Solo, I’m Coming!


Berawal dari janji seorang teman yang hendak mentraktir jika hanya jika aku datang ke tempatnya sendiri, yaitu tempat tinggalnya di Solo. Sayangnya, temanku ini agak-agak iseng. Jadilah dia berkelit dengan segala macam cara agar aku membatalkan ke Solo. Mulai dari A-Z.. sampai capek (haha). Tapi pada akhirnya, ia mau juga dengan berkata yang pada intinya, “rame-rame aja, lima orang, nanti aku traktir.” Hore! Alhamdulillah. Hatiku melonjak kegirangan. Maka, aku ajaklah beberapa orang. Sayangnya 2 orang tidak bisa sehingga hanya aku dan temanku, Ika pergi ke Solo. Yang dibingungkan lagi adalah: transportasi setelah sampai Solo. Aku dan  Ika naik pramex (prambanan Express) dari Jogja, turun di stasiun Balapan. Nah, jalan-jalan di Solo naik apa? Tidak ada mobil. Aku dan Ika tidak bawa motor. Temenku tidak tahu jalur bis, selain itu bis dilarang memasuki wilayah kota. Tidak ada teman juga yang bisa diajak yang sekaligus meminjamkan motornya (haha). Akhirnya dengan segala kebaikan hati temanku ini, ia mencari pinjaman motor di tempat saudaranya.

Oke. Itulah yang menjadi pembahasan sebelum aku dan Ika berangkat pada hari Minggu, 24 Januari 2010. Maka, pagi-pagi itu, aku dan Ika berangkat ke stasiun Tugu Yogyakarta naik motor. Kami tiba di stasiun pukul 8.30 tepat pengumuman keberangkatan kereta menuju Solo. Sayangnya, begitu kami menunggu beberapa menit di peron, terdengar pengumuman yang mengatakan bahwa kereta tiba pukul 10.00. Aku dan Ika Cuma terpana dan kami otomatis mematung di stasiun tiada pekerjaan yang dapat dilakukan selain ngobrol ngalor-ngidul, sms-an, facebook-an (lewat hape—Ika).

Saat kereta tiba—wow—kami segera naik kereta, berebutan tempat duduk dengan banyak orang yang menunggu pramex datang. Maklum, hari minggu seperti itu, pasti penumpang pramex meningkat. Akhirnya kami berdiri selama kurang lebih 1 jam.

Hari sudah agak menjelang siang saat kami tiba di stasiun Solo Balapan. Teman kami yang di Solo menyuruh kami turun di stasiun itu sebab dekat dengan rumahnya. Langsung setelah kami turun dari kereta, aku menelpon teman kami. Rupanya ia masih di rumah. Baiklah, jadi kami menunggu dia di depan stasiun, duduk dengan muka yang pasti sudah cukup kusut. Beberapa menit kemudian, temanku datang dengan motor vario ungunya. Aku dan Ika berboncengan naik motornya, lalu ia naik ojek. Kami menuju rumah saudaranya sekarang, untuk meminjam motor.

Saudaranya sempat bertanya pada kami, mau ke mana kami? Tapi kami Cuma menjawab sambil senyam-senyum, tergantung teman kami si tuan rumah sekaligus tour guide membawa kami.

Setelah meminjam motor, tujuan awal adalah ke Serabi Notosuman. Tetapi tiba-tiba temanku memberhentikan motornya di tengah jalan, lalu menoleh pada kami. Ia mengajak makan soto gading saja. Well, aku dan Ika Cuma menurut saja.

Soto gading adalah rumah makan, yang tentu saja menyajikan makanan utama berupa soto. Ada dua macam soto: soto ayam dan soto daging. Masing-masing soto diberi pilihan pisah atau campur. Pisah: dagingnya dipisah sehinga lebih banyak. Kalau soto campur ya seperti soto biasa-lah. Ada berbagai macam menu tambahan sebagai teman makan sate dihidangkan, yaitu sate jeroan, tempe goreng, sate ayam, bakwab, tahu, lumpia, kerupuk. Minuman yang ada standar, teh, jeruk, degan (kelapa muda), coffemix, air putih, teh botol. Aku memilih (tentu saja) es degan. Es degan cukup lezat dengan sirop dan juga es serut (bukan es batu). Hmmm..!!!

soto gading

soto

Setelah dari Soto Gading, kami bertiga tak lupa untuk menunaikan sholat dhuhur. Kami sholat dhuhur di masjid bertingkat di pinggir jalan, yang persis bersebelahan dengan gereja. Tapi aku kurang tau daerahnya apa namanya. Setelah sholat, hujan mulai rintik-rintik terdengar. Temanku menyarankan buru-buru segera ke tempat Serabi Notosuman sekalian berteduh. Maka, batal deh aku memotret mesjid itu…

Di Serabi Notosuman, tempatnya lebih mirip jualan oleh-oleh. Seperti jualan bakpia. Beli satu kotak isi 10. ada dua macam serabi: cokelat dan polos. Dua-duanya sama-sama enak!

serabi

serabi cokelat

Hujan cukup deras mengguyur siang itu, maka kami berteduh sebentar di toko Serabi. Temanku yang tidak membawa mantel, sempat mencari mantel di toko sebelah Serabi, tetapi sayangnya toko itu tutup. Alhamdulillah hujan pun reda, maka kami pun segera jalan lagi.

Kami menuju PGS (Pusat Grosir Solo), mall setengah pasar. Kata temenku, jalan-jalan dulu biar lapar, nanti makan lagi. Baiklah, kami pun sempat jalan-jalan muter-muter tidak jelas di sana. Sebenarnya kami tidak niat belanja. Maka, sebentar saja kami jalan-jalan, aku mengajak kedua temanku naik ke lantai tiga, tempat foodcourt-nya. Sayang seribu sayang, stand di foodcourt tidak banyak yang buka. Akhirnya kami Cuma minum juz saja di sana, lalu Ika mengajak ke pasar Klewer. Padahal aku sebenarnya ingin sekali ke Galabo. Galabo itu tempat pedagang kaki lima biasa menggelar dagangan dari sore hingga malam. Karena tempatnya terbuka, maka kalau hujan langsung bubar. Siang itu, beberapa pedagang kaki lima, di sepanjang trotoar di Galabo sudah terlihat membuka lapaknya. Beberapa orang juga tampak sedang jajan di sana.

galabo

galabo difoto dari lt.3 PGS

Kami langsung turun dari PGS dan menuju pasar Klewer. Barang-barang yang dijual di sini identik dengan yang dijual di PGS. Bedanya, harga di pasar Klewer lebih murah (tentu saja!). Baru sebentar kami berbelanja, sudah terdengar adzan ashar. Maka kami pun segera keluar dari pasar dan menuju masjid terdekat—masjid agung surakarta. Sedih sekali saat kami keluar dari pasar, pas hujan mengguyur deras-derasnya. Alhasil kami basah walaupun kami sudah pakai payung dan jarak antara masjid-pasar itu dekat. Setelah kami sholat ashar, tak lupa mengeringkan badan sebentar sambil menunggu hujan agak reda. Setelah hujan agak reda, aku—karena nggak mau rugi—berfoto-foto sebentar di halaman masjid. Apalagi ini masjid yang bersejarah. Arsitekturnya mirip dengan masjid gedhe yogyakarta. Bedanya, masjid agung surakarta lebih luas untuk bagian putrinya, ada tempat dandan (disediakan cermin panjang dan meja kecil panjang) toilte lebih banyak, yang kesemuanya ada di dalam mesjid sehingga bila hujan tidak perlu khawatir wudhu sambil hujan-hujanan di luar mesjid.. hehe. Selain itu, ada menara di mesjid ini.

Setelah puas berfoto-foto (dengan payung. Haha. Karena hari masih hujan), maka kami hendak kembali ke depan PGS, yaitu Galabo.  Harap-harap cemas, semoga Galabo masih buka! Ah tapi sungguh amat disayangkan. Beberapa pedagan kaki lima di Galabo pada menutup lapaknya. Yah, mungkin karena hujan deras tadi, maka para pedangang langsung bubar. Yah… Galabo sudah bubar! L Ya memang sih saat itu masih hujan juga. Aku pun memakai mantel terus sejak itu.

Aku pun berkata pada temanku, sekarang pergi ke tempat makan siomay saja. Kata dia, ada tempat siomay yang lezat banget di dekat SGM. Maka kami pun segera ke sana. Menu yang tersedia adalah siomay dan batagor. Keduanya sama enaknya. Siomay nya sangat terasa ikannya dan empuk. Batagor nya juga enak. Bakwannya sungguh lezat dan gurih, tahu isi bakso nya juga enak! Tetapi, di atas semua itu, yang membuat semakin lezat dan yang paling terasa lezat adalah bumbunya! Saos kacangnya yang terasa legit.. hmmm…. Oya minumnya biasa saja: teh dan jeruk.

Sebenarnya, kami hendak makan nasi liwet setelah dari makan siomay&batagor. Tetapi lokasi nasi liwet itu agak jauh, sektiar 30 menit dari tempat siomay. Padahal, kereta pramex terakhir adalah pukul 18.45. maka waktunya dirasa tidak cukup. Kami pun Cuma ke rumah teman kami, satu orang lagi untuk sekaligus mengantar kami ke stasiun (untuk membawa motor temanku). Setelah dari rumah teman kami, kami mampir sholat maghrib di suatu mesjid (tidak tahu mesjid apa, tidak sempat foto-foto juga. Selain hujan, juga diburu kereta. Apalagi aku dan ika belum beli tiket!).

Tiba di stasiun balapan, aku dan ika segera turun dari motor dan membeli tiket. Kunci motor temanku aku kembalikan, mantel aku lepas begitu saja. Begitu aku dan Ika membeli tiket, lalu masuk peron, ternyata kereta yang kami tunggu-tunggu belum tiba juga. Akhirnya ada pengumuman bahwa kereta akan terlambat! Entah terlambat hingga pukul berapa. Pada akhirnya, para penumpang pramex ditumpangkan kereta sancaka yang menuju Surabaya. Lumayan lah naik kereta bisnis. Bayarnya pramex tapi dapatnya lebih. Hahaha! J

Maka, berakhirlah perjalanan ke Solo satu hari itu. Aku tiba di rumah sudah pukul 21.20 wow cukup malam. J

Lain kali aku akan kembali ke Solo ke tempat-tempat berikut ini: Waterboom Pandawa, Galabo, Nasi Liwet, Night Market. J

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s