A Letter For You

Aku tidak tahu apa yang ada di benakmu saat pengumuman presensi 75% tidak diberlakukan pada semester ini.

Menyesalkah kau mengusirku dari kelasmu?

Bagiku, aku amat sangat kecewa dan sedih. Kau saat itu seakan menutup kesempatan bagiku. Kau seolah tahu, bahwasanya tidak akan ada gunanya bila aku terus mengikuti kelasmu.

Kau telah berasumsi bahwa aku tidak akan ikut UAS, aku akan mendapat nilai E. Sehingga kau mengusirku, menutup pintu kesempatan bagiku.

Tetapi, siapa yang tahu masa depan?

Kau, maupun aku sama-sama tidak tahu.

Kau mengira aku akan gagal sehingga lebih baik berhenti daripada aku hanya menghabiskan waktu.

Kau mematahkan semangatku dengan mengatakan, “lebih baik kerjakan hal lain daripada mengikuti kuliah saya.”

Dapatkah kau pikirkan, seandainya kau ada di posisiku saat itu? Mahasiswa mana yang membangkang dan nekat tetap mengikuti kuliah setelah dosennya berkata demikian?

Tetapi sekali lagi, kau telah bersikap seolah tahu masa depan. Serta merta kau malah mengatakan bahwa aku tidak dewasa dan lainnya.

Sesungguhnya, apakah dewasa itu artinya bersikap seolah tahu masa depan? Dan apakah kekanak-kanakkan artinya adalah tetap mencoba dan berusaha meski sebagian besar orang mengatakan ia akan gagal?

Baik kau maupun aku, sama-sama hanya manusia biasa, yang tidak tahu apa yang akan terjadi di depan.

Siapa yang menginginkan Merapi erupsi?

Dan siapa yang akan mengira peraturan akademik berubah karenanya?

Aturan 75% kehadiran tidak diperlakukan lagi.

Kau tahu, aku masih punya kesempatan.

Tetapi saat itu, sudah selesai UTS. Akankah aku merengek padamu untuk UTS susulan? Aku rasa, kau pun akan menolak, sama seperti kau menolak kehadiranku dulu.

Andaikan, aku kemudian masuk lagi ke kelasmu, akankah nilai yang baik masih bisa aku harapkan?

Aku akui, bahwasanya mungkin ini bukan hanya kesalahanmu.

Andai waktu kau mengusirku, aku tetap melobi pada akademik atau pihak dekanat, mungkin masih bisa.

Tetapi sekali aku datang ke kantor akademik, aku tak berhasil menemui kepala akademik. Baru seminggu atau tiga hari setelahnya, aku bisa menemuinya. Sayang, satu pertemuan kuliahmu terbuang satu kali lagi.

Niatku surut. Semangatku pun surut.

Apakah kalau akademik mengijinkanku, kau pun demikian? Seandainya permasalahan ini dikembalikan lagi kepadamu (akademik mengijinkan) kau tidak mau dan tetap kembali pada aturanmu yang lama.

Atau, andai aku tetap ngotot masuk tiap pertemuan, dan mengerjakan tugas, juga mengikuti UTS, mungkin aku masih punya kesempatan.

Tapi sekarang hanya ada UAS.

Nilai apa yang dapat kau berikan untukku jika aku hanya mengikuti UAS?

Aku rasa, tak lebih baik dari nilaiku sebelumnya.

Tetapi, kesalahanmu terbesar adalah melemahkan semangatku, menutup kesempatanku, dan bersikap tahu masa depan.

Aku tahu, tak bisa menuntutmu apa-apa, karena semua sudah terlanjur.

Tetapi hendaknya kau belajar satu hal dari kesalahanmu.

Aku tak ingin kau ulangi perlakuanmu padaku dengan mahasiswa lainnya.

Cukup aku saja.

Akhir kata, aku hanya berdoa kepada Allah agar mengabulkan keinginanku sebagai ganti telah didzolimi olehmu.

Terimakasih telah membaca surat ini hingga akhir.

Semoga kau dapat berbenah di sisa usia hidupmu ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 281 pengikut lainnya.