ribu sangat berharga bagi saya.
Di sisi lain, saya boros dalam hal ganti baju. Sedikit-sedikit saya ganti baju. Sehingga kadang merasa capek sekali harus mencuci banyak baju padahal jangka waktu pemakaiannya pendek.

Sepatu
Pernah sepatu saya mangap hingga demikian menyedihkannya. Pernah juga sepatu saya sobek-sobek pokoknya sudah tak berbentuk hingga parah akut. Sampai-sampai ibu saya kasihan melihat saya. Sebenarnya saya termasuk suka beli sepatu. Apalagi di dekat rumah ada toko sepatu yang jalan aja sampai. Untuk sepatu, saya tak terlalu hemat. Minimal sepatu saya yang pantas pakai ada 2 pasang. Tapi kalau rusak sedikit, saya selalu memilih memperbaiki di tukang sol sepatu. Kecuali jika hanya jika sepatu sudah saking parahnya, maka biasanya dibuang oleh ibu saya sebelum saya bawa ke tukang sol sepatu.

Sedekah
Untuk sedekah, saya pilih-pilih. Tak pernah saya sedekahkan uang pada orang yang minta-minta di perempatan. Pengemis, banci, atau anak-anak pengelap motor, atau tukang ledek monyet di perempatan. Jarang pula pada pengamen. Sampai suaranya kering juga biasanya saya tahan untuk tidak menyumbangkan. Kecuali kalau dia ngamen di rumah, biasanya orang rumah tak tahan dengar nyanyiannya.
Kalau untuk kembalian dari belanja, misalnya si kasir berkata tidak ada uang kembalian receh dan minta disumbangkan, saya milih diam sebagai pertanda jawaban “Tidak”. Saya juga tidak sudi jika diberi kembalian berupa permen. Alat penukaran yang sah adalah uang, bukan permen!
Untuk para pengemis di jalanan, saya punya alasan untuk tidak memberi uang. Sebab, mereka itu dikendalikan mafia. Dan bisa jadi mereka lebih kaya daripada kita.
Selain itu, untuk peminta sumbangan (misal bencana alam atau yang lain), saya cenderung tidak memberi uang pada para penggalang di jalan atau perempatan. Bagi saya, itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ya, kalau itu memang disumbangkan sesuai janji, jika tidak?
Ada juga peminta sumbangan yang datang ke rumah-rumah. Biasanya dengan muka memelas dan mereka mengatakan untuk pembangunan masjid atau untuk anak yatim. Tidak jelas. Saya tak pernah percaya, tapi apa boleh buat karna mereka mendatangi ke rumah, saya terpaksa memberi uang, biasanya jumlahnya sangat kecil. Sebab 90% saya yakin itu adalah penipuan.
Modus penipuan lain adalah dengan datang ke rumah-rumah dan bercerita tentang musibah bohongan yang menimpanya. Pernah ada orang yang sudah datang tiga kali ke rumah saya dengan kisah yang berbeda-beda. Untung yang waktu terakhir kali, bapak saya sebagai korban (karna kebetulan yang membuka pintu rumah adalah bapak saya) bisa diselamatkan untuk tidak menyumbang terlalu banyak. Tetangga saya bilang, orang itu penipu karna polanya selalu datang dengan cerita bohong yang endingnya minta sumbangan.

Mungkin itu saja dulu. Kapan-kapan kalau ingat saya update lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s