Don’t Stop! (part 1)


Satu langkah awal adalah yang paling berat ketika akan memulai sesuatu, begitu kata kebanyakan orang. Tapi menurutku tidak demikian. Yang paling berat adalah untuk terus melangkah, melanjutkan, hingga sampai tujuan. Istiqomah. Itu sesuatu yang sulit.

Barangkali, itulah pelajaran yang saya petik dari perjuangan KKN saya kemarin. Bagi saya, KKN ke luar Jawa, apalagi ke Lombok adalah mimpi. Bagi saya, pun, Lombok adalah daerah yang termasuk dalam daftar bakalan-besok-entah-kapan-ke-sana.

Awalnya saya hanya ingin iseng-iseng ke Lombok buat jalan-jalan atau piknik. Tapi, bagaimana caranya, ya? Tercetuslah suatu gagasan untuk membuat KKN sekaligus acara piknik. Ya walaupun saat itu bisa dibilang nggak ada koneksi orang Lombok sama sekali. Tapi ya, bener kata Rhonda Bryne di buku The Secret, pikirkan apa yang kamu inginkan maka alam akan mendukung.

Maka saya pun mulai ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang teman, dan beberapa mau diajak bergabung dan merencanakan ide ini bersama. Dari beberapa orang teman itulah, kami merekrut orang-orang yang mau bergabung lagi, dan dari situ pula ada koneksi-koneksi baru yang dapat mengantarkan kami hingga tiba di sana. Salah seorang temannya teman menawarkan lokasi desanya untuk KKN. Kemudian ia menghubungkan kami dengan seseorang, ia adalah pemuda desa yang bernama Eko, dan juga seorang ketua Ikatan Pemuda Desa yang selalu kami kontak untuk kami tanya-tanyai.

Berdasarkan informasi yang didapat dari beliau, kami pun memulai proses pembuatan proposal, disambi mencari teman-teman lagi untuk bergabung, dan juga hunting dosen untuk menjadi dosen pembimbing lapangan kami. Kami pun jugabergilir mendatangi kantor di gedung rektorat yang mengurusi khusus masalah KKN, sebut saja Lembaga XXX. Di sana kami bertanya-tanya dan mencari informasi mengenai pengajuan lokasi KKN.

Beberapa waktu kemudian, sempat terjadi huru-hara eh, maksudku kehebohan di antara mahasiswa. Isu yang beredar saat itu adalah bahwa tidak bisa mahasiswa mengajukan lokasi dan tema KKN, yang mengajukan harus dosen, dan maksimal 3 orang mahasiswa pengusul tema KKN. Sempat terjadi kericuhan saat itu, dan keterangan yang diperoleh dari Lembaga XXX berbeda-beda tiap mahasiswa bertanya pada orang yang berbeda. Sungguh ini lembaga tidak profesional dan menyulitkan.

Pengumuman mendadak dari Lembaga XXX dan juga informasi yang simpang siur membuat banyak kelompok KKN keder. Tidak sedikit dari mereka yang gugur dan memilih tidak melanjutkan. Mereka khawatir sudah susah-susah mengajukan tema dan lokasi KKN, serta membuat kelompok dengan beberapa orang teman, tetapi nanti KKN-nya bisa dipisah-pisah tercerai berai (karena menurut informasi yang beredar, tiap anak dipilihkan tema dan lokasi oleh Lembaga XXX).

Saya memilih bertahan.

Saya percaya bahwa rencana ini tetap bisa berjalan. Hal ini dikuatkan pula dengan beberapa orang teman yang konfirmasi ke Lembaga XXX, yang langsung menanyakan ke kepala urusan KKN-nya.

Hunting dosen masih dilakukan. Kami belum juga mendapatkan dosen. Ada dua orang dosen di kampus saya, yang saya lamar, tapi yang satu menolak karena tidak bakalan mampu menengok ke lokasi KKN, sedangkan yang satu keberatan atas alasan kesehatan.

Maka, saya dan teman-teman saya pun bergerilya ke Pusat Studi-Pusat Studi untuk menawari menjadi dosen pembimbing lapangan dan juga dosen pengusul tema. Pertama ke Pusat Studi Lingkungan Hidup, tetapi ibu dosen yang biasa menjadi dosen KKN menolak karena beliau sudah mengajukan tema sendiri. Ada pula dosen lain lagi, yang sebenarnya beliau berminat, tetapi beliau sedang penelitian di luar negeri dan kembalinya baru setelah masa KKN berakhir.

Akhirnya, ada dua nama dosen, dari dua Pusat Studi yang berbeda, dari dua fakultas yang berbeda. Kedua-duanya bersedia, kedua-duanya adalah direktur Pusat Studi. Kedua-duanya pun pernah bekerja sama. Alhamdulillah.

Kepada kedua dosen, kami pun mengajukan proposal yang kami buat, dan beliau berdua mengoreksinya. Dosen yang satu berasal dari FIB, beliau yang menjadi dosen pengusul tema, namanya Bapak Aris. Dosen yang satu lagi berasal dari FKT, beliau yang menjadi dosen pembimbing lapangan, namanya Bapak Juantoko. Dosen yang berasal dari FKT adalah orang yang bersedia ke Lombok karena beliau ketika kami KKN nanti sedang ada penelitian sehingga mampir. Bapak Juantoko adalah orang yang sering bepergian keliling Indonesia. Sedangkan Pak Aris adalah orang yang sering pergi (juga) ke beberapa daerah di Indonesia dan juga ke negara-negara Asean.

Jangka waktu pengumpulan proposal ke Lembaga XXX sangatlah mepet dengan pengumumannya. Kami mengumpulkan proposal seadanya waktu itu, dengan minimnya surat mitra dan juga proposal yang dijilid mepet waktu pengumpulan. Kata Pak Aris, nanti bilang Lembaga XXX menyusul karena tidak mungkin semepet ini, instansi/dinas/perusahaan perlu merapatkan terlebih dahulu sebelum memberi keputusan. Perkataan beliau sangat melegakan. Kami pun mengumpulkan proposal ancur tersebut. Kalau syukur-syukur ada perpanjangan waktu, kami bertekad akan melakukan survei.

Bagaimanapun proposal tersebut tidak akan sempurna apabila kami hanya mengawang-awang dan berdasarkan cerita Eko. Selain itu, kami perlu menyebarkan proposal ke beberapa dinas atau pemda dan juga instansi untuk mendapatkan bantuan dana atau istilahnya sebagai mitra kerjasama. Tapi waktu itu sangat mepet sehingga kami pikir tidak

Berdasarkan ketentuan dari Lembaga XXX tersebut, proposal harus dilampirkan surat kesediaan mitra. Bagi yang tidak ada surat tersebut, maka dipastikan tema dan lokasi KKN tidak akan lolos. Sebenarnya aneh, kan? Karena KKN belum pasti (karena harus menunggu seleksi dari Lembaga XXX juga), tapi sudah harus nyebar proposal untuk meminta beberapa pihak sebagai mitra KKN. Sedangkan (calon) mitra yang kami datangi juga barangkali agak menjadi ragu karena KKN juga belum pasti jadi (karena ada seleksi). Lembaga XXX juga menghendaki bahwasanya KKN tersebut (terutama KKN luar Jawa) sudah ada biayanya atau penanggungjawab atas biaya-biaya. Pada intinya, Lembaga XXX yang super menyebalkan itu mau enaknya sendiri. Ditambah peraturan bahwa bila mitra tidak boleh ada timbal balik, misalnya bila mitra meminta harus pasang logo sebuah instansi ketika KKN atau yang lainnya, maka hal itu dilarang.

Pada jam-jam awal keberangkatan survei, saya dan beberapa orang teman mendapatkan kabar bahwa Bapak Juantoko meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi roji’un. Betapa sedihnya kami saat itu. KKN baru jadi, tetapi dosen pembimbing lapangan sudah dipanggil Allah. Rencana Allah siapa yang tahu… Tepat pada saat itu juga, Bapak Aris juga sedang di luar kota. Saya menghubungi beliau untuk memberitahukan hal tersebut, tetapi belakangan diketahui ternyata sms saya tidak sampai dan beliau baru tau setelah kami pulang survei.

Proses pengajuan proposal kerjasama di instansi, dinas, dan pemda Lombok tidaklah berjalan terlalu mulus. Tetapi kami tentu sangat bersyukur, ada beberapa pihak yang sangat mengapresiasi kami dan menunggu-nunggu kedatangan kami.

Sekembalinya survei ialah tentu menyusun dan menyempurnakan proposal untuk dikumpulkan ke Lembaga XXX. Pada hari H menjelang pengumpulannya, kami mulai mengumpulkan surat-surat kesediaan mitra dari beberapa instansi/dinas yang bersedia menjadi mitra. Mendadak saya pun menjadi terkenal di kalangan akademik kampus, karena saya mendapatkan beberapa surat dari Lombok Timur. Surat paling canggih yang saya terima dari Gubernur NTB.

Pengumpulan proposal kali itu juga agak ribet, karena kebetulan pas Bapak Aris juga mau pergi (kalau tidak keluar kota ya keluar negri). Tandatangan kami cepat-cepatkan, kemudian juga surat-surat. Selain itu, proposal juga dihias-hias. Sungguh bagian menghias ini sebenarnya tidak penting, tapi ini yang bikin lama. Karena, kata salah seorang teman, berdasar proposal yang mendapatkan dana hibah dari Lembaga XXX adalah proposal dengan penampilan menarik . Pengumpulan paling lambat jam 13.00 WIB tapi nyatanya kami mengumpulkan lebih dari itu,lupa tepatnya jam berapa. Eh ternyata memang pada saat itu banyak juga yang ngumpulnya terlambat! Halah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s