I am (Not) a Good Leader


Mungkin memang ada orang yang senang jadi pemimpin, tetapi ada juga orang yang senang jadi bawahan. Enak mana, emangnya? Haha! 😛

Sesungguhnya bawahan yang baik, ketika ia menjadi pemimpin maka ia menjadi pemimpin yang baik pula.

Sekarang, saya menyadari bahwa saya bukanlah orang yang tepat untuk memimpin. Kenapa begitu?

Saya tipe orang yang pengoreksi. Saya tahu apa-apa yang menjadi dasar, tujuan, prinsip sebuah organisasi. Saya tahu apa yang harus dicapai, apa yang harus diselesaikan, apa yang harus didahulukan, dan lainnya. Saya mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang saya inginkan. Saya pun terbiasa kros-cek ke akar rumput. Misalnya bawahan saya si A, B, C. A punya anak buah A1, A2, A3. Ketika ada permasalahan atau ada proyek yang menjadi tanggungjawab divisi 1 yang dikepalai oleh A, saya akan mengecek kinerja A1, A2, A3 melalui A. Dan saya akan mengecek kinerja A melalui A1, A2, A3. Seringkali kalau tidak dicek, terjadi ketidakselarasan dan menyebabkan kekacauan dan bisa jadi saling tuduh.

Tetapi masalahnya, saya kesulitan untuk mengkoordinasikan orang. Entah kenapa, yang namanya mengkoordinasi sekumpulan manusia, terlebih jumlahnya banyak, sangatlah sulit bagi saya. Ketika saya maunya si A berhubungan langsung dengan si B, rasanya kok susah. Si A nggak ngertilah, si B yang kurang paham, dan alasan lainnya. Padahal, kerangka berpikir saya itu, misalnya dari A harus ke B, lalu C-D-E-F-dan seterusnya. Maka, kalau misalnya ada yang macet di satu jalur, ini menyulitkan. Di otak saya pun jadi ruwet kalau misalnya si A harus gini, si B harus gitu, dan C nanti begitu, dan lainnya. Saking ruwetnya di otak saya, saya kurang mampu menjelaskan dengan baik mengenai tugas-tugas si A-B-C-D-E-F-dan kawan-kawan. Kekurangmampuan saya, menimbulkan kebingungan bagi orang lain, sehingga nanti jadi kebingungan massal. Ini baru masalah pemahaman tugas bagi bawahan. Belum lagi mengenai masalah si individu itu sendiri. Misalnya si A yang tugasnya ngaret bukan karena ketidakpahaman dia, tapi karena dia emang yang tidak disiplin. Nah, tambah susah lagi. Saya harus sering-sering mengingatkan ke orang-orang dan dengan metode pendekatan personal untuk mengatasi masalah pada individu itu sendiri (misal masalah ketidakdisiplinan).

Jadi tampaknya mungkin saya memang bukan pemimpin yang baik. Awalnya saya berpikir saya mampu menjadi pemimpin sekaligus menjadi pemimpin yang baik pula. Tetapi setelah saya jalani beberapa waktu, ternyata hal itu sangatlah berat.

Saya membandingkan ketika saya menjadi bawahan. Saat pimpinan saya salah, alpa, lupa, khilaf, saya akan mengingatkan hal itu pada dasar-dasar atau tujuan akhir bersama atau yang lainnya. Entahlah, saya dapat mengingat hal-hal yang kecil dan remeh, yang mana tak seorangpun yang mengingatnya sebelum saya mengatakannya. Pemahaman saya yang baik atas sesuatu hal dan kemampuan saya menjelaskan dengan baik, tak jarang membuat tujuan atau dasar melakukan sesuatu kembali ke arah yang seharusnya.Sebagai contoh, misalnya dalam suatu tugas, ada pemahaman pimpinan saya yang kurang pas, saya membenahinya kemudian kami semua mendiskusikannya dan menemukan solusi terbaik yang pas. Sehingga hal itu berdampak pada kualitas tugas  nantinya sesuai dengan kriteriayang seharusnya.

Berbeda ketika saya menjadi pemimpin. Saya juga sering alpa, lupa, dan khilaf. Celakanya, tak ada yang mengingatkan saya. Misalnya, ketika seharusnya sudah dekat deadline sesuatu hal, karena saya sibuk mengurusi hal yang lain, saya jadi lupa dan tidak segera mengingatkan anak buah. Anak buah saya pernah sih ada yang mengingatkan, tapi kok kesannya jadi saya yang bawahannya dia. Dia mengatakan seolah-olah mengecek kerjaan saya. Saya cenderung nggak suka kalau begitu. Sebagai contohnya, anak buah saya tanya, “Ma, suratnya udah dikirimin belum?” atau ,”Ma, kemarin sudah menghubungi Pak X belum?” Kalau dia bersikap begitu, seolah-olah kok dia itu yang jadi pimpinan saya. Kesannya jadi saya yang punya kewajiban mengirim surat atau punya kewajiban menghubungi pak X, yang mana setelah saya selesai melaksanakannya saya harus lapor pada dia.

Saya akui saya memang banyak kelemahan. Dengan karakteristik saya yang seperti itu, saya akui saya memang kurang cocok jadi pemimpin. Atau bisa dibilang saya bukan pemimpin yang baik. Lebih pas jika saya berada di balik layar atau sebagai bawahan. Jika saja saya menjadi pemimpin, saya mesti menemukan anak buah yang dapat melengkapi kekurangan saya. Ketika saya nggak menemukan anak buah yang tepat yang dapat melengkapi kekurangan saya, sementara saya sudah terlanjur menjadi seorang pimpinan atas sesuatu, lalu bagaimana? Jawabannya: Wallahu’alam

Iklan

4 thoughts on “I am (Not) a Good Leader

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s