Alhamdulillah!


Alhamdulillah. Kata yang simple. Tetapi sesungguhnya mungkin dapat dihitung jari berapa kali dalam sehari aku mengucapkan kata itu. Padahal, nikmat Tuhan yang manakah yang aku dustakan? Apakah lalu berarti aku kurang bersyukur karena kurangnya mengucap alhamdulillah? Mungkin ya.

Hari ini mungkin aku diingatkan oleh Allah melalui seorang teman. Temanku yang sangat agamis—mungkin.

Hari ini, aku main dengannya ke Solo (again). Ia berkali-kali berucap ‘Alhamdulillah’. Ia berucap syukur atas sesuatu hal yang seringkali kuanggap itu biasa atau sewajarnya terjadi. Misalnya saja, hari itu tidak hujan, ia berucap syukur. Padahal seminggu sebelumnya aku ketika aku Solo, aku hujan-hujanan seharian tetapi yang pertama kali mensyukuri nikmat cerahnya hari itu bukanlah aku, justru temanku. Kemudian saat di kereta api kami mendapatkan tempat duduk, ia lagi-lagi mengucap syukur. Minggu lalu ketika aku naik Pramex, aku hampir berdiri di sepanjang kereta. Tetapi yang mengucap syukur justru temanku, bukan aku dulu. Saat kereta api yang kami nantikan tiba tepat pada waktunya, lagi-lagi ia yang berucap syukur. Ketika aku berangkat naik kereta minggu lalu, aku mendapati keterlambatan kereta satu setengah jam. Mengapa lagi-lagi yang mengucap syukur adalah temanku, bukan aku terlebih dahulu.

Alhamdulillah. Barangkali aku sedang diingatkan melalui seorang teman. Ia mensyukuri bermacam-macam hal. Ia mensyukuri hal-hal kecil yang mungkin apabila itu tidak disyukuri, kadang-kadang kita mengeluh—walaupun begitu, aku jarang mengeluh, bisa dibilang aku jarang mengeluh tapi juga jarang bersyukur, semuanya kuanggap biasa-biasa saja—tetapi bila hal itu terjadi, kita tidak pernah merasa perlu untuk bersyukur.

Alhamdulillah. Terima kasih untuk temanku. Aku mungkin manusia yang sedikit sombong tidak mau bersyukur kepada Allah, walaupun sekedar mengucap alhamdulillah. Mengucap alhamdulillah saja tidak, bagaimana aku dapat memaknai nikmat Allah yang tiada tara?

Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Engkau mengingatkanku melalui seorang teman yang sangat baik. Engkau mengingatkanku dengan cara yang sangat baik pula. Alhamdulillah. Maka, hari itu pun aku belajar berterimakasih juga kepada seorang teman, sahabat, yang sudah kuanggap seperti saudaraku. Ia lah tempat aku menumpang kala aku pergi ke kotanya. Aku sangat berterimakasih kepadanya. Walaupun mungkin kemarin aku kurang dapat mengungkapkan rasa terimakasih kepadanya, hari ini aku berusaha memberikan sedikit ucapan terimakasih yang—barangkali—lebih bermakna. Terima kasih.

Alhamdulillah. Lagi-lagi aku bersyukur memiliki teman-teman yang baik. Aku sangat berterimakasih kepada mereka semua.



Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s