Freedom


Saya orang yang simpel, tetapi juga ada kalanya agak ribet(karena juga mungkin agak seenaknya sendiri). Oleh sebab kesimpelan dan ke-agak-egoisan saya itulah mungkin sedikit mengurangi ketidaknyamanan bagi orang lain, dan bagi diriku sendiri.

Mengalami yang namanya KKN (kuliah kerja nyata) sebagai salah satu syarat kelulusan saya, memberikan saya ketidakbebasan. Meskipun sebelumnya, saya memilih untuk kkn di luar jawa karena saya yang merasa tidak bebas berada di jawa. Pasti kalau ada apa, semacam kesibukan atau ada acara atau apalah, orang-orang yang cuma kkn di jawa dipanggil unutk pulang. Intinya, sebelum kkn, hidup saya pun tak tenang dengan segala macam tuntutan dan keharusan.

freedom
merasakan sejenak kebebasan di gili trawangan

Maka, beberapa bulan ke belakang waktu itu, saya bertekad lari yang jauh dari jawa, sekedar mencari kebebasan sejenak. Ternyata, untuk menuju ke alam kebebasan yang aku pikirkan waktu itu, amatlah berliku dan jauh. Tetapi akhirnya tibalah saya di tempat kkn yang saya inginkan, sebuah tempat eksotis nan jauh dari jawa, Lombok.
Tiba di tempat kkn, saya mulai merasakan adanya ketidakbebasan (lagi).  Di sana, pak kades, pak camat, bu pkk, kagama, dan lain-lain lainya kok sepertinya terlalu mengharap atau terlau mengandalkan mahasiswa. Dikiranya mahasiswa itu apaan….? Tibalah tekanan dan tuntutan lagi yang menjadikan tidak bebas.

Belum lagi yang masalah serumah dengan teman-teman kkn, yang mana menurutku mereka mungkin agak berbeda tipe denganku. Oke, masalah keributan mulai terjadi, dan kadang-kadang hampir tiap hari. Yang diributin masalah remeh temeh, tentang berberes rumah lah, barang-barang pinjaman tidak pada tempatnya lah, pinjam-meminjam benda, berebut kamar mandi, ribut soal pembayaran uang pondokan, bayar listrik, sewa motor, dll…..

Kebebasan saya mulai terusik saat itu juga. Mau melakukan sesuatu harus lihat-lihat situasi kondisi, mau ngomong sesuatu juga harus lihat-lihat, terlebih lagi saya yang jadi salah seorang koordinator .

Memang, saya bukan orang yang mandiri-mandiri amat. Tapi saya berusaha untuk mandiri, karena oleh bapak saya juga ditekankan , “jangan bergantung dengan orang lain. Sendiri, kalau memang bisa (dikerjakan) sendiri.” Maka, saat kkn pun saya mungkin lebih sering terlihat memisah dari rombongan teman-teman lain, saya pun tak jarang mengerjakan program sendirian. Bagi saya, saya kadang merasa lebih senang sendirian karena tidak ada yang meributi saya dan bebas melakukan program saya sesuai yang saya inginkan.

Biar bagaimanapun juga tetap tidak bebas.
Saat jalan-jalan bareng dengan teman-teman pun begitu. Ada yang mau begini, begitu, dan lainnya. Yah, mau gimana lagi, banyak kepala banyak pikiran banyak pendapat dan banyak maunya. Menurut saya, walaupun seharusnya jalan-jalan itu menyenangkan apalagi di pulau yang indah , tetapi kadang acara jalan-jalan menjadi tidak menyenangkan.

Setelah kkn pun, saya merasa sedikit bebas–saya pikir begitu. Saya sempat menginap di rumah teman ibu saya, dan ternyata tidak bebas juga. Apalagi tidak tersedianya angkot yang banyak di sana. Mau ke mana-mana harus diantar kalau tidak ya cuma bisa jalan kaki (kalau dekat), mau cari ojek juga dicariin pembantunya temen ibuku itu, taksi juga nggak ada.

Setalah menginap di rumah teman ibu saya, memang cuma sebentar karena saya merasa agak tidak nyaman. Selain cuma modal sok-kenal-sok-dekat karena sebenarnya tidak begitu akrab, tentu segan juga rasanya berlama-lama. Saya pun berpiindah menginap di rumah saudara saya di Bali. Saya kira, di sana lebih bebas, karena saudara.
Ternyata tidak.

Di sana keadaannya bahkan sangat jauh lebih tidak ada angkot. Angkot jauh, harus ke terminal, itu pun biasanya yang naik sedikit dan lewatnya angkot itu jarang-jarang (entah harus menunggu berapa lama kalau mau naik angkot). Ojek tidak ada, taksi pun lewat juga tidak.Kendaraan dipakai saudaraku untuk kerja.

Jadilah tidak bebas dan tidak bisa ke mana-mana lagi. Mau pergi harus bilang dulu sama saudara saya, dan nanti dipinjamkan motor. Mau piknik jalan-jalan keluyuran sendirian juga tidak dibolehin walau bisa dibilang saya cukup pede kalau dikasih ijin. Mau naik kendaraan umum juga tidak bisa. Jadilah saya tiap hari kerjanya cuma nongkrong di warnet yang jaraknya lumayan jauh, mungkin hampir satu kilo. Kalau pas motor saudara dipakai kerja, ya harus rela jalan, masak saya harus nungguin saudara saya pulang kantor baru saya ke warnet?

Sampai detik-detik terakhir sih saya merasa tidak bebas juga. Waktu mau pulang pun, saudara saya mengantar saya ke bandara. Waktu itu sekeluarga mengantarkan, saudara saya dengan istrinya dan juga anaknya. Karena saudara saya memarkir mobil, maka saya tanya pada istrinya, di mana tempat check-in, isrtinya bilang, lupa. Dia bilang disuruh menunggu suaminya selesai memarkir mobil. Saya selain orangnya nggak sabaran, juga nggak suka terlalu bergantung pada orang lain. Masak sih apa-apa harus saudara saya melulu. AKhirnya saya pun tanya kepada petugas bandara di mana tempat check-in. Tanpa ba-bi-bu lagi, saya dan istri saudara saya beserta anaknya segera ke tempat check in, itupun pengantar tidak dibolehkan masuk. Jadilah kami berpisah di dekat satpam itu.

Siapa sih orang yang tidak ingin bebas? Jujur saja, kalau saya adalah orang ingin bebas, walaupun saya saat ini masih bergantung kepada orang lain. Saya masih bergantung pada orangtua saya. Masalah teknis perkomputeran,sedikit-sedikit tanya bapak , minta tolong bapak; masalah motor mogok lah, atau rusak lah dikit-dikit juga bilang bapak; dan lainnya yang mungkin dikit-dikit bilang ke ibu atau apa.

Makanya, saya ingin jadi orang yang sempurna. Bisa ngapa-ngapain. Jadinya kalau mau apa, nggak usah harus bergantung pada orang lain. Saya kadang membayangkan, jadi orang yang serba bisa pasti enak, ya, bisa bebas. Begitu pikir saya.

Langkah pertama saya adalah ingin bisa jaga diri sendiri dulu supaya kalau saya selalu sendiri, orangtua dankeluarga sudah tidak khawatir lagi. Saya tahu, meskipun saya telah sering (enggak sering-sering amat, sih, paling nggak pernah lah) berpergian sendirian naik kapal, bis,pesawat, orangtua saya tetep masih mengkhawatirkan sehingga kadang keluyuran sendiri masih tidak dibolehkan.

Perbincangan setelah lulus kuliah pun juga demikian. Saya maunya mandiri dulu, tidak bergantung dengan orang lain. Ibu saya sering melarang ini-itu di rumah, dan sering mengatakan begini kalau saya menginginkan seduatu yang dilarangnya dikerjakan di rumah (misalnya memelihara hewan) , “Besok saja kalau sudah punya rumah sendiri.” artinya tentu saja saya boleh ngapa-ngapain di rumah saya, tetapi selama di rumah orang tua,harus menuruti aturan orangtua, termasuk tidak boleh memelihara hewan. Oleh karenanya, saya pun jadi bertekad punya rumah cepat. Supaya cepat bisa bebas.

Begitupun dengan perencanaan hidup terkait menikah. Semua (hampir sih, tapi tidak semuanya juga kok) sudah punya pacar, kalau tidak, ya siap-siap punya, sebagai bekal buat pendamping hidup. Kalau saya, lagi-lagi berpikir bahwa saya maunya mandiri. Bukan berarti saya kepengen melajang seumur hidup, tapi saya pengennya tetap bebas, kalau menikah ya harapannya suami saya nanti orang yang simpel dan juga membebaskan saya untuk melakukan apa yang saya sukai. Sebelum menikah saya punya target sudah harus mandiri dulu, sehingga yaaaa kalau emang bener-bener-bener kepepet banget di umur yang tua belum menikah juga, yaaaa nggak masalah. Tapi saya juga nggak mau melajang terus dong (halah, diulangi lagi!). Mandiri sebelum menikah menurut saya juga penting, karena paling tidak kalau ada apa-apa dengan suami nanti, tidak usah ribut mengenai harta atau apalah, intinya tidak perlu bergantung banget dengan suami karena mandiri. Kalau terlalu bergantung juga tidak bagus, nanti tidak punya posisi tawar kalau pas ada masalah.Walaupun emang tentu tidak mau dong masalah, tetapi ya wajar kan ada masalah? Yang penting sih, (seperti kata dosen saya), “Expected for the best, prepare for the worst.”

Yaaaa, kapan ya saya bisa bebas? Memang manusia nggak bisa bebas-sebebas-bebasnya, dan saya tahu itu. Mungkin ada orang beranggapan bahwa tidak mungkin manusia bisa bebas semaunya sendiri, karena aturan Sang Pencipta tetap berlaku bagi makhlukNya. Bagi saya, satu aturan mutlak dalam hidup saya yang ketika saya menjalankannya adalah sebuah kebebasan bagi saya , dan bukan merupakan belenggu bagi saya. Mengenai jalan hidup ini, saya tidak pernah malu untuk mengakuinya dan melakukannya, dan tidak pernah merasa keberatan melakukannya (ya walaupun kadang males-malesan sih, namanya juga iman kan naik turun kan wajar dong ). Sholat sendirian di aspal di tempat yang ramai pun tidak masalah, sholat di kereta api umum juga tidak masalah. Bagi saya, agama saya adalah jalan hidup, sesuatu yang membuat saya merasa bebas-sebebas-bebasnya.  Ketika menjalankan ibadah sesuai aturan yang berlaku, tanpa peduli apa kata orang, apa pendapat orang yang ukanya meringankan ibadah-ibadah wajib, tanpa peduli cemoohan orang; saya merasa bahwa itulah kebebasan. Yakni bebas melakukan apa yang saya inginkan. Apalagi, ibadah kan termasuk hak asasi manusia, mana ada yang boleh melarang, selama itu tidak mengganggu orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s