Die Familie (mein Vater)


Tumben-tumbenan ini, sekarang aku mau sedikit bercerita tentang keluargaku.. šŸ™‚ Yang pertama mungkin mengenai bapakku.

Aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bapakku adalah seorang PNS, demikian pula ibuku. Orangtuaku bekerja di tempat yang sama pula. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Ketiga adik di bawahku laki-laki, terakhir perempuan.

Orangtuaku berasal dari latarbelakang yang berbeda. Keluarga orangtua bapak adalah keluarga yang berada, dengan rumah model Belanda yang luas dan apik (walaupun sekarang sudah tidak terawat dengan baik), serta di jaman itu sudah punya mobil. Sedangkan, ibuku dari keluarga yang di bawah rata-rata, bahkan sampai saudara-saudara ibuku sudah menikah semua, orangtuanya ibuku tidak punya rumah karena status rumahnya masih saja ngontrak. Berkat pendidikan, harkat dan martabat keluarga besar ibuku pun terangkat. Sekarang semua saudara-saudara ibuku sudah boleh dibilang hidup dengan lebih baik dan layak. Oleh sebab itulah, ibuku sangat mengecam pendidikan model sekarang yang menekankan bahwa anak harus pintar dan kaya untuk bisa sekolah di sekolahan bagus.

Semenjak aku belum lahir, kedua orangtuaku sudah bekerja. Sejak kecil aku dirawat oleh pembantu yang berbeda-beda. Waktu itu, ketika orangtuaku mau pergi, pasti aku dikasi makan coklat agar tidak merajuk.

Bapak adalah orang yang perhatian. Ia suka membelikan barang-barang yang indah-indah yang sebenarnya tidak pernah aku minta, tapi beliau selalu seolah-olah tahu, dan memberikanku barang yang aku inginkan. Pernah dulu aku dibelikan bonek hello kitty yang besar. Pernah juga waktu jalan-jalan di toko, aku sekedar melihat sandal yang bagus, dan lagnsung dibelikan. Waktu SD, ketika sedang duduk-duduk meunggu berdua, seorang sales mendatangi kami dan menawarkan kalkulator yang sangat bagus dengan hiasan bunga-bunga pink dan hello kitty. Aku suka dan aku sebenarnya sangat menginginkannya. Bahkan bapak juga menawari. Tetapi karena waktu itu bapak selalu bilang bahwa menghitung pakai kalkulator membuat kita jadi bodoh, maka aku menolak dengan alasan yang biasa dilontarkan bapak padaku. Waktu Bapak baru saja membeli benda yang bagus, waktu itu binder hijau mickey mouse yang apik, aku juga ingin punya. Tiba-tiba beberapa hari kemudian, bapak langsung membelikan untukku sebuah binder minnnie mouse ang tak kalah apik. Aku jarang meminta pada bapak, tapi bapak selalu tahu dan selalu memberikan yang kuinginkan. Begitu pula masalah handphone. Aku tidak pernah minta dibelikan. Biasanya, dikasih begitu saja, walauun handphone bekas-bekas bapak, tapi tidak masalah. Setiap handphone rusak atau hilang, selalu diganti yang lain (bukan yang baru) dan bapak tidak pernah marah karena handphone pernah kurusakkan atau kuhilangkan. Bapak juga orang yang pengertian. Tanpa kuminta, ia sering menawarkan mengantar, atau membetulkan sesuatu.

Bapak juga seorang bapak-bapak yang menurutku sempurna, setidaknya dalam pandanganku. Ia adalah orang yang serba bisa. Ia bisa dalam hal otomotif, elektronika, pertukangan, komputer, internet. Selain juga ia adalah orang yang cerdas di bidangnya, yakni keuangan.

Motor atau mobil, selalu diperbaiki sendiri sebelum dikirim ke bengkel. Waktu aku sekolah dulu, pernah aku jatuh dari motor beberapa kali. Motorku tidak pernah diservis di dealer, tapi selalu diservis sendiri oleh bapak. Kemampuan otomotif ini sangatlah berguna dalam menghemat pengeluaran, dan juga berguna kalau-kalau di perjalanan motor atau mobil ngadat. Oleh karena itu, setiap kali aku menemui masalah dengan motorku di tengah jalanan, aku cuma menelpon bapak. Bahkan, tambal ban bisa dilakukannya sendiri. Tidak heran, peralatan otomotif lumayan lengkap di rumah dan di mobil atau motor biasanya tersedia.
Mengenai elektronika, biasanya bapak suka memperbaiki peralatan-peralatan sendiri. Ia suka memperbaiki setrika, hape, tivi, mesin cuci. Baru nanti kalau sudah tidak mampu, minta tolong pada Om-ku untuk memperbaiki. Kemampuan ini juga tentu sangat berguna, karena jika ada perlatan yang rusak, bisa langsung ditangani.
Pertukangan macam ledeng air, saluran air, dan lainnya, sedikit-seikit bapak bisa mengerjakan dengan baik. Jadi, untuk urusan pipa bocor, atau keran air luber,atau lainnya, semua bisa ditangani tanpa memanggil tukang.
Dari dulu, bapak tertarik dengan komputer. Pernah buka rental komputer di rumah orangtuanya, tapi kemudian rental itu diwariskan kepada adiknya. DI rumah, banyak sekali komputer bekas yang aku sendiri tidak tahu untuk apa. Tetapi, kadang-kadang salah satu komponen bisa diganti dan masih ada beberapa yang bisa dipakai. Ketika internet demikian berkembang, bapak tentu paling update. Ia mempelajari seluk beluknya hingga akhirnya pada jaman kemunculan internet, rumahku sudah termasuk yang berlangganan.

Kelebihan lain bapak adalah ia selalu rutin berolahraga dan juga menjaga makanan. Bapak juga jago silat, dan pernah mengikuti beberapa perguruan silat. Pernah waktu itu ada demo peralatan detoks di tempat kerja bapak, dan ketika di-detoks, hasilnya adalah detoks dari tubuh bapak yang paling sedikit. Ini berarti benar-benar gaya hidupnya yang teratur dan sehat!

Pesan yang selalu dikatakannya padaku adalah, “Kalau bisa dilakukan sendiri, jangan tergantung pada orang lain!” Itulah sebabnya aku tumbuh menjadi orang yang cenderung ke mana-mana sendiri, karena aku dididik seperti itu, dan menjadi tidak suka jika harus tergantung orang lain jika ingin melakukan seuatu. tapi kadang, di mata temanku, aku jadi seperti anak egois yang mana ketika ada teman meminta sesuatu tapi aku tinggalkan atau aku diamkan.

Pada intinya, bapak membiarkan aku ke mana pun aku pergi asalkan aku bisa jaga diri. Tidak heran, aku pernah melakukan perjalanan sendirian di kapal Lombok-Bali, sendirian di pesawat Bali-Jogja, ataupun di kereta JOgja-Bandung, bis di jalur Jakarta-Bandung.
Tapi, bapak juga sangat mendukung aku untuk sekolah di luar negeri. Setiap aku ceritakan aplikasi yang aku masuki, ia selalu memberi saran-saran yang baik. Artinya bapak mempercayai aku jika berada di negeri yang jauh nanti.
Tetapi ada kalanya bapak khawatir. Ia pernah melarangku berjalan-jalan sendirian di Bali. Oleh sebab dilarang, aku pun menjadi semakin nekat dan mulai saat ini hendak mempelajari bela diri sehingga bapak tidak perlu khawatir lagi. Katanya lagi, ia maunya diberi thau setiap aku tiba di suatu tempat (saat bepergian jauh). “Agar bisa melacak posisi terakhir di mana kalau-kalau ada apa-apa.” Begitu.

Bapak juga sering memarahi aku ketika aku mengerjakan seseuatu secara mendadak. Katanya, “kok mendadak!” Ia juga tidak suka jika dimintai tolong tetapi mendadak. AKu dididik untuk melakukan segala sestuatunya secara terncana dan matang, tidak spontan, tidak mendadak. Selain itu,nasihat paling favorit untuk aku yang suka menunda waktu adalah, “Kerjakan yang lebih penting dulu!”. AKu kadang suka menunda pekerjaan dan memilih melakukan hal yang tidak penting.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s