Protektif


Saya sebenarnya selalu heran, dengan teman-teman saya yang ternyata banyak sekali pantangan dan larangan oleh orangtuanya. Heran saya seribu heran. Apa mungkin karena orang tua saya saja yang terlalu bebas? Ya, orangtua saya memang membebaskan apapun yang saya lakukan, oleh karena itu mungkin saya yang jadi agak terheran-heran melihat beberapa orang teman yang terlalu ‘dilindungi’ oleh orangtuanya.

Ada teman saya yang dia dilarang naik motor. Bayangkan… Bagi saya itu adalah sebuah penderitaan. Di Indonesia, transportasi yang paling nyaman adalah sepeda motor (terbukti dengan meningkatnya pemilik motor dan juga jumlah pemudik Lebaran bermotor). Bis selain tidak aman, juga kadang bau, sempit, apek, nunggunya lama, lagi! Taksi itu mahal, kalau nggak kepepet dan lagi punya uang, jarang orang naik taksi. Naik sepeda itu penderitaan, karena selalu diklakson mulu di sana-sini (saya pernah mengalaminya beberapa kali, dan saya selalu sebal karenanya). Naik mobil itu jalanan sempit, padat, merayap, apalagi kalau parkir mahal. Sekarang Indonesia (eh, khususnya Jogjakarta) kan sudah jadi kota parkir, berhenti di mana-mana tetap ditarik uang parkir.

Mengenai beberapa orang teman yang tidak bisa naik motor, kata ibu saya, “kasihan, ke mana-mana harus dianterin….”

Apakah Ibu saya tega berkomentar seperti itu? Bapak saya punya komentar senada. Apalagi bapak saya tipe orang berprinsip, “kalau bisa dikerjain sendiri, kenapa harus minta tolong orang lain.”

Ya emang resiko teman-teman yang nggak bisa naik motor itu adalah diantar ke manapun ia mau pergi dan dijemput ke rumah jam berapapun dia mau pulang. Yang mengantar jemput ya kalau bukan orangtuanya, kakak atau adiknya.

Ada teman saya yang dilarang belajar naik motor karena orangtuanya pernah punya trauma mendalam. Saudara orangtuanya, dua orang, pernah kecelakaan naik sepeda motor dan dua-duanya meninggal dunia.

Beberapa kali saya pernah kecelakaan ketika naik motor. Terutama, waktu-waktu awal mengendarainya. Hebatnya (memuji diri), saya itu setelah kecelakaan selalu bangkit berdiri dan kembali mengendarai motor saya dengan beberapa luka di badan. Besoknya pun saya masih berani naik motor. Dipikir-pikir, secara nalar, biasanya orang setelah kecelakaan itu gemeratan, dan takut mengendarai motor lagi setelah jatuh. Saya emang gemetaran, tapi bisa bawa motor selamat sampai rumah. Setelah sampai rumah, biasanya barulah saya urus luka-luka badan dan luka-luka motor. Hebatnya, Bapak saya nggak pernah marah, dan nggak pernah melarang saya naik motor lagi. Bahkan saya yang langsung mengendarai motor setelah kecelakaan pun tidak dimarahi atau dilarang naik motor selama kurun waktu tertentu. Setelah kecelakaan pun, saya masih berangkat dan pulang naik motor sendirian ke sekolah, dengan keadaan kaki yang belum membaik. Lazimnya, orang yang kecelakaan kan diantar jemput selama beberapa waktu setelah kecelakaan, kan? Saya tidak.

Trauma itu menghambat seseorang berkembang, kan? Meskipun trauma itu bukan dialami oleh orangnya sendiri. Kasihan kan jadinya teman saya itu. Tapi memang ada juga teman saya yang dia trauma, pernah jatuh dari motor dan dia tidak mau lagi naik motor. Lagi, trauma menghambat perkembangan diri, kan, ya…

Lain lagi teman saya… Dia dilindungi orangtuanya sangat berlebihan. Mulai nggak boleh masalah menginap, sampai yang dia sendiri jarang main dengan teman-temannya, karena teman-temannya susah mengajak dia keluar! Lho, kasian kan teman saya malah jadi kuper… Sampai akhirnya saya berkesempatan mengajak teman saya ini main seharian, di sebuah tempat antah berantah (halah gaya. Padahal cuma dekat kok). Sepanjang kami main, tau tidak apa yang terjadi? Teman saya ditelponin orangtuanya terus. Dipantau terus. Saya cuma terpana. Sementara orangtua saya tidak akan pernah telepon dan mengganggu acara saya jika sudah tau acara saya ngapain dan ke mana, serta sama siapa. Teman saya bercerita bahwa baru kali itu dia main keluar seharian dan ke tempat antah berantah, cuma sama temannya, yaitu saya. Dia bercerita, semasa dulu, teman-temannya jarang pergi dengannya karena dia susah dapat ijin orangtuanya. Itupun waktu pergi sama saya, dia juga susah payah ijinnya!

Ada lagi, masih dengan larangan dilarang menginap di rumah teman. Saya suka heran, kok dilarang menginap kenapa, ya? Saya nggak pernah lho dilarang menginap di rumah siapa-siapa. Sejak kecil saya suka main, dan sejak kecil saya sering menginap di beberapa rumah teman saya. Menginap di rumah orang yang saya pun nggak kenal pun saya pede, lho. Waktu itu pernah saya menginap sekitar tiga hari di rumah teman ibu saya, yang saya pun nggak pernah ketemu dengannya. Tapi pede aja dan semuanya menyenangkan!

Ada juga, sih, orangtua yang suka menyuruh teman saya yang lain untuk… jaga rumah. Jaga rumah! Bayangkan… Kadang-kadang jika waktu itu kami ada acara bersama, teman saya itu kadang-kadang tidak hadir dengan alasan jaga rumah. Saya pikir, ini alasan orang tuanya saja yang menyuruh teman saya agar di rumah saja. Over-protective, ya. Saya sempat mengejek teman saya, “Kamu ngapain sih jaga rumah terus. Rumahnya nggak lari ke mana-mana, kok.” Sekarang, pun, teman saya ini hobinya masih saja jaga rumah.

Saya jadi sangat mensyukuri orangtua saya yang sangat membebaskan saya. Ke mana-mana bebas. Walaupun kadang-kadang jadi merasa anak yang tidak disayang. Ceritanya, waktu itu saya benaran jaga rumah, saat semua orang keluarga saya tamasya selama tiga hari dan saya sendirian. Terlebih saat itu menjelang keberangkatan saya KKN. Menyedihkan banget, nggak, sih? KKN di Luar Jawa dan persiapannya tanpa didampingi orangtua, bahkan saya berangkatnya pun naik taksi. Untuk mahasiswa yang tinggal di Jogja, persiapan KKN ke daerah yang cukup jauh, tentu dibantu orangtua dan berangkatnya nanti diantar sampai stasiun atau manalah. Tapi saya tidak! Ganti, teman saya pernah berkomentar, “kamu kasian, ya. Kamu anaknya orangtuamu bukan, sih?” Ngoook..

Iklan

4 thoughts on “Protektif

  1. haha ganti tema ni yee..
    btw, emg beda2 cara orangtua mengasihi anaknya. sepanjang anaknya nyaman dgn itu ga masalah. orangtua juga melakukan itu pasti juga ada baiknya bagi si anak. haha..
    kalo masalah beginian tanya nany 911 aja yuk.. haha

  2. ehehee.. aku termasuk yg gabisa nae motor ne -__-

    tapi kadang juga kesel kalo liat temen ga bisa nginep2,soalnya kalo masalah nginep2 ak juga sbebas kamu, asal ijinnya jelas

    • haha. belajar dong naek motor. asik tuhhh
      😀
      klo nginep ku seneng2 ja, lhoh.. bisa sante2 di rumah temen, asiiik.. malem2 ngobrol sambl makan cemilan.. asooyy.. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s