Go to Hell ….. pelajar KMS?


Biar judulnya provokatif sedikit, tapi sekedar ralat itu bukan kata saya, lho ya.. Jadi gini, pada tanggal 24 Mei 2010, di Kompas yogya, ada guru sebuah sekolahan yang mengatakan kalau  pelajar KMS tu virus…

Sebelumnya, mungkin perlu sedikit penjelasan mengenai siswa KMS. KMS kepanjangan dari Kartu Menuju Sejahtera. Pelajar yang punya KMS ini tergolong dari keluarga tidak mampu. Oleh karena itu, di setiap sekolahan, siswa KMS itu diberi kuota. Jadi dia masuk ke sekolahan nggak ikutan seleksi layaknya siswa yang nggak KMS. Kembali ke kata-kata si guru tadi.. Kata-katanya gini, lho:

“Ibaratnya, para pelajar KMS bisa menjadi virus di sini karena akan memperburuk prestasi anak-anak yang lain,”

Jahat banget, nggak, sih? Kalau saya yang membaca, saya akan berpendapat bahwa guru tersebut jahat banget. Memang yang berpendapat demikian adalah seorang Humas salah satu sekolahan di Kota Yogyakarta *yang juga saat ini sekolahannya adek saya*. Humas sekolahan di  Kota Yogyakarta yang favorit itu, bilang kalau guru-guru di sekolahan tersebut susah mendidik anak ber-KMS. Walaupun prestasi siswa di sekolahan itu jadi yang tertinggi, tapi tetap aja ada siswa yang ‘njomplang’ atau istilahnya ‘beda’ banget sehingga guru-guru kesulitan ngajar siswa KMS ini. Bahkan guru-guru jadi berpikir gini (seperti yang disebutkan di Kompas Yogya):

Beberapa waktu lalu, Koordinator Humas SMP Negeri *tit* Yogyakarta, E** Ri***** mengatakan, masuknya pelajar miskin berpotensi menurunkan kualitas pendidikan di SMP *tit*. Guru-guru di SMP *tit* yang tahun ini meraih nilai rata-rata ujian nasional tertinggi se-DIY itu,  kesulitan mendidik para pelajar KMS.

Kalau kesimpulan saya sementara, ya prestasi murid-murid di sana itu karena murid-muridnya yang pintar, bukan gurunya! Ya,nggak? Lha, itu gurunya saja mengaku kesulitan mendidik murid yang kurang pintar…

Saya jadi ingat guru saya yaitu Mr. Teje. Nama aslinya, sih,  Ngatijan. *Ya ampun Pak, i miss you so much!* . Dulu sekolahan saya kalah favorit sama SMP Negeri *tit* itu. Sekolahan saya nomer 3 se-kota waktu itu. Terus, suatu hari, Pak Teje membandingkan SMP peringkat 1 se-kota, SMP peringkat 2 se-kota, dan SMP peringkat 3 se-kota *yaitu sekolahan saya*.

SMP yang menduduki peringkat 1 se-kota, pelajar yang masuk sekolah itu rata-rata nilainya 9. SMP yang menduduki peringkat 2 se-kota, pelajar yang masuk sekolah itu rata-rata nilainya 8. SMP yang menduduki peringkat 3 se-kota, pelajar yang masuk sekolah itu rata-rata nilainya 7.

Intinya, makin tinggi peringkat sekolahan, maka input siswa yang masuk di sekolah itu juga makin tinggi.

Lalu Pak Teje membandingkan hasil keluaran lulusan ketiga sekolahan itu. Saya lupa bagaimana, yang pada intinya adalah hasil lulusannya nggak jauh beda kayak yang tadi, cuman tetap aja urutannya sama kayak yang tadi. Peringkat lulusan sekolahan 1 tetep aja nomer satu se-Kota, peringkat kelulusan sekolahan 2 tetep aja nomer dua se-Kota, dan sekolahan 3 *yaitu sekolahan saya* tetep aja di peringkat ketiga.

Sebagai contoh, lulusan SMP peringkat 1 lulusannya nilai rata-ratanya 9. Lulusan SMP peringkat 2 lulusannya nilai rata-ratanya 8,5. Selanjutnya, lulusan SMP peringkat 1 lulusannya nilai rata-ratanya 8. Intinya kalau input nya aja lebih tinggi ya outputnya nanti lebih tinggi. Eh, nanti dulu… ada yang membuat Pak Teje sedikit berbangga jadi guru sekolahan saya. Jadi, walaupun inputnya berbeda-beda, tapi yang menunjukkan perkembangan paling tinggi adalah sekolahan saya.

  • SMP peringkat 1 : input 9 , output 9
  • SMP peringkat 2 : input 8, output 8,5
  • SMP peringkat 3 : input 7, output 8

Berarti ini, kan faktor gurunya. Bagaimana mengubah anak yang kurang pintar menjadi pintar, dan anak pintar menjadi lebih pintar. Kalau anak pintar tetap pintar ya bukan karena gurunya dong, tapi karena anaknya itu sendiri.

Kesimpulannya? Guru sekolahan saya lebih hebat dong dari sekolahan yang peringkat 1 se-Kota itu, adalah contoh guru yang baik. Bukan guru yang ‘cuma’ maunya terima ‘berlian’ saja, tetapi mau menerima ‘batu’ untuk diasah jadi ‘berlian’. Harusnya, guru di SMP Negeri *tit* yang saya ceritakan di awal, belajar dari guru sekolahan saya, terutama belajar dari Pak Teje. Yang namanya Guru itu, ya harusnya mau dong bersusah-susah mendidik bocah supaya pintar. Masak maunya menerima murid yang sudah pintar saja. Janganlah guru itu membeda-bedakan muridnya juga hanya karena si murid kurang pintar. Justru di situlah letak seninya menjadi guru: Bagaimana membuat anak yang kurang pintar itu jadi paham, sama pahamnya dengan anak yang pintar.

Pernah denger cerita berikut ini? Ada sebuah kelas, jumlahnya 60 anak. IQ mereka semua di atas rata-rata. Semua anak pintar, cerdas, pandai. Wah, surga bener ini guru yang mengajar! Anak-anak ini dibagi ke kelas A dan kelas B. Di kedua kelas ini, anak diperlakukan berbeda. Anak di kelas A itu dipuji-puji, kalau ada yang nanya, gurunya perhatian, pokoknya guru-guru menganggap anak-anak kelas A itu anak yang pintar! Sebaliknya, anak di kelas B dibodoh-bodohin. Kalau ada yang nanya karena nggak ngerti, malah dimarahin. Akibatnya, nilai akhir mereka jauh berbeda. Nilai anak kelas A bagus, nilai anak kelas B buruk sekali! Apa yang salah? Pengajarannya! Gurunya!

Berarti guru itu berpengaruh banget, ya? O, iya, dong! Seperti salah satu judul buku: “Dengan Pujian, Bukan Kemarahan (2010): Rahasia Pendidikan dari Negeri Sakura”. Kalau ada yang mau baca review tentang bukunya, bisa klik di blognya temen saya, di sini.

Intinya ya kalau mengajar anak itu jangan dimarahi. Anak itu butuh dihargai supaya potensinya berkembang. Sangatlah buruk kalau ada guru yang menganggap anak itu bodoh atau kurang pintar sehingga ia enggan atau tidak mau mengajarinya. Kalau gurunya menganggap seorang anak itu anak bodoh, maka jadilah dia bodoh beneran! Nah, sama dong dengan guru di SMP Negeri *tit* itu, yang beliau menganggap siswa KMS itu bodoh *eh malah dianggap virus lagi siswa KMS nya! Kasihan amat kau nak disia-sia di sekolahan itu*. Lah kalau satu-dua orang guru aja yang menganggap demikian, sih nggak apa, minimal masih ada guru yang lain yang tidak menganggap demikian. Kalau sebagian besar guru menganggap begitu? Ya bener deh anak KMS tetap bodoh atau malah jadi lebih bodoh.

Ada lagi cerita lho kayaknya sih dari Pak Teje juga. Tapi aku lupa pastinya. Di sekolahan yang favorit banget, ada satu anak yang nilainya jauh di bawah rata-rata temannya saat ia mendaftar sekolah. Tapi lihat waktu kelulusan, dia jadi nomer satu se-sekolahan!

Rahasianya apa? Ya jelas karena gurunya tidak membeda-bedakan. Ternyata anak itu juga punya potensi kan? Ternyata anak yang semula ‘dianggap’ terbelakang juga bisa berprestasi, kan?

Sebagai penutup, aku mau cerita lagi masa aku sekolah dulu. Dulu waktu sekolah, angkatanku juga diperlakukan seperti kelas A dan B yang aku ceritakan di atas. Ada kelas yang diagung-agungkan oleh para guru. Siswanya dianggap pintar, tenang, kalem, cerdas, tangkas, dan lainnya. Sayangnya kelas itu bukan kelas saya. Kelas saya adalah kelas B, yang mana gurunya menganggap warga di kelas saya adalah warga kelas dua.Anak-anak di kelas saya dianggap kurang pintar dan sebagainya. Kalau ada anak yang menonjol atau pintar di kelas saya, langsung anak tersebut dipindahkan ke kelas A. Alasannya supaya anak tersebut lebih berkembang dan tidak tertular virus-virus anak-anak kelas saya. Saya waktu itu jengkelnya setengah mati sama guru-guru sekolahan saya. Warga kelas saya dan kelas A memang berbeda, tetapi bukan berarti warga kelas B itu bodoh. Kami cuma berbeda. Ya, berbeda. Itu saja. Seandainya para guru lebih memahami…

Tapi kisah saya ini belum berakhir begitu saja. Sebab masing-masing dari warga kelas A maupun B sekarang sudah pada berubah dan banyak pengaruh di luar sekolahan. Entah pengaruh baik atau buruk! 🙂

Sebagai penutup tulisan saya, saya cuman berharap Pak Guru sekolahannya adek saya SMP Negeri *tit* tadi yang disebutin di Kompas Yogya tanggal 24 Mei 2010  ini bisa sadar alias tobat. Juga buat rekan-rekan gurunya di SMP Negeri *tit* . Mungkin juga buat guru-guru lainnya atau calon guru, agar nggak mendiskriminasi anak. Semua orang itu berhak atas pendidikan. Semua orang pun pada dasarnya adalah cerdas, sekalipun dia ada kelainan. Yang penting bagaimana cara mengembangkan potensinya aja dan cara mengajarnya yang cocok  supaya anak dapat berkembang!

Iklan

8 thoughts on “Go to Hell ….. pelajar KMS?

  1. wow pak tije..beliau msh ngajar di smp kita ga ya?
    haha anyway pro dan kontra jg sih ttg KMS. yg saya dgr dari adekku sih dgn kehadiran mereka juga mempengaruhi atmosfer belajar dikelas juga. kalo mereka rajin ya atmosfernya pasti lebih kompetitif, tp kalo mereka agak malas2an ya gt lah jadinya. dan tgs guru kali benar2 di uji ditambah dgn adanya murid KMS, guru sharusnya bisa menciptakan suasana belajar yg menyenangkan kali ya biar murid2nya seneng belajar. jadi sekolah tu bukan cuma kewajiban bagi murid tp karena mereka happy untuk belajar. bukan belajar dgn terpaksa. makanya kesejahteraan guru seharusnya diperhatikan biar mereka lebih termotivasi mengingat tugasnya yg berat itu.

    **haha malah puanjang gini nulisnya 🙂

    • masih tik.. pak teje masih ngajar kok.. hehhe. coba aja search namanya mesti nanti nemu email dan juga nomer hapenya.
      iya sih KMS mungkin emang beda ama anak-anak sekolah lainnya soalnya kan emang pake kuota.. tapi ya itu tadi… harusnya gurunya ngga ngebedain juga.. yahh,, yg di Kompas itu kan SMP negeri *tit* juga sekolahannya adekku jg sih.. klw sekarang, SMP negeri mash gratis jg sih, jadinya KMS ato ngga ya sama2 gratis .. tapi cuma mungkin bedanya emang kualitasnya aja……..
      iya mgnkin jg gurunya hrus dikasih gaji yg sepadan………………….

  2. klasik ya, dimana-mana pasti ada guru yang “pilih kasih” bahkan ada guru yang sangat memperhatikan murid yang sering kasih “sogokan” berupa barang atau uang (pengalaman nyata tapi aku gak nyogok). ya memang keberhasilan murid itu gak mutlak dipengaruhi guru juga tapi dari kemampuan siswa. bukannya yang namanya guru itu bener-bener untuk “mendorong” siswanya,benar2 mendorong dan mengajar agar muridnya berhasil ? beda dengan dosen yg biasanya hanya jadi batu loncatan saja. KMS kok malah dianggap virus, bolehlah sebagian dari mereka mmg kurang, tapi harusnya itu jadi motivasi guru biar jadi lebih kreatif. hidup pendidikan indonesia!

    • iy memang.. oo ak baru tau nek ada guru yg mau disogok gitu (g pnh nemu pengalaman ky gitu sih hehe).
      harusnya sih guru emang mendorong siswa.. namanya pendidikan tu semua orang berhak untuk mendapatkannya. nggak boleh guru itu berpikir bahwa pendidikan harus mahal. ilmu harus mahal. ilmu ada di mana2. pendidikan jg ada di mana2. semua orang berhak mendapatkannya. dg ilmu seseorang dapat mengubah nasibnya mjdi lebih baik. kalau guru malah menghalangi murid untuk mendapatkn ilmu, berarti guruny yg salah.

  3. ya ga gurunya terus yang disalahkan.. muridnya juga harus ikut tanggung jawab, dah berani daftar di sekolah favorit, murid juga harus rajin belajar dan harus bisa mengikuti pelajaran di kelasnya.
    tapi kemaren sempat denger kalo murid pemegang KMS memilih sekolah favorit di pilihan terakhir, kayaknya sih buat iseng2, tapi malah katrima di sekolah favorit itu..

    • yg saya tekankan di sini adalah pandangan gurunya terhadap siswa2 KMS. plng ga, gurunya jangan pnya streotip negatif tentang siswa KMS. klw gurunya dah pnya streotip negatif, gimana jadinya siswanya? pasti dia jg gak berkembang…

      y kalau siswa sih emang harusnya dia udah dapat fasilitas KMS itu ya rajin belajar… apalg klw daftar di skolahan favorit yg rata2 kemampuan anknya waktu masuk sekolah tsb juga udah tinggi…..
      klw di sekolahan adek saya sih,, masih digratisin untuk seluruh siswa, baik itu kaya/miskin. jadi asalkan dia pinter dan bs masuk sekolah tsb y te2p gratis bayarnya. itu untuk siswa normal/reguler, kalo KMS udah ada kuotanya ada sendiri, jdi ga perlu bersaing dg siswa2 yg lainnya jg..
      tapi ada jg sih siswa KMS di sekolahannya adekku yg ga naik kelas… 2 orang ga naik kelas , 2-2nya siswa KMS….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s