Better You Die: Kita terbiasa hidup bohong dan dibohongi


Saya tahu, ini adalah salah saya. OKe, saya akui itu. Saya memang KKN dan memang KKN menyita waktu jatah tidak masuk kuliah yang hanya sebesar 25% pada mahasiswa. Itu terjadi di fakultas saya. Saya tidak tahu apakah di fakultas lain terjadi hal yang sama. Dosen saya tidak mau tahu dan mengatakan bahwa seharusnya mahasiswa bisa dewasa dan menghitung jatah waktunya untuk tidak masuk yang berkurang karena KKN. Secara tidak langsung, dia mengatakan saya tidak dewasa. Ia mengatakan, peraturan 75% kehadiran sudah ada dari dulu dan akan selalu berubah lebih ketat. Alasan tidak masuk kuliah, apapun itu, haruslah kurang dari 25%. Ia bilang lagi, saya yang salah tidak memperhatikan aturan akademik dari awal. Lalu ia mencontohkan bahwa kalau terlambat pada kereta api atau penerbangan, kita tidak bisa protes ke siapapun. Sama seperti itu.

Saya mengatakan bahwa KKN adalah sama-halnya seperti dengan kuliah. Kewajiban yang sama. Dan apabila ada dua kewajiban akademik dalam waktu bersamaan ,mestinya salah satu dikompensasi. Saya kira, yang terjadi di sini tidak demikian.

Sekarang saya mau tanya sama universitas saya: KKN itu apa sih? Pengabdian, kan? Kalau pengabdian, apakah dibenarkan dengan mengurangi hak mahasiswa atas mata kuliah lainnya? Begitu? Kalau saya tahu begitu, saya memilih membolos KKN dan kuliah saja waktu itu. Atau sekalian saja nggak usah KKN. Atau saya titip absen saja waktu saya KKN itu. Biar kehadiran saya memenuhi kuota. Udah KKN itu katanya mengabdi, disuruh bayar, eh kuliah lain ikut diganggu haknya. Sebenarnya KKN untuk apa sih? Saya jadi heran.

Sekarang, saya jadi berpikir lagi, kita ini dididik untuk apa? Saya memikirkan kata-kata pak dosen saya itu. Dosen yang mendepak saya dari kelasnya karena alasan kehadiran saya yang kurang. Saya pertemuan pertama dalam rangka KKN. Karena saya KKN di luar Jawa, saya pun jadi lebih lama pulangnya dan tidak bisa bolak-balik pulang. Pertemuan kedua saya tidak bisa hadir. Pertemuan ketiga saya terlambat datang gara-gara saya sudah tanya-tanya pada teman saya dan ia tidak mengatakan apapun, dan ternyata saya dilarang terlambat berapa menit pun keterlambatan mahasiswa. Saya dikeluarkan dari kelas. Oke saya tidak akan menyalahkan teman saya, anggap pertemuan ketiga itu gara-gara saya sendiri yang datangnya terlambat. Pertemuan keempat saya jatuh sakit.Saya tidak sanggup memaksakan diri saya untuk berangkat, sementara kepala saya berdenyut-denyut dan saya hampir pingsan. Saya cuma dapat surat ijin dari GMC dan katanya itu tidak berlaku di akademik saya.

Kembali pikirkan kata-kata dosen itu,saya menjadi punya pikiran bahwa kampus saya ini ingin membentuk pribadi yang berdisiplin. Tetapi ketahuilah, tidak ada nilai moralnya sama sekali. Ingat yang saya katakan di awal? Lebih baik titip absen kalau tau ternyata KKN dianggap membolos dan mengurangi jatah tidak masuk kelas. Seseorang dididik untuk menjadi profesional, disiplin, dan bla-bla-bla yang lainnya. Tapi, di sisi lain, kampus ini mendidik orang untuk menjadi penipu profesional yang menampakkan semuanya ilmiah, indah, hebat, powerful tetapi dengan tambal sulam dengan kebohongan di sana-sini yang menyertainya.

Kampus ini inginnya mendidik supaya pada disiplin, tertib, dan lain-lain. Tapi nyatanya yang terjadi adalah mahasiswa cuma pura-pura tertib. Pura-pura disiplin. Coba saja tanyakan setiap mahasiswa di kampus manapun, mana yang tidak pernah titip absen? Mana?

Sebenarnya, sudah sejak dulu Pendidikan di INdonesia itu menuntut kebohongan. UAN, UAN, UAN itu apa? Dari dulu sudah ada UAN, cuma namanya yang berbeda-beda. Teknisnya berbeda-beda. Tapi di antara semua UAN itu pasti saja ada yang tidak jujur, entah itu siswa, guru, bahkan kepala sekolah atau panitia ujiannya. Apa yang mereka inginkan dengan menjadi tidak jujur seperti itu? NIlai. Hanya itu. Nilai itu yang seolah-olah memberitahukan bahwa si siswa A mampu ujian, mampu lulus, dan gurunya di sekolahan siswa A itu bagus. Pamor siswa naik, begitu pun orangtua siswa. Siswa bisa masuk sekolahan bagus dengan nilai yang palsu. Sekolahan dapat mendapatkan murid-murid yang mengaku nilainya bagus karena nilai lulusannya bagus-bagus. Guru-guru ngerasa bangga dan juga sekolahan. Semuanya semu. Semuanya adalah bohong.

Saya waktu lulus SD sangat heran dengan teman-teman saya di SMP. Ada yang ternyata jago nyontek. Saya tidak paham. Seumur-umur, semasa saya SD, saya dididik untuk selalu mengerjakan soal ujian sendiri. Di SD saya, amatlah tabu seorang yang mencontek. Satu orang yang mencontek, dia akan dilaporkan oleh temannya yang lain kepada guru. Dan jangan tanya nilainya jadi bagaimana. Di SMP, hampir tiap ulangan, akan ada yang mencontek. Gurunya diam saja meskipun tahu. CUma guru-guru tertentu yang ditakuti, itupun tetap ada yang mencontek. Bahkan, setelah tanya-tanya, ada beberapa orang teman saya yang UAN SD nya ternyata nilainya yang tinggi didapat dari mencontek. Apa, sih hebatnya orang yang mencontek? Dia sebenarnya tidak bisa apa-apa, tetapi di atas kertas nilainya bagus.

Mengkritisi kata-kata dosen saya, mengenai terlambat naik pesawat atau naik kereta maka tidak bisa protes kepada siapapun. Apa dia lupa, bukannya yang terjadi kebalikannya? Kita datang tepat waktu, tetapi pesawat atau kereta selalu terlambat tiba, terlambat berangkat, bahkan batal berangkat, dan kita tidak bisa apa-apa selain menunggu? Mungkin bisa protes, kadang-kadang bisa menjadi lebih baik, tetapi seringkali menjadi sama saja dan habis energi.

Menurut saya, yang terjadi pada saya yang kedua. Saya dirugikan dengan adanya dua kewajiban akademik pada waktu yang sama. Karena dituntut hal yang seperti itu, rata-rata mahasiswa berbohong, dengan titip absen pada temannya untuk mata kuliah yang dia tinggalkan ketika dia sedang KKN. Banyak teman saya melakukan begitu. Lalu siapa yang tahu? Kita hidup di dunia penuh kebohongan. Siapa yang tahu dia bohong atau jujur. Itu tidak penting. Yang penting adalah yang ada di atas kertas. Nyatanya, yang bisa ujian adalah teman-teman saya yang bohong, sementara saya yang jujur didepak dari kelas oleh dosen dan sistem akademik kampus. Memang dunia ini tidak ada tempat bagi orang yang jujur. Tetapi selama saya percaya bahwa jika jujur akan membawa kebaikan, saya akan tetap jujur. Meskipun di dunia yang penuh kebohongan tidak ada tempat untuk orang jujur, setidaknya, pasti masih ada tempat di surga sana. Semoga saya termasuk orang yang istiqomah di dalamnya.

Iklan

2 thoughts on “Better You Die: Kita terbiasa hidup bohong dan dibohongi

  1. ada cerita di kampus nih :). makin lama kesannya bukannya isi yg dipentingin, tapi kemasan ya. Spt urusan administrasi2 kyk gini.

    lebih baik bikin bgamana mahasiswa bs bahagia di kampus, shg belajarnya menjadi menyenangkan, trs ilmunya bisa nyantol, bukan hnya kuliah utk jadi batu loncatan dapetin surat lulus wkwkwkwkwk *mimpi mode: on

    • iya kemasan. dan apa yang tercetak nanti pada akhirnya. dalam hitam di atas putih tidak akan kelihatan apakah dia mendapatkannya dengan jujur ataukah bohong. tidak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri dan Allah.

      beginilah pendidikan kita. dan seberapa banyak orang yang mengejar ijazah dan mengorbankan harga diri?pasti ada banyak.karena kita diajari seperti itu. dan apa yang di dalam menjadi tidak penting. yang penting hitam di atas putih tadi itu….

      anyway,, thanks dah mampir, jooy…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s